
batampos – Tumpukan sampah mengular di sepanjang Jalan Seibinti hingga kawasan Seilekop, Kecamatan Sagulung, Batam. Sampah rumah tangga, limbah pasar hingga sisa material bangunan bercampur menjadi satu dan menumpuk di pinggir jalan, bahkan meluber hingga ke badan aspal sehingga mengganggu pengguna jalan yang melintas.
Pemandangan ini bukan hal baru bagi warga sekitar. Penumpukan sampah disebut sudah berlangsung lama dan hingga kini belum terselesaikan secara tuntas. Di sejumlah titik, sampah terlihat menggunung dengan panjang yang cukup jauh di sepanjang ruas jalan tersebut.
Selain merusak pemandangan, tumpukan sampah juga menimbulkan aroma tidak sedap yang menyengat. Bau busuk yang muncul dari sampah yang membusuk dikhawatirkan dapat mengancam kesehatan masyarakat sekitar, termasuk pengendara yang setiap hari melintasi jalur tersebut.
Andri, salah seorang warga Seibinti, mengatakan penumpukan sampah di kawasan itu sudah berlangsung lama dan setiap hari volumenya terus bertambah. Ia menyebut armada pengangkut sampah yang ada saat ini belum mampu mengatasi seluruh tumpukan yang ada.
“Sudah lama sampah ini menumpuk. Setiap hari terus bertambah. Armada yang datang tidak sanggup mengangkut semuanya,” ujar Andri.
Untuk mengurangi penumpukan dan bau yang menyengat, sebagian warga bahkan memilih membakar sampah. Namun cara ini justru memunculkan persoalan baru karena asap tebal dari pembakaran sampah sering kali menyelimuti kawasan tersebut.
Asap pembakaran sampah itu juga dikeluhkan warga karena berpotensi mengganggu kesehatan, terutama bagi masyarakat yang tinggal di sekitar lokasi. Apalagi titik penumpukan sampah di Jalan Seibinti berada tidak jauh dari kawasan pemukiman penduduk dan sekolah di sekitar kawasan Candi Bantar.
Kondisi serupa juga terlihat di kawasan Seilekop yang berada dekat galangan kapal. Di wilayah ini, tumpukan sampah hampir memenuhi sepanjang ruas jalan, menciptakan pemandangan yang kurang sedap dan membuat lingkungan terlihat kumuh.
Penumpukan sampah yang memanjang ini membuat sejumlah titik terlihat seperti tempat pembuangan sementara liar. Sampah yang meluber hingga ke badan jalan juga berpotensi mengganggu kelancaran lalu lintas serta membahayakan pengendara.
Wali Kota Batam, Amsakar Achmad, sebelumnya mengakui persoalan sampah masih menjadi tantangan besar di Batam. Saat bersilaturahmi dengan warga Sagulung dalam acara buka puasa bersama di kawasan Citra Kebun Sagulung belum lama ini, ia menjelaskan kendala pengelolaan sampah juga berkaitan dengan kondisi Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Telaga Punggur.
Menurut Amsakar, pengelolaan sampah di Batam sebelumnya menggunakan sistem open dumping yang kini dilarang pemerintah pusat. “Zona A di TPA tidak lagi boleh digunakan karena modelnya open dumping. Sekarang kita pindahkan ke zona B dan C,” ujarnya.
Ia menjelaskan, saat ini volume sampah di zona B dan C TPA Telaga Punggur sudah mencapai sekitar 7,5 juta ton dengan ketinggian tumpukan sekitar 20 meter. Kondisi itu membuat truk pengangkut sampah harus dibantu buldoser untuk bisa naik ke area pembuangan.
“Kadang satu mobil butuh waktu sampai dua jam untuk membuang sampah karena antrean panjang. Itulah sebabnya sering terlihat truk antre berserak di TPA,” katanya.
Pemerintah Kota Batam, lanjut Amsakar, juga sempat menggunakan dana belanja tidak terduga untuk membantu percepatan penanganan sampah. Ia meminta camat dan lurah memetakan titik-titik penumpukan sampah yang paling mendesak agar proses pengangkutan bisa dilakukan secara bertahap.(*)



