Minggu, 18 Januari 2026

Ssstt, Hati – Hati dengan Perkataannya!

spot_img

Berita Terkait

spot_img

batampos – Pernah nggak sih punya teman yang suka berbohong? Sampai-sampai kamu nggak tahu kapan dia berkata jujur. Well, orang yang memiliki kecenderungan berbohong secara terus-menerus bisa mengarah pada gangguan jiwa, lho. It’s called mythomania! Istilah mythomania atau pseudologia fantastica kali pertama ditemukan psikiater asal Jerman Anton Delbrueck pada 1891.

Mitomania merupakan kondisi seseorang yang terdorong untuk mengatakan sesuatu yang nggak dapat dibuktikan kebenarannya secara kontinu. Berbeda dengan kebohongan umum, mitomania dilakukan tanpa alasan yang jelas dan muncul secara spontan. Karena itu, mitomania juga dianggap sebagai gejala penyakit kejiwaan individu yang dapat mengakibatkan masalah sosial.

Fadilah Hanapi – Psikolog

”Pada beberapa kasus, kondisi itu dipicu adanya keinginan untuk mendapatkan pujian atau penghargaan dari orang lain. Penderita akan menciptakan cerita yang nggak benar secara tidak sadar dan memiliki dorongan kuat untuk terus berbohong. Nah, ketika penderita mendapatkan respons positif atas kebohongannya, intensitas kebohongan itu justru makin kuat. Penderita juga semakin tidak bisa membedakan hal fiktif dan nyata dari apa yang diceritakan,’’ jelas psikolog Fadilah Hanapi.

Mitomania bisa disebabkan rentetan kegagalan yang dialami penderita. Saat mengetahui realitas nggak sesuai ekspektasi, mereka sulit menerimanya. Penderita menciptakan cerita baru yang diyakini sebagai kebenaran. Kondisi seseorang tanpa kehangatan dan kasih sayang dari keluarga atau memiliki gangguan psikologis bakal memperkuat terjadinya mitomania.

”Mitomania bisa dihilangkan secara berangsur. Caranya, mengikuti konseling dengan profesional atau mulai meningkatkan self-awareness untuk mendeteksi kebohongan. Pelajari diri lebih mendalam. Lalu, belajar berdamai dengan segala kekurangan diri serta mengembangkan potensi. Hindari membandingkan diri dengan orang lain, ya!” lanjutnya.
Eitss, kalau ada temanmu yang suka berbohong, jangan langsung dilabeli pengidap mitomania. Sebab, mitomania hanya bisa dide­teksi lewat pemeriksaan psikologis. Kamu bisa bantu menghentikan kebiasaan berbohongnya dengan berhenti memberikan respons yang memicu kebohongan lain. Berilah respons netral yang nggak membenarkan, mendukung, atau memperkuat cerita yang dipapar­kannya. Be aware! (arm/c12/lai)

 

” Sahabatku Suka Bohong, Pertahankan atau Tinggalkan? “

Reporter : Nazili Haqi
Editor : Agnes Dhamayanti

F. Dok Pribadi

Ahmad Dhani Aprizal
Universitas Ibnu Sina Batam
@daniiaprizal_

Menurutku, ketika teman berbohong coba cari tahu dengan orang lain yang dekat dengannya. Lihat dulu kebohongan apa yang dilakukan, kalau ketahuan melakukan white lies yang sederhana, kamu bisa melupakannya. Tapi kalau kebohongan yang tidak bisa ditoleransi, kamu nggak boleh tinggal diam. Jika memang dia sering berbohong, bisa juga sering dikaitkan dengan gangguan psikologis dimana dirinya sendiri percaya akan kebohongan yang dibuatnya itu sudah menjadi kebiasaan dan sulit untuk diubah. Di sini kita bisa menjauhinya pelan – pelan dan jelaskan secara kepala dingin kalau kita sangat terganggu dengan kebohongannya. (*)

 

F. Dok Pribadi

Muhammad Fariq Hidayatullah
Politeknik Negeri Batam
@mhmd_fariq

Dibohongi teman sendiri tentu menyakitkan, apalagi berkali-kali. Di titik inilah kita bisa memutuskan kita berhak mengambil keputusan. Apapun keputusannya, ajak bicara empat mata dengan teman yang suka berbohong ini, katakan bahwa kita tahu kebohongannya dan sangat kecewa. Jika malas berhubungan lagi dengannya, katakan dengan baik dan beri penjelasan bahwa kebohongannya telah mengacaukan hidupnya maupun hidup kita. (*)

 

F. Dok Pribadi

Norita Dwi Wulandari
SMKN 7 Batam
@nrtawlndr_

Pada dasarnya seseorang berbohong untuk melindungi dirinya sendiri atau orang yang dia bohongi. Berbohong sering dimulai dari hal sepele, dari rasa malu dan rasa tidak enak untuk menceritakan dan mengatakan sesuatu, ketika sahabat mengatakan kebohongan, jangan biarkan mereka meneruskan perkataannya. Lebih baik koreksi setiap kalimat yang mereka ucapkan ataupun tambahkan argumen dan bukti kalau apa yang mereka katakan tidak benar. Cara ini bisa membuat mereka kehabisan kata – kata dan tidak berani berbohong lagi kepadamu. Namun jika masih mau memberi kesempatan, maka maafkan kebohongannya dan tidak perlu diungkit lagi. (*)

Update