
Di Batam ada sekolah vokal burung, salah satunya Sekolah Kicau Batam (SKB). Apa yang dipelajarinya?. Apa memiliki kepala sekolah? Atau ada guru selayaknya sekolah biasa?
FISKA JUANDA, Batam
Dari kejauhan, terdengar berbagai jenis kicauan burung, yang membawa seolah-olah berada di alam bebas. Meskipun lokasinya berada di tengah-tengah kawasan perumahan.
Semakin dekat, kicauan itu terdengar semakin kencang. Meskipun begitu, kicauan itu sangat memanjakan telinga. Suara kicauan tersebut, membuat hati terasa tenang.
Kicauan burung yang terdengar, ada yang nyaring, ada yang berat suaranya, ada juga sedang, ada juga yang pelan. Namun, setiap kicauan itu, ada iramanya. Irama kicauan burung itu terdengar indah dan nyaman bagi yang mendengarnya.
Begitulah suasana sekolah yang tak biasa di Kawasan Tiban Global, Sekupang. Namanya Sekolah Kicau Batam (SKB).
Di SKB, setiap burung menjadi “siswa”. Di sekolah ini mereka dituntut mendapatkan kepandaian baru. Salah satunya adalah menirukan suara burung lainnya.
Baca Juga: Harga Telur Ayam dan Cabai Keriting Kembali Naik
Kebanyakan “siswa” di SKB adalah burung jenis murai batu atau kucica hutan, dengan nama latin copsychus malabaricus. Burung ini memiliki corak warna yang mencolok. Bagian kepala, sayap dan sebagian di dadanya, berwarna hitam. Lalu, sebagian lagi dadanya berwarna orange cerah, ada juga yang berwarna oranye gelap.
Ciri khas lain dari murai batu adalah ekornya yang panjang dan meliuk. Begitu ia berkicau, ekornya pun ikut melenggak lenggok. Kicaunya yang nyaring dan gayanya yang anggun, menjadikan murai batu salah satu primadona bagi pecinta burung di Batam.
Tak heran, hampir setiap minggu ada lomba-lomba burung berkicau kelas murai batu. Setiap burung berlomba, selalu memperdengarkan suara-suara yang indah. Selain itu, sering kali murai batu memperdengarkan suara-suara burung lainnya.
Suara-suara yang ditiru murai batu dari burung lainnya ini, melewati proses bernama pemasteran. Saat proses ini, ada pehobi burung melakukan secara mandiri.
Namun, ada juga yang menyerahkan burung murai batunya ke sekolah-sekolah burung. Salah satu sekolah burung yang cukup eksis dan terkenal di Batam adalah Sekolah Kicau Burung (SKB) Tiban Global.
“Siswa” di SKB ini tidak hanya dari Batam saja. Tapi, juga dari berbagai daerah, seperti Bintan dan Lingga.
“SKB ini, baru setahun saya dirikan,” kata Pemilik sekaligus pengelola SKB, Andrey Xazovky.
Baca Juga: Lebihi Target, Kejari Batam Setor PNBP Rp 10,4 Miliar ke Kas Negara
Nama ini, terdengar sedikit seperti orang Rusia. Tapi, jangan salah, pria kelahiran 33 tahun silam itu, asli dari Tanjungpinang.
Kepada Batam Pos, Andrey bercerita tentang usaha SKBnya. Ia mengatakan, usaha ini berawal dari kecintaan dan hobinya memelihara burung.
“Awalnya itu saya, menyukai suara burung mata putih (kacamata atau pleci dari genus zosterops),” ucapnya.
Namun, lambat laun, kecintaan kepada burung jenis lain bertambah, salah satunya adalah murai batu.
Sebelum memiliki SKB, Andrey mengaku, sudah memiliki tempat peternakan burung murai batu. Usaha ini sudah dijalani sejak 2015 silam. Pasang surut usaha penangkaran murai batu ini, sudah dijalankan beberapa tahun.
“Dari usaha penangkaran ini, hasilnya tidak maksimal. Kadang jika cuaca lagi mendukung, semua telur murai batu bisa menetas dengan baik. Tapi, jika tidak ada, yah minim hasilnya,” tutur Andrey.
