
batampos – Sabu seberat 2 ton yang ditangkap Tim Gabungan diduga dikendalikan oleh warga negara Thailand bernama Cancai aluas Thomson. Untuk memasuki wilayah Indonesia, Cancai bekerjasama dengan buronan BNN RI, Dewi Astuti.
Diketahui, Dewi Astuti merupakan wanita asal Jawa Timur. Ia menjadi buronan karena menjadi pengendali narkoba jaringan internasional.
“Kita sudah kordinasi dengan BIN mencari Dewi di Kamboja dan sekitarnya. Dialah puncak jaringan ini,” ujar Kepala Badan Narkotika Nasional Republik Indonesia (BNN RI), Marthinus Hukom.
Selain melacak keberadaan Dewi, BNN RI juga tengah memburu gembong narkotika lainnya, Fredy Pratama. Fredy terendus berada di salah satu daerah di Myanmar.
“Fredy berada di wilayah Mynamar. Wilayah yang tidak bisa dikontrol, dan senjaata yang lengkap,” kata Marthinus.
Marthinus mengaku Indonesia sampai saat ini menjadi tujuan utama peredaran narkotika jaringan internasional. Sebab, dari data BNN RI, 33,3 juta warga Indonesia merupakan pengguna narkotika.
“Indonesia potensi pasar haram terbesar,” tegasnya.
Dengan besarnya potensi penyelundupan sabu ini, kata Marthinus, pihak bekerjasama dengan aparat penegak hukum lainnya.
“Komitmen kami memberantas narkoba. Kami nyatakan perang terhadap narkoba, demi generasi penerus bangsa,” ungkapnya.
Sementara Direktur Interdiksi Narkotika Bea Cukai (BC), R. Syarif Hidayat mengatakan Bea Cukai dalam 3 tahun ini berhasil menggagalkan hampir 20 ton narkotika.
Pada tahun 2023, BC menggaglkan narkotika sebanyak 5,9 ton, 2024 sebabyak 7,4 ton, dan tahun 2025 sebanyak 6,4 ton.
“Kementerian Keuangan berkomitmen mendukung pemberantasan narkotika oleh aparat penegak hukum di seluruh lintu masuk darat laut dan udara,” ujarnya.
Syarif menjelaskan dalam penindakan sabu 2 ton ini, pihaknya melakukan join investigation selama 5 bulan.
“Kerjasama ini komitmen bersama untuk menciptakan indonesia bebas narkoba,” katanya.
Ie mengaku akan terus berkolaborasi dengan instansi lainnya. Sehingga, Indonesia terbebas dengan pereedaran narkotika.
“Kami percaya apabila sindikat bisa berkolaborasi lintas batas, maka seluruh aparat penegak hukum bisa lebih kuat lagi,” tutupnya. (*)
Reporter: YOFI YUHENDRI



