
batampos – Persoalan sampah masih menjadi masalah serius yang belum terselesaikan di Kecamatan Sagulung. Penumpukan sampah terlihat di berbagai sudut wilayah, mulai dari tong depan rumah warga hingga menggunung di pinggir jalan utama. Kondisi ini menimbulkan keluhan luas di tengah masyarakat yang resah dengan dampaknya.
Tak hanya memunculkan aroma tak sedap, tumpukan sampah juga memicu masalah kesehatan dan gesekan sosial antar warga. Sebagian warga saling menyalahkan satu sama lain karena tidak disiplin dalam membuang sampah, padahal akar permasalahan terletak pada sistem pengangkutan sampah yang tidak berjalan maksimal.
Aldi, salah seorang warga, mengungkapkan alasan banyak warga memilih membuang sampah ke pinggir jalan. “Di dalam pemukiman itu kadang sampah gak diangkut berhari-hari. Akhirnya kami bawa keluar dan buang di pinggir jalan, karena kalau dibiarkan di depan rumah, baunya luar biasa,” ujarnya.
Aldi menambahkan, dirinya dulu merasa jengkel melihat warga lain membuang sampah sembarangan. Namun seiring waktu, ia mulai memahami penyebabnya. “Dulunya saya benci lihat orang buang sampah di luar, tapi makin ke sini jadi masuk akal. Karena kalau tidak dibuang ke luar, sampah numpuk sampai digantung di pohon depan rumah,” ungkapnya.
Penumpukan ini kian memperparah wajah kota dan berpotensi menjadi sumber penyakit. Sejumlah titik bahkan menjadi “TPS liar” karena warga menjadikannya tempat alternatif pembuangan. Ironisnya, sebagian tumpukan tidak segera diangkut oleh petugas kebersihan.
Camat Sagulung, M Hafiz, mengakui persoalan ini sebagai tantangan yang belum sepenuhnya teratasi. Menurutnya, keterbatasan armada pengangkut menjadi kendala utama dalam menjangkau seluruh wilayah padat penduduk secara merata. “Jumlah armada kita terbatas, apalagi Sagulung ini kawasan padat. Tidak semua tempat bisa dijangkau sekaligus,” katanya.
Meski demikian, Hafiz tetap mengimbau masyarakat agar tidak membuang sampah sembarangan, terutama di pinggir jalan. Ia berharap masyarakat tetap menjaga lingkungan sambil pihak kecamatan mencari solusi jangka panjang bersama dinas terkait.
Pihak kecamatan, lanjut Hafiz, tengah mengupayakan pengaturan ulang jadwal pengangkutan dan kemungkinan penambahan armada. Namun ia juga meminta peran aktif warga untuk turut menjaga kebersihan dan tidak menciptakan TPS liar di sembarang tempat.
“Kami juga akan coba tindak lanjuti laporan masyarakat dan melakukan evaluasi kawasan rawan tumpukan sampah. Tapi kami sangat butuh kerjasama semua pihak, karena soal sampah ini tidak bisa selesai hanya oleh pemerintah,” tambah Hafiz.
Masyarakat berharap masalah ini segera diatasi agar tidak terus menjadi polemik. Selain memperburuk estetika lingkungan, penumpukan sampah juga berpotensi menimbulkan penyakit dan mencoreng wajah kota yang seharusnya bersih dan sehat. (*)
Reporter: Eusebius Sara



