
batampos – Tumpukan sampah yang mengular di pinggir Jalan Sei Binti, Sagulung memicu keresahan warga. Sebab, tumpukan sampah itu menimbulkan bau menyengat dan pemandangan tak elok saat melintas di ruas jalan tersebut.
Pantauan pada Senin (23/3), sampah terlihat membentang lebih dari 100 meter hingga ke arah kawasan Horizon Dapur 12.
Limbah rumah tangga bercampur sisa aktivitas pedagang kaki lima berserakan di tepi jalan. Sebagian bahkan tampak dibakar oleh pihak tak dikenal, menimbulkan asap yang mengganggu jarak pandang pengendara.
Baca Juga: Warga Serbu Open House Lebaran Amsakar di Wisma BP Batam
Herman, warga Sei Binti, mengatakan tumpukan sampah tersebut diduga berasal dari orang-orang yang melintas dan membuang sampah secara sembarangan, terutama pada malam hari.
“Kadang ada orang lewat sambil melempar sampah. Jadi kita tidak tahu dari mana asalnya,” ujarnya.
Ia menjelaskan, kawasan tersebut sebelumnya merupakan lokasi tempat pembuangan sementara (TPS).
Namun, sejak pembangunan di sekitar Candi Bentar dimulai, fasilitas itu dipindahkan. Saat ini, warga hanya mengandalkan satu TPS di Kampung Bata yang berada di lahan milik pribadi dan dijaga pemiliknya.
Keterbatasan akses pembuangan ini membuat sebagian warga kebingungan, hingga akhirnya memilih membuang sampah di pinggir jalan.
Keluhan serupa disampaikan Randi, warga lainnya. Ia mengaku khawatir setiap kali melintas, terutama ketika sampah meluber hingga ke badan jalan.
“Selain baunya menyengat, kadang sampah juga dibakar. Kalau sampai ke jalan, sangat berbahaya, apalagi untuk pengendara motor,” katanya.
Baca Juga: Jelang Arus Balik di Bandara Hang Nadim, PT BIB Siaga Hadapi Lonjakan Penumpang
Terpisah, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Batam, Dohar Hasibuan mengakui lokasi di Jalan Sei Binti belum masuk dalam rute armada pengangkut sampah. Akibatnya, pengelolaan sampah di kawasan tersebut tidak berjalan optimal.
“Kami akan cek langsung ke lokasi dan mengupayakan penanganan serta pemindahan sampah tersebut,” kata Dohar.
Ia menambahkan, secara umum layanan pengangkutan sampah di Batam telah kembali normal pasca-Lebaran, dengan frekuensi dua kali dalam sepekan di sebagian besar wilayah.
Sementara untuk daerah dengan volume sampah lebih rendah, pengangkutan masih dilakukan satu kali dalam seminggu.
DLH menargetkan dalam dua bulan ke depan seluruh wilayah Batam dapat terlayani secara optimal oleh armada pengangkut sampah.
Pemerintah juga mengimbau masyarakat agar tidak membuang sampah sembarangan dan menyesuaikan dengan jadwal pengangkutan yang telah ditetapkan.
Di tengah keterbatasan layanan, persoalan klasik pengelolaan sampah kembali mengemuka diantara minimnya fasilitas, perilaku warga, dan kapasitas layanan yang belum merata. (*)



