Senin, 26 Januari 2026

Sayur Mahal, Ikan Ikut Naik, Pedagang: Kami Serba Salah

spot_img

Berita Terkait

spot_img
Ilustrasi. Warga saat membeli sayuran di Pasar Botania I Batamcentre. Foto: Iman Wachyudi/ Batam Pos

batampos – Harga bahan pangan di sejumlah pasar tradisional di Batam terus merangkak naik. Cabai, sayur, hingga ikan segar mengalami lonjakan harga yang cukup tajam dalam beberapa pekan terakhir. Pedagang dan pembeli pun sama-sama mengeluh. Pasar jadi sepi, kantong makin tipis.

Di Pasar Vitoria, Nisa, pedagang cabai yang sudah belasan tahun berjualan mengaku pusing dengan kondisi ini. Harga cabai merah kini menembus Rp100 ribu per kilogram. Cabai hijau dan rawit pun ikut-ikutan naik. Tak hanya itu, bawang Jawa dan sayur-sayuran juga ikut naik.

“Kangkung aja sekarang Rp22 ribu per kilo, biasanya cuma Rp12 ribu. Bayam naik sampai Rp25 ribu. Mana berani ambil stok banyak, takut gak laku,” keluh Nisa, Kamis (18/9).

Fenomena serupa juga dirasakan di Pasar Sungai Harapan. Anwar, salah satu pedagang, mengaku kerap kehilangan pembeli gara-gara harga yang bikin geleng-geleng kepala.

“Banyak yang tanya, tapi begitu dibilang Rp25 ribu seperempat, langsung kabur. Padahal modal kami juga udah tinggi. Mau jual murah, rugi. Jual sesuai harga, pembeli kabur,” ungkapnya pasrah.

Kondisi makin pelik karena tak cuma cabai dan sayur yang mahal. Harga ikan segar, seperti tongkol, juga ikut naik. Dari yang sebelumnya Rp30 ribu, kini jadi Rp40 ribu per kilogram. Bagi masyarakat yang menggantungkan menu harian dari pasar tradisional, ini jelas memberatkan.

Para pedagang menduga cuaca buruk menjadi faktor. Hujan yang turun hampir setiap hari membuat pasokan terganggu. Barang dari luar daerah sulit masuk, dan yang masuk pun kualitasnya cepat menurun.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Batam, Gustian Riau, memastikan pemerintah daerah tidak tinggal diam. “Kami sudah gelar operasi pasar di enam kecamatan. Selain itu, Pemko Batam akan langsung ke Sumatera Utara untuk beli cabai dari sumbernya,” ujar Gustian.

Kerja sama dijalin dengan tiga daerah penghasil: Simalungun, Tapanuli Utara, dan Bandar Meriah. Tim Pemko dan pelaku usaha cabai dijadwalkan berangkat pada 18 September untuk memastikan pasokan lancar dan harga kembali stabil.

“Cuaca memang sangat berpengaruh. Kalau curah hujan tinggi, cabai cepat busuk, apalagi jarak tempuh ke Batam cukup jauh,” jelasnya.

Lonjakan harga ini berdampak langsung pada transaksi harian. Banyak pedagang mengurangi stok, khawatir barang tak laku. Sementara pembeli mulai memilih menekan konsumsi, bahkan menunda belanja.

“Kalau terus begini, pembeli makin susah, pedagang makin berat,” tutup Nisa.

Kini, semua mata tertuju pada langkah pemerintah. Masyarakat berharap, harga bisa kembali bersahabat di kantong dalam waktu dekat. (*)

Reporter: Rengga Yuliandra

Update