Rabu, 21 Januari 2026

Tarata Patisserie Hadirkan Konsep F&B Bernuansa Nusantara, Siap Ekspansi ke Mancanegara

spot_img

Berita Terkait

spot_img
Tarata Patisserie yang berada di Komplek Pasir Putih, Batamkota, tampil dengan konsep berbeda. Mengusung kekayaan budaya Nusantara sebagai identitas utama, brand ini tidak hanya membidik pasar lokal, tetapi juga menargetkan ekspansi ke mancanegara. Foto. Aziz Maulana/ Batam Pos

batampos – Di tengah pesatnya perkembangan industri food and beverage (F&B), Tarata Patisserie yang berada di Komplek Pasir Putih, Batamkota, tampil dengan konsep berbeda. Mengusung kekayaan budaya Nusantara sebagai identitas utama, brand ini tidak hanya membidik pasar lokal, tetapi juga menargetkan ekspansi ke mancanegara.

Owner Tarata Patisserie, Fariano Ong menjelaskan nilai budaya menjadi roh utama dalam setiap detail yang dihadirkan, termasuk pada desain kemasan produk.

Visual kemasan Tarata sarat dengan ikon-ikon khas Indonesia, seperti Candi Borobudur, tarian Pendet, Raja Ampat, motif batik, komodo, Jembatan Barelang, hingga gonggong ikon kuliner khas Kepulauan Riau.

“Tarata ini dirancang dengan menggabungkan seni dan budaya lokal. Kami ingin menghadirkan sebuah brand F&B yang mampu memperkenalkan budaya Nusantara, di tengah maraknya perkembangan industri, baik di tingkat lokal maupun nasional,” ujar Fariano, Jumat (16/1).

Ia menambahkan, konsep budaya lokal ini memang sengaja diusung sebagai strategi branding untuk pasar internasional. Brand Tarata, lanjutnya, telah ditargetkan untuk melakukan ekspansi dalam waktu dekat, tidak hanya di Batam, tetapi juga ke wilayah Uban, serta ke beberapa kota di Tiongkok seperti Fujian dan Quanzhou.

Dari sisi produk, Tarata Patisserie menghadirkan ragam menu yang cukup lengkap. Untuk makanan, tersedia hidangan bernuansa Nusantara, sarapan sehat, hingga menu English breakfast yang berpadu dengan aneka roti dan pastry.

Sementara untuk minuman, Tarata menawarkan kopi kekinian dengan sajian premium, serta minuman signature khas Nusantara berbasis rempah-rempah.

“Selama ini minuman yang beredar kebanyakan minuman milky dari luar. Di Tarata, kami mencoba mengolah rempah-rempah Nusantara secara tradisional, lalu dikemas secara modern dan komersial,” jelas Fariano.

Selain itu, Tarata juga fokus pada produk bakery, mulai dari roti, pastry, cake, hingga kue lapis tradisional. Menjelang perayaan Imlek, Tarata menyediakan hampers Imlek dan kue lapis yang sudah dapat dipesan sebagai bingkisan.

Tak hanya sebagai tempat bersantap, Tarata Patisserie juga dirancang multifungsi. Lantai dua dikonsep lebih kasual untuk anak muda yang ingin nongkrong atau bekerja, sementara lantai satu menghadirkan suasana elegan untuk tamu yang menginginkan pengalaman bersantap lebih eksklusif.

“Berbagai acara seperti kegiatan kantor, ulang tahun, hingga event lainnya juga dapat diselenggarakan, lengkap dengan dekorasi dan hidangan yang disiapkan,” katadia

Dari sisi harga, Fariano menegaskan Tarata tetap kompetitif dan bersaing dengan pasar. Produk roti dibanderol mulai Rp12 ribu, dengan kisaran harga rata-rata Rp26 ribu hingga Rp32 ribu. Untuk minuman, kopi dijual pada rentang Rp24 ribu hingga Rp28 ribu.

“Secara harga masih sangat standar seperti kafe-kafe pada umumnya,” katanya.

Untuk promosi, Tarata aktif memanfaatkan media digital melalui Instagram dan TikTok, serta dapat ditemukan melalui Google Review dan Google Maps.

“Jelang momen Imlek ini, kami juga menghadirkan hampers Imlek dan kue lapis yang sudah bisa dipesan,” tutupnya. (*)

Update