Gelaran Pekan Rasa Melayu di Hotel Santika Batam berlangsung meriah. Tak hanya menghadirkan bazar kuliner dan pentas budaya, acara ini juga mencetak sejarah baru—1.118 porsi ikan asam pedas cabai kering dimasak serentak dan meraih rekor MURI.

Reporter: M. Sya’ban
Siang itu, Jumat (24/10), halaman depan Hotel Santika Batam berubah menjadi lautan manusia. Di bawah deretan tenda putih, para pelaku UMKM dan pedagang kuliner sibuk menyusun sajian khas mereka.
Dari panggangan ikan hingga aroma rempah yang mengepul, semuanya berpadu dalam satu suasana: Pekan Rasa Melayu.
Di tengah hiruk pikuk bazar, wangi asam pedas menyengat hidung—seolah memanggil setiap langkah yang lewat. Inilah momen yang paling dinanti: pemecahan rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) untuk kategori “Masak Besar dan Terbanyak Ikan Asam Pedas Menggunakan Cabai Kering.”
Lima penari perempuan membuka acara dengan tari persembahan Melayu. Gerakan tangan mereka yang lentik berayun mengikuti irama musik tradisional, diiringi tepuk tangan meriah dari tamu undangan dan masyarakat yang sudah memenuhi halaman hotel.
“Acara ini bertepatan dengan ulang tahun ketiga Hotel Santika Batam. Kami ingin merayakannya sambil mendukung UMKM lokal agar mendapat manfaat dari kegiatan ini,” ujar General Manager Hotel Santika Batam, Sukardi, dalam sambutannya.
Suasana semakin hangat ketika Kepala BP Batam sekaligus Wali Kota Batam, Amsakar Achmad, naik ke panggung. Dengan gaya khasnya yang karismatik, ia menegaskan bahwa kuliner bukan sekadar soal rasa, melainkan juga identitas budaya.
“Asam pedas ini favorit saya. Kegiatan ini bukan hanya unik, tapi juga membumikan kuliner daerah,” katanya disambut tepuk tangan penonton.
Tak hanya bicara, Amsakar pun mencicipi langsung ikan asam pedas yang baru matang. “Enak betul,” ujarnya sambil mengacungkan jempol dan tersenyum puas.
Dari sisi ekonomi, Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Kepri, Arhienus, menyoroti pentingnya penggunaan cabai kering dalam kuliner Melayu.

Ia menjelaskan bahwa dalam empat bulan terakhir, cabai menjadi salah satu penyumbang inflasi utama di Kepri.
“Melalui kegiatan ini, kami ingin memperkenalkan penggunaan cabai kering sebagai ciri khas masakan Melayu, sekaligus menjaga stabilitas pasokan,” tuturnya.
Menurutnya, promosi kuliner seperti ini bukan hanya menggugah selera, tapi juga bisa membawa nama masakan Melayu seperti asam pedas dan ikan goreng cabai kering ke kancah nasional, bahkan internasional.
Di dapur terbuka yang menjadi pusat perhatian, Chef Roff dari Yogyakarta memimpin tujuh juru masak lainnya.
Dengan wajan besar di atas tungku panjang, mereka serempak mengaduk ikan asam pedas. Asap tipis mengepul, sementara aroma cabai kering khas Melayu menyelimuti udara sore itu.
Tak lama kemudian, perwakilan MURI, Andra, mengumumkan hasil akhir: bukan seribu, melainkan 1.118 porsi ikan asam pedas cabai kering berhasil dimasak serentak.
“Jumlah ini memenuhi kategori rekor MURI untuk masakan massal yang dapat dihitung. Layak dianugerahi rekor baru,” ujarya.
Sorak-sorai pun pecah. Panitia segera membagikan ribuan porsi asam pedas itu kepada masyarakat yang menunggu sejak siang.
Ada yang membawa satu porsi, ada pula yang pulang dengan empat kemasan sekaligus. Sebagian memilih menikmatinya di tempat, di tengah keramaian yang belum juga surut.
Piagam MURI kemudian diserahkan kepada perwakilan Bank Indonesia Kepri dan General Manager Hotel Santika, Sukardi.
Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Kepri, Said Sudrajat, menegaskan bahwa kegiatan ini bukan hanya soal kuliner, tetapi juga tentang membangun kebiasaan makan ikan di masyarakat.
“Kita ingin generasi mendatang terbiasa mengonsumsi ikan. Dengan begitu, ekonomi UMKM, sektor perikanan, dan pariwisata ikut tumbuh,” ujarnya.
Menjelang senja, aroma asam pedas masih menempel di udara. Tawa, musik, dan obrolan tentang rasa menggema di halaman hotel.
Dari wajan raksasa yang mendidih siang itu, Batam bukan hanya memecahkan rekor, tapi juga menegaskan jati dirinya sebagai kota dengan cita rasa Melayu yang tak tergantikan. (***)



