
batampos – Sebelum tujuh unit ruko di Komplek Devin Premier, Kelurahan Tanjungriau, Kecamatan Sekupang, Kota Batam, ambruk Jumat (3/10), bangunan tersebut ternyata sudah mengalami retakan panjang di sejumlah bagian dinding.
Retakan dengan lebar hingga 2–3 sentimeter itu sudah terlihat jelas sejak lama, namun belum mendapat penanganan dari pihak pengembang.
Salah satu pemilik ruko, Nurkholik, mengatakan ia sudah pernah melaporkan kondisi tersebut kepada pengembang, PT Devin Buana Perkasa (DBP). Namun, hingga bangunan roboh, tidak ada langkah perbaikan yang dilakukan.
“Dari dulu sudah retak-retak. Saya juga sudah lapor ke developer tapi belum ada tindakan. Dari segi konstruksi memang kelihatannya kurang bagus,” ujar Nurkholik.
Baca Juga: Satpolairud Barelang Gagalkan Penyelundupan Ganja dan Miras di Perairan Batuampar
Ia mengaku mendapat kabar sekitar pukul 15.00 WIB bahwa rukonya ikut roboh. Saat tiba di lokasi, bangunan miliknya sudah hancur total bersama enam unit lainnya.
“Saya dikabari warga, langsung ke lokasi. Ruko saya sudah roboh total bersama yang lain. Ada tujuh semuanya,” katanya.
Menurut Nurkholik, retakan pada dinding ruko tidak hanya terjadi di satu titik, melainkan memanjang dari lantai bawah hingga ke bagian atas bangunan. Ia bahkan sempat mengkhawatirkan keselamatan penghuni sebelum insiden terjadi.
“Retaknya besar dan panjang, sampai tembus ke bagian dalam. Memang sudah mengkhawatirkan,” ujarnya.
Kapolsek Sekupang, Kompol Hippal Tua Sirait, membenarkan penyelidikan masih terus dilakukan untuk memastikan penyebab pasti keruntuhan tersebut. Ia memastikan tidak ada korban jiwa dalam kejadian itu, namun sejumlah penghuni mengalami kerugian material cukup besar.
“Penyelidikan masih berlanjut untuk memastikan penyebab keruntuhan. Kita sudah ambil keterangan dari beberapa saksi, termasuk pemilik ruko,” ujar Hippal.
Baca Juga: Proyek Mandek, Negara Rugi, Penyidik Kejar Akar Korupsi di Dermaga Utara Pelabuhan Batuampar
Pantauan di lokasi menunjukkan, bagian depan tujuh ruko tampak hancur total. Material semen, besi, dan bata berserakan di jalan, sementara kabel listrik menjuntai ke bawah. Rangka atap terlihat menggantung, dan pintu rolling door terlipat ke dalam akibat tertimpa reruntuhan.
Beberapa hari setelah kejadian, area ruko ditutup pagar seng bertuliskan “Dilarang Masuk bagi yang Tidak Berkepentingan.” Sejumlah material bangunan mulai diangkut, namun belum terlihat upaya perbaikan struktur secara menyeluruh.
“Katanya mau dibangun ulang, tapi sampai sekarang belum ada perbaikan. Material memang sudah diangkut, tapi strukturnya masih begitu saja. Kami khawatir kalau dibiarkan terlalu lama bisa roboh lagi,” ujar Alimin, warga sekitar. (*)
Reporter: Rengga Yuliandra



