
batampos – Proyek pelebaran jalan R. Suprapto, Batuaji, yang tengah berlangsung menjadi sorotan tajam warga. Pekerjaan konstruksi yang merambah dari Simpang Puteri Hijau hingga SP Plaza itu justru menyisakan masalah serius di dua titik penting: Simpang Barelang dan Simpang Basecamp. Ketiadaan lampu pengatur lalu lintas di kedua simpang tersebut dinilai menjadi pemicu kekacauan arus kendaraan dan meningkatnya risiko kecelakaan.
Hingga kini, hanya lampu peringatan kewaspadaan yang terpasang di dua simpang itu, yang dianggap tidak cukup dalam mengatur kendaraan dari berbagai arah. “Tanpa pengatur arus yang jelas, setiap hari rebutan jalan,” kata Suwardi, salah satu warga Batuaji yang resah dengan kondisi tersebut.
Sementara sebagian ruas jalan sudah selesai dikerjakan, sisanya masih dalam proses pelebaran menjadi lima lajur. Kondisi ini memperparah situasi lalu lintas, terutama ketika kendaraan harus melintas di antara alat berat, pembatas jalan sementara, dan tanpa pengaturan arus yang memadai.
Kondisi itu memuncak menjadi tragedi beberapa waktu lalu. Dalam selang dua hari, dua kecelakaan fatal terjadi di dua simpang tersebut. Seorang bocah sembilan tahun tewas setelah ditabrak truk molen di Simpang Basecamp. Di hari berikutnya, seorang ibu kritis usai bertabrakan dengan mobil pick-up di Simpang Barelang.
Warga juga menyoroti perilaku pengendara yang cenderung mengabaikan tata tertib lalu lintas, terutama saat jam sibuk pagi dan sore. “Kalau sudah jam pulang kerja, semua ngebut. Yang dari Tanjunguncang ke Muka Kuning dan sebaliknya saling salip tanpa aturan. Akhirnya sering senggolan atau tabrakan,” kata Sandro, warga lainnya.
Desakan terhadap pemerintah untuk menempatkan lampu lalu lintas atau petugas pengatur arus di simpang tersebut terus disuarakan. “Kami butuh solusi nyata, bukan sekadar rambu hati-hati,” ujar Yanti, ibu rumah tangga yang setiap hari melintasi simpang Basecamp untuk mengantar anak sekolah.
Kepala Dinas Perhubungan Kota Batam, Salim, sebelumnya menyatakan bahwa dua simpang tersebut memang tidak direncanakan dipasangi lampu lalu lintas, hanya lampu peringatan. Namun, fakta di lapangan menunjukkan bahwa pendekatan ini tidak cukup untuk menjamin keselamatan.
Warga berharap Pemerintah Kota Batam segera mengambil langkah nyata untuk mengatasi persoalan ini.
“Jangan tunggu korban berikutnya baru bergerak. Jalan makin lebar, tapi kalau nggak diatur, tetap jadi bahaya,” tutup Suwardi. Kini, perhatian publik tertuju pada bagaimana pemerintah menyeimbangkan pembangunan infrastruktur dengan keselamatan pengguna jalan. (*)
Reporter: Eusebius Sara



