
batampos– SPPG Bengkong Laut 2 untuk sementara dihentikan aktivitasnya.Ini akibat dari MBG yang SPPG Bengkong Laut 2 produksi untuk sekolah MAN 2 Batam menyebabkan ratusan siswanya diare. Para siswa itu mengalami diare setelah mengkonsumsi dendeng menu MBG pada Selasa (11/11) lalu.
“Sppg-nya kita hentikan sementara untuk dievaluasi dulu,” kata Kepala SPPG Batam, Defri Frenaldi, Jumat (14/11).
Saat ditanya sampai kapan penghentian dilakukan, ia menjawab, “Sampai evaluasi selesai. Tidak ditentukan,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Sekolah (Kepsek) MAN 2 Kota Batam, Ernawati, menyampaikan kronologi ratusan siswanya yang mengalami diare usai menyantap menu Program Makan Bergizi Gratis (MBG) pada Selasa (11/11). Ia memastikan 235 siswa mengalami mencret dari total 648 siswa di sekolah tersebut.
Ernawati mengatakan MAN 2 mulai menerima program MBG sejak Juli lalu. Pada Selasa (11/11), sekitar pukul 12.00, siswa dan guru selesai salat lalu makan. Setelah itu kegiatan belajar mengajar dilanjutkan.
BACA JUGA: Sampah Menumpuk, DPRD Batam Minta Evaluasi Total
“Setelah sampai di rumah aman. Sampai jam 7 dan 8 malam baru ada wali murid yang lapor sakit perut dan mencret,” kata Ernawati, kepada Batam Pos diruang kerjanya pada Jumat (14/11) sore.
Sebanyak tiga siswa dibawa orang tuanya ke fasilitas kesehatan. “Yang dibawa ke UGD itu cuma tiga orang. Satu di Rumah Sakit Elisabeth, yang kedua di Klinik Nagoya. Dikasih obat dan disuruh pulang,” jelasnya.
Keesokan harinya, Rabu (12/11), tercatat 235 siswa tidak hadir. “Kami telepon orang tuanya satu-satu, ternyata masih sakit perut.
Mencretnya nggak ada lagi karena sudah dikasih obat,” ujar Ernawati. Beberapa siswa yang tetap datang namun masih sakit diberi obat di UKS sebelum dijemput orang tuanya.
Ernawati menegaskan sepertiga siswanya terdampak. “Yang kena cuma 235. Artinya sepertiga dari mereka itu kena diare,” katanya.
Ia menyebut usai kejadian itu pihak MBG, Puskesmas Tanjung Buntung, Polsek Bengkong, dan BIN mendatangi sekolah.
Menurutnya, pihak MBG dan SPPG telah menyampaikan permintaan maaf.
“MBG mengucapkan mohon maaf, dan siapa yang ke UGD ada akutansinya di-claim,” ujarnya.
Ia juga mengatakan Puskesmas memanggil siswa satu per satu untuk pendataan. Terkait dugaan penyebabnya, Ernawati mengaku mendapat keterangan dari dokter bahwa keluhan muncul usai siswa mengonsumsi dendeng.
“Dari keterangan dokter, anak-anak ini akibat dari makan daging dendeng. Dendeng ini enak kok. Ada anak yang makan dua porsinya, ada yang tiga. Pas malamnya baru melilit,” katanya.
Ia menambahkan kasus serupa pernah terjadi sebelumnya, meski jumlahnya sedikit. “Dulu juga pernah ada beberapa kena pas daging gini juga. Kami laporkan: kak kalau daging bentuknya begini MAN 2 tidak bisa. Atau orangnya tidak bisa masak daging. Sekali itu juga kena tapi hanya beberapa anak. Kalau sekarang lumayan banyak. Artinya kalau daging tidak boleh ke MAN 2,” ujarnya.
Menu pada hari selasa pasca kejadian terdiri dari sayur, tahu, buah, dan dendeng sapi. “Kalau indikasi di sayur tidak ada. Mungkin di dendeng. Anak-anak bilang dendeng itu rasanya keras, jadi tidak tahan,” lanjutnya.
Ernawati mengatakan pengantar MBG tidak datang sejak Kamis (13/11) karena tempatnya telah disegel. “Hari Rabu masih datang. Cuma satu kelas yang tidak mau, karena kelas itu anak-anaknya agak berduit, kelas menengah ke atas. Sudah dibekali orang tua dan uangnya ada untuk makan di kantin dan koperasi,” terangnya.
Pihak sekolah belum mendata berapa siswa yang tidak memakan MBG. “Yang pengen makan banyak silakan, gitu aja,” katanya. Ia juga menyebut sekitar 10 persen siswa di MAN 2 berasal dari keluarga kurang mampu, sisanya menengah ke atas.
Dari 235 siswa yang diare, hanya delapan yang tidak hadir pada Jumat (14/11). “Tapi kemarin dia hadir. Hari ini saya belum tanya apa indikasinya tidak hadir,” ujarnya.
Ernawati juga membantah istilah keracunan. “Dokter bilang keracunan, saya bilang tidak keracunan. Karena mencret! Tapi dokter bilang keracunan itu indikasinya salah satunya mencret, mual, muntah, sakit kepala. Ini cuma salah satu. Berarti kalau dugaan keracunan saya setuju, tapi kalau kalimatnya keracunan saya tidak setuju,” tegasnya.
Ia memastikan gejala yang dialami siswa adalah diare. (*)
Reporter: M Syaban



