Kamis, 22 Januari 2026

Siklon Tropis Picu Angin Kencang, BMKG Ingatkan Gelombang Tinggi di Perairan Kepri

spot_img

Berita Terkait

spot_img
Cuaca mendung yang disertai hujan terjadi di perairan Batuampar, Kamis (10/10). Saat ini gelombang dan arus laut cukup kencang selama musim angin utara. Masyarakat diminta berhati-hati saat beraktivitas di laut. Foto: Cecep Mulyana/ Batam Pos

batampos – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Kelas I Hang Nadim Batam mengeluarkan peringatan kewaspadaan cuaca maritim di wilayah Kepulauan Riau (Kepri). Peringatan ini menyusul masih aktifnya sistem siklon tropis di sekitar laut Filipina yang berdampak pada peningkatan kecepatan angin dan tinggi gelombang di sejumlah perairan Kepri, khususnya wilayah utara.

Kepala BMKG Stasiun Meteorologi Kelas I Hang Nadim Batam, Ramlan Djambak, mengatakan dampak siklon tersebut paling dirasakan di wilayah perairan Natuna dan Kepulauan Anambas.

“Siklon di dekat Filipina masih aktif meskipun bergerak menjauh. Dampaknya, kecepatan angin meningkat dan berpotensi menyebabkan tinggi gelombang laut, terutama di wilayah Anambas dan Natuna,” ujar Ramlan, Selasa (20/1).

Selain wilayah utara, BMKG juga mengingatkan potensi kondisi gelombang di sejumlah wilayah lain, seperti Bintan bagian timur dan Dabo Singkep, yang masuk dalam kategori perlu kewaspadaan.

Baca Juga: Pelunasan Biaya Haji Diperpanjang 4 Hari, Ini Jadwalnya

Sementara itu, untuk wilayah Batam, Karimun, dan Tanjungpinang, kondisi cuaca relatif lebih stabil. Namun demikian, masyarakat pesisir dan pelaku aktivitas laut tetap diminta waspada terhadap perubahan cuaca yang bisa terjadi secara cepat.

Ramlan menjelaskan, dalam beberapa hari ke depan, hujan di Kepri masih bersifat sporadis dan lokal. Hal ini dipengaruhi oleh adanya bibit siklon lain di wilayah utara Australia yang menyebabkan sistem cuaca saling berinteraksi dan membagi massa awan hujan.

“Dengan adanya dua sistem siklon, pengaruhnya ke wilayah Kepri menjadi terpecah. Karena itu hujan masih ada, tapi sifatnya lokal dan tidak merata,” jelasnya.

Secara klimatologis, Februari sudah mulai memasuki musim kemarau. Namun untuk wilayah Kepri, hujan masih berpotensi terjadi meski intensitasnya tidak setinggi bulan-bulan sebelumnya.

“Untuk Kepri, meskipun sudah masuk periode kemarau, hujan masih tetap ada,” tambah Ramlan.

BMKG memprakirakan, pada Rabu (21/1), kondisi cuaca di Kepri umumnya cerah berawan hingga berawan. Meski demikian, masih terdapat potensi hujan lokal dengan intensitas ringan hingga sedang di beberapa wilayah.

“Kelembapan udara di lapisan atas cukup rendah, sementara kecepatan angin relatif kencang. Kondisi ini mengurangi pembentukan awan hujan, tetapi potensi hujan lokal masih ada,” jelasnya.

Baca Juga: Warga Nagoya-Jodoh Khawatir karena Kabel Semrawut, bahkan Sangat Dekat ke Jalan Raya

BMKG juga mengeluarkan peringatan dini cuaca maritim yang berlaku mulai Rabu (21/1) hingga Sabtu (24/1). Tinggi gelombang diprakirakan mencapai 1,5 meter (kategori sedang) di Perairan Selatan dan Utara Kepulauan Anambas, Perairan Anambas–Natuna, Perairan Natuna, Perairan Subi–Serasan, serta Perairan Bintan dan Lingga.

Pada 22 Januari 2026, tinggi gelombang di seluruh perairan Kepri diperkirakan meningkat hingga 1,8 meter (kategori sedang). Kondisi paling ekstrem diprediksi terjadi pada 23 Januari 2026, dengan tinggi gelombang mencapai 2,7 meter (kategori tinggi) di Perairan Utara Natuna dan sekitar 2,5 meter di perairan Kepri lainnya.

BMKG mengimbau nelayan, operator kapal, dan masyarakat pesisir untuk meningkatkan kewaspadaan serta menunda aktivitas pelayaran jika kondisi cuaca dinilai berisiko.

“Keselamatan harus menjadi prioritas utama. Kami minta masyarakat rutin memantau informasi cuaca dari BMKG,” pungkas Ramlan. (*)

ReporterYashinta

Update