
batampos – Lonjakan harga cabai di pasar-pasar tradisional membuat ibu rumah tangga di Kota Batam harus memutar otak mengatur belanja dapur. Namun, harapan muncul saat Pemerintah Kota Batam melalui Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian menggelar operasi pasar khusus cabai di depan Kantor Lurah Belian, Kecamatan Batam Kota, Kamis (8/1).
Sejak pagi, warga tampak memadati lokasi untuk mendapatkan cabai dengan harga lebih terjangkau. Pantauan di lapangan, antrean warga didominasi kaum ibu.
Mereka rela menunggu demi mendapatkan cabai yang dijual dengan harga Rp50 ribu per kilogram, lebih murah dibandingkan harga pasar yang saat ini mencapai Rp60 ribu hingga Rp70 ribu per kilogram. Suasana pun tampak ramai, namun tetap tertib.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Batam, Mardanis, mengatakan operasi pasar ini merupakan bagian dari strategi Pemko Batam untuk meredam gejolak harga cabai yang terus naik dalam beberapa waktu terakhir.
Baca Juga: MBG Kembali Disalurkan di SDN 010 Batam Kota Usai Libur Dua Pekan
“Untuk mengatasi harga cabai yang melejit, Pemko Batam menyiapkan dua program utama. Yang pertama Cabai Corner, dan yang kedua operasi pasar khusus seperti yang kita lakukan hari ini,” kata Mardanis.
Ia menjelaskan, Cabai Corner dirancang untuk melindungi petani lokal agar hasil panennya tidak jatuh ke tangan tengkulak dengan harga murah. Dalam skema ini, pemerintah kota membeli langsung cabai produksi petani lokal, kemudian penjualannya dilakukan oleh Kelompok Wanita Tani (KWT) binaan dinas di wilayah masing-masing.
“Kalau ada petani panen 100 sampai 200 kilogram, itu kita ambil. Ibu-ibu KWT yang kemudian menjualnya di wilayahnya sendiri. Sistemnya COD. Jadi petani aman, harga terjaga, dan ibu-ibu KWT ikut berdaya,” jelasnya.
Selain Cabai Corner, Pemko Batam juga menggelar operasi pasar khusus untuk menjaga ketersediaan cabai harian, terutama saat produksi lokal belum mencukupi. Pada operasi pasar di Kelurahan Belian, sebanyak 200 kilogram cabai didistribusikan kepada masyarakat.
“Kalau di pasar harganya bisa Rp60 ribu sampai Rp70 ribu per kg, hari ini kita jual Rp50 ribu per kg. Ini bentuk intervensi pemerintah supaya masyarakat bisa bernapas,” ujarnya.
Untuk sementara, pasokan cabai dalam operasi pasar masih didatangkan dari Pulau Jawa. Hal ini dilakukan untuk menutup kebutuhan harian sambil menunggu masa panen cabai lokal yang belum berlangsung setiap hari.“Cabai lokal panennya tiga sampai lima hari sekali. Sambil menunggu, kita ambil dari Jawa agar setiap hari tetap ada pasokan dan penjualan,” kata Mardanis.
Baca Juga: Keluhan Warga Tanjung Sengkuang Memuncak, Amsakar Minta Distribusi Air Segera Dipulihkan
Ia menambahkan, operasi pasar akan digelar rutin setiap hari selama sepekan ke depan, dengan lokasi yang berpindah-pindah dan dijadwalkan merata di seluruh wilayah Kota Batam, menyesuaikan titik yang dinilai paling membutuhkan.
Antusiasme masyarakat, menurut Mardanis, sangat tinggi. Oleh karena itu, pembelian cabai juga dibatasi per orang agar lebih banyak warga yang bisa merasakan manfaatnya.
“Tadi kita lihat sendiri, sangat ramai. Kita batasi supaya adil. Ini untuk konsumsi rumah tangga, bukan untuk dijual kembali. Risikonya besar, bisa susut, busuk, dan rugi,” tegasnya.
Ke depan, Pemko Batam optimistis harga cabai dapat lebih stabil seiring meningkatnya produksi lokal. Saat ini, terdapat sekitar 15 hektare lahan cabai di Batam yang sudah mulai panen dan dikelola secara berjenjang.
“Panennya berkelanjutan sampai enam bulan ke depan. Setelah panen, langsung ditanam lagi. Jadi produksinya tidak berhenti. Mudah-mudahan ini bisa mengimbangi isu cabai mahal yang berkembang di masyarakat,” pungkas Mardanis.
Salah seorang warga Kelurahan Belian, Siti (42), mengaku sangat terbantu dengan adanya operasi pasar khusus cabai ini. Menurutnya, harga cabai di pasaran sudah cukup memberatkan belanja rumah tangga.“Kalau di pasar sekarang harganya bisa sampai Rp70 ribu. Di sini Rp50 ribu, lumayan sekali selisihnya. Sangat membantu kami ibu-ibu,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Yuliana, warga lainnya. Ia berharap operasi pasar seperti ini bisa digelar lebih sering dan menjangkau kelurahan lain di Batam.“Semoga tidak cuma hari ini saja. Kalau bisa sering-sering, karena cabai ini kebutuhan sehari-hari. Kalau mahal, kami yang susah,” katanya. (*)



