
batampos – Perekonomian Kota Batam menunjukkan kinerja yang semakin kuat sepanjang tahun 2025. Tanpa mengandalkan sektor minyak dan gas (migas), Batam mencatat pertumbuhan ekonomi sebesar 6,76 persen secara tahunan (year-on-year). Angka tersebut menjadi yang tertinggi di Provinsi Kepri sekaligus melampaui rata-rata pertumbuhan ekonomi provinsi dan nasional.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, pertumbuhan ekonomi Provinsi Kepulauan Riau pada 2025 berada di angka 5,88 persen. Sementara itu, pertumbuhan ekonomi nasional tercatat sebesar 5,11 persen.
Di tingkat provinsi, Batam juga menempati posisi teratas dibandingkan kabupaten dan kota lainnya dalam pertumbuhan ekonomi tanpa migas. Kabupaten Bintan mencatat pertumbuhan 6,43 persen, disusul Kabupaten Karimun 5,44 persen. Selanjutnya Kota Tanjungpinang tumbuh 3,31 persen, Kabupaten Lingga 3,53 persen, serta Kabupaten Kepulauan Anambas 2,87 persen. Adapun Kabupaten Natuna mengalami kontraksi sebesar minus 1,61 persen akibat dinamika pada sektor ekonomi tertentu.
Selain mencatatkan pertumbuhan tertinggi, Batam juga menjadi kontributor utama perekonomian Kepulauan Riau. Sepanjang 2025, kontribusi Batam terhadap total ekonomi provinsi mencapai 66,44 persen.
Pertumbuhan ekonomi tersebut ditopang oleh meningkatnya aktivitas industri pengolahan, sektor konstruksi, perdagangan, transportasi dan logistik, serta arus investasi yang terus menguat. Struktur ekonomi yang berbasis manufaktur, perdagangan internasional, dan jasa logistik menjadi fondasi utama penggerak ekonomi daerah.
Deputi Bidang Investasi dan Pengusahaan BP Batam, Fary Djemy Francis, mengatakan, capaian pertumbuhan tanpa migas tersebut menunjukkan bahwa perekonomian Batam semakin bertumpu pada sektor industri dan investasi.
“Pertumbuhan ekonomi Batam sebesar 6,76 persen tanpa migas menunjukkan bahwa mesin ekonomi Batam digerakkan oleh sektor-sektor produktif seperti industri manufaktur, perdagangan, logistik, serta investasi yang terus meningkat. Ini menjadi bukti bahwa Batam berkembang sebagai pusat industri dan perdagangan internasional yang semakin kompetitif,” katanya, Selasa (10/3).
Baginya, pengukuran pertumbuhan ekonomi tanpa migas memberikan gambaran yang lebih objektif mengenai dinamika ekonomi daerah.
“Sektor migas sangat dipengaruhi oleh harga energi dunia dan volume produksi, sehingga kerap menimbulkan fluktuasi yang tidak selalu mencerminkan aktivitas ekonomi lokal. Dengan melihat pertumbuhan tanpa migas, kita dapat melihat secara lebih jelas bahwa ekonomi Batam tumbuh karena kekuatan industri, perdagangan, dan investasi,” katanya.
Fary juga menyebut, bahwa posisi geografis Batam yang berada di jalur perdagangan internasional turut memperkuat daya tarik kawasan tersebut bagi investor.
“Batam memiliki keunggulan geografis dan ekosistem industri yang kuat. Kedekatannya dengan Singapura dan Malaysia, didukung pengembangan kawasan industri, infrastruktur, serta konektivitas logistik internasional, membuat Batam semakin menarik sebagai hub investasi dan industri,” ujarnya.(*)



