
batampos – Krisis air bersih masih menghantui warga Perumahan GMP RT 1 RW 4, Tanjung Sengkuang, Kecamatan Batuampar, Kota Batam. Sudah hampir satu tahun terakhir, aliran air ke permukiman tersebut bermasalah.
Debit air kerap mengecil, hanya mengalir pada jam-jam tertentu, hingga akhirnya mati total dalam 20 hari terakhir.
Salah seorang warga, Naza Maria, mengatakan dalam satu tahun terakhir air hanya mengalir pada malam hari, itupun dalam waktu yang sangat singkat. Sementara pada siang hari, air nyaris tidak pernah mengalir.
“Dalam setahun ini air cuma hidup malam. Siang mati. Kalau mati satu atau dua hari masih bisa kami maklumi. Tapi ini hampir dua bulan, hidupnya cuma jam tiga pagi, jam empat sudah mati lagi,” ujar Naza, Selasa (20/1) sore.
Baca Juga: Batam di Ambang Krisis Air Bersih
Kondisi tersebut memaksa warga menampung air sebisanya saat air mengalir. Bahkan, ketika air mati selama berhari-hari, warga harus bergotong royong mengambil air dari tampungan milik tetangga.
Menurut Naza, selama krisis berlangsung memang ada bantuan air tangki dari Air Batam Hilir (ABH). Namun distribusinya dinilai tidak merata dan kerap tidak sampai ke seluruh warga.
“Dalam sehari katanya ada empat mobil tangki, tapi airnya tidak sampai ke semua warga. Akhirnya kami tetap ambil air dari tampungan warga lain,” katanya.
Di RT 1 yang dihuni sekitar 60 kepala keluarga, warga hanya mendapatkan satu drum air sebagai penyangga darurat. Jumlah tersebut jauh dari cukup. Bahkan, ketika satu mobil tangki datang, warga terpaksa berebut air.
“Kami bertahan pakai air tampungan. Hampir setahun ini hidup kami bergantung dari air yang ditampung sendiri,” ucap Naza.
Baca Juga: Siklon Tropis Picu Angin Kencang, BMKG Ingatkan Gelombang Tinggi di Perairan Kepri
Menanggapi keluhan tersebut, Humas Air Batam Hilir (ABH), Ginda Alamsyah, menyampaikan bahwa pihaknya memahami ketidaknyamanan yang dialami warga dan menjadikannya sebagai perhatian serius.
Ginda menjelaskan, secara umum Kota Batam tidak mengalami kekurangan sumber air baku. Saat ini terdapat sembilan waduk, dengan tujuh di antaranya aktif beroperasi dan menghasilkan total produksi sekitar 4.200 liter per detik.
“Artinya, secara prinsip ketersediaan air mencukupi. Permasalahan utama bukan pada sumber air, tetapi pada sistem distribusi dan infrastruktur pendukung,” ujar Ginda. (*)