Sembari berberes-beres pakan murai batu, Andrey melanjutkan ceritanya, bahwa usaha penangkaran murai batu itu bermodalkan Rp 60 juta. Mulai dari burungnya, hingga pembuatan sangkar-sangkar penangkaran.
Usaha penangkarannya membuahkan hasil. Sehingga, Andrey mencoba membuka usaha Sekolah Kicau Burung.
Baca Juga: Sandang Status BLUD, SMKN 1 Batam Siap Tingkatkan Kompetensi Siswa
Peluang Sekolah Kicau Burung, kata Andrey sangat terbuka lebar. Ia mengatakan, banyak pecinta burung berkicau di Batam, tidak memiliki waktu merawat burungnya.
Namun, para pecinta burung ini, ingin burung dimilikinya bisa ikut kontes-kontes lomba kicau burung.
“Mereka biasanya pekerja-pekerja kantoran, tidak sempat merawat. Kami sediakan jasa perawatan dan pemasteran,” tutur Andrey.
Jasa perawatan dan pemasteran inilah jadi cikal bakal SKB. Sejak SKB berdiri setahun lalu, Andrey mengatakan, sudah puluhan murai batu atau jenis burung lainnya, bersekolah di sana.
Bahkan, tak jarang “siswa-siswa” SKB ini juara di berbagai ajang lomba berkicau.
“Mereka (pemilik yang pernah menyekolahkan burungnya di SKB) selalu mengirimkan saya video, burungnya menang lomba. Sebagai perawat, saya ikut senang. Usaha saya, mendidik, merawat burung itu membuahkan hasil,” tuturnya.
Berapa uang sekolah di SKB? Andrey mengatakan, tergantung dengan paketan yang dipilih pemilik burung. Biasanya, ia mematok mulai dari Rp 400 ribuan per bulannya.
Uang itu, ia pergunakan untuk membeli pakan burung. “Untuk murai batu, tidak hanya pakan purnya saja. Tapi, juga mulai dari jangkriknya, krotonya. Lalu, harus dimandikan serta dijemur,” tutur Andrey.
Ia mengatakan, saat ini ada sekitar 7 “siswa” SKB sedang transfer ilmu, dari berbagai burung masteran. “Burung masteran ini guru vokalnya murai batu. Ada jalak, kenari, kapas tembak, dan berbagai jenis burung lainnya. Totalnya ada 27 jenis burung. Suara guru vokal ini, nantinya diserap oleh murai batu. Harapannya, saat lomba suara-suara dari guru vokalnya ini, dikeluarkan,” tutur Andrey.
Saat proses pemasteran, murai batu yang merupakan “siswa” SKB dalam posisi ditutup kerodong. Sehingga, murai batu hanya mendengarkan suara-suara burung lainnya, tanpa melihatnya.Proses ini pemasteran, kata Andrey bisa sebulan, dua bulan atau lebih.
“Tergantung burungnya,” ujar Andrey.
Baca Juga: Terekam CCTv, Polisi Buru 2 Penjambret Turis asal Belanda
Sebagai pengelola SKB, Andrey mengaku, bekerja dari pagi hingga tengah malam. Proses pembersihan kandang, penggantian air, mandi, serta pemberian pakan, semua burung di SKB, menghabiskan waktu sekitar 3 hingga 4 jam.
“Saya bangun jam setengah 6, lalu kerja sampai 7 pagi. Antar anak sekolah, balik ke rumah. Lalu, lanjut melakukan perawatan,” ungkapnya.
Usaha Andrey ini, cukup membuahkan hasil. Meskipun baru berdiri setahun dan didirikan saat pandemi. Tapi, jutaan rupiah setiap bulannya mengalir ke pundi-pundi Andrey.
“Alhamdulillah, istri mendukung, keluarganya juga,” tuturnya.
SKB milik Andrey berada di lahan seluas 144 meter. Rumah yang berada di posisi hook itu, setengahnya untuk rumah ditinggali Andrey sekeluarga. Sedangkan, setengahnya lagi rumah untuk puluhan ekor burung berbagai jenis. (*)



