Ketika kecemasan orangtua bertemu dengan inovasi, lahirlah harapan baru bagi generasi muda. Telkomsel lewat Jaga Cita menghadirkan bukan sekadar koneksi digital, tapi jembatan menuju masa depan yang lebih cerah.

Jarum jam menunjuk pukul satu siang. Jumat, 17 Oktober 2025 lalu. Udara lembap siang itu menyelinap masuk ke ruang kelas 9H SMP Negeri 12 Batam.
Di dalamnya, beberapa orangtua duduk rapi di bangku siswa, berhadap-hadapan dengan papan tulis yang masih berjejak sisa goresan tinta spidol pelajaran pagi.
Saya salah satunya.
Di depan kelas, seorang guru pria berdiri. Suaranya menembus kesunyian yang tiba-tiba terasa berat.
“Bapak dan Ibu, mohon perhatikan anak-anak kita. Hasil simulasi Tes Kemampuan Akademik (TKA) masih banyak yang nilainya rendah,” ujarnya dengan nada hati-hati, seperti sedang menimbang perasaan para pendengar.
Ruang kelas yang semula ramai mendadak senyap. Hanya suara kipas angin berderit pelan di langit-langit kelas.
Dalam diam itu, saya merasakan jantung saya berdetak lebih cepat. Jangan-jangan, anak saya termasuk di antara yang nilainya menurun.
“Nilai TKA ini bisa jadi acuan sekolah lanjutan untuk menerima atau tidak anak Bapak-Ibu. Jadi, mohon arahkan mereka agar lebih giat belajar,” lanjutnya.
Satu per satu nama dipanggil. Di meja depan, tumpukan hasil ujian menunggu untuk dibagikan.
Kertas-kertas itu seperti cermin kecil yang memantulkan cemas dan harapan para orangtua. Garis merah, tanda salah. Garis centang, tanda benar.

Ketika nama anak saya disebut, saya melangkah ke depan. Di atas meja, selembar kertas disodorkan. Saya menandatangani bukti penerimaan, lalu keluar kelas dengan langkah yang terasa lebih berat dari biasanya.
Baru di parkiran, saya membuka lembaran kertas berisi hasil ujian itu. Bahasa Indonesia: bagus. Matematika: di bawah harapan.
Saya terdiam. Bukan kecewa, tapi cemas. Ujian sebenarnya semakin dekat, sementara waktu belajar anak saya terasa semakin sempit. Sekolah dari pagi hingga sore, lanjut hafalan Tahfiz hingga jelang Magrib.
Saya yang bekerja di malam hari pun jarang punya waktu untuk menemani. Dalam hati saya tahu, mencari tempat les tambahan tak akan mudah.
Maka malam itu, ketika semua sudah tidur, saya berselancar di layar ponsel, mencari sesuatu, apa saja yang bisa membantu anak saya belajar lebih baik.
Hingga akhirnya, saya menemukan harapan dalam bentuk sederhana: Telkomsel Jaga Cita.
Sebuah program yang didedikasikan untuk menghadirkan pendidikan yang adaptif dan inklusif bagi siapa pun, di mana pun.
Sebuah inisiatif dari Telkomsel yang ingin memperkuat dunia pendidikan melalui beragam platform digital seperti Ilmupedia, Kuncie, Skul.id, by.U, hingga Internet BAIK.
Saya membaca lebih jauh. Program ini lahir dari keprihatinan yang sama: rendahnya kompetensi literasi siswa Indonesia. Dari 50 juta murid di negeri ini, hanya sebagian yang mampu mencapai standar literasi minimum. Sisanya masih berjuang.
Data Telkomsel 2023 menunjukkan, lebih dari 780 sekolah di 249 kabupaten dan kota telah disentuh program Internet BAIK—yang mengajarkan interaksi positif di dunia digital. Sebuah langkah kecil menuju perubahan besar.

“Kami ingin memberdayakan masyarakat, membuka akses informasi, dan memastikan manfaat kemajuan digital dirasakan secara inklusif di seluruh Indonesia,” ujar Saki Hamsat Bramono, Vice President Consumer Business Area Sumatera Telkomsel.
Saya menemukan Ilmupedia di dalam program itu. Platform belajar digital yang menyediakan latihan soal, video pembelajaran, hingga tryout ujian.
Paket datanya bisa dibeli langsung lewat aplikasi MyTelkomsel. Harganya di bawah Rp50 ribu per bulan, dengan kuota besar dan jaringan 4G-5G yang stabil di seluruh Indonesia.
Saya membelinya tanpa pikir panjang. Anak saya tampak antusias ketika pertama kali mencoba.
“Soalnya kayak ujian sungguhan, Yah. Tapi enaknya, setelah dikerjakan langsung dikasih pembahasan,” katanya sambil tersenyum kecil.
Saya memandangi wajahnya. Ada semangat baru di sana, semangat yang mungkin tak akan lahir kalau saya tak menemukan cara belajar yang lebih fleksibel dan menyenangkan untuknya.
Dari Ilmupedia, saya juga mengenal ADEVA, asisten akademik berbasis kecerdasan buatan (AI). Ia bukan sekadar mesin pencari jawaban, tapi teman belajar yang sabar.
Anak saya bisa bertanya tentang rumus, konsep, atau bahkan meminta ringkasan materi. Jawabannya selalu jelas dan mudah dipahami.
“ADEVA adalah inovasi yang menjawab tantangan pembelajaran yang semakin dinamis,” kata Kemas M. Fadhli, CEO Kuncie.
“Kami ingin membuka akses pendidikan berkualitas bagi lebih banyak masyarakat Indonesia.”
Bagi saya, semua ini bukan sekadar teknologi. Ini adalah jembatan antara harapan dan keterbatasan. Sebagai orangtua, saya tahu rasanya cemas melihat anak berjuang dalam sistem pendidikan yang keras, di tengah waktu yang kian sempit.

Kini, saya bisa sedikit lega. Anak saya belajar tanpa harus saya paksa. Ia belajar karena ingin, bukan karena takut nilai jelek.
“Bahasa sederhananya, apa yang diinginkan masyarakat, Telkomsel paling siap menyediakan platform dan layanannya, dalam berbagai aspek, termasuk di dunia pendidikan,” ujar Abdullah Fahmi, VP Corporate Communications & Social Responsibility Telkomsel, saat kami berbincang santai di restoran Hotel Santika Batam, Rabu 15 Oktober 2025 lalu.
Saki Hamsat Bramono menambahkan, “Demi merah putih, Telkomsel tak akan pernah berhenti berinovasi.”
Saya mengingat kata-kata itu lama setelah perbincangan usai. Di tengah langit senja Batam yang berwarna jingga, saya tersenyum kecil.
Mungkin benar, masa depan anak-anak kita kini tak hanya ditentukan oleh seberapa keras mereka belajar, tapi juga oleh seberapa besar negeri ini mau memberi mereka kesempatan untuk bermimpi.
Dan Telkomsel, tampaknya sedang berusaha menjaga cita-cita itu tetap menyala. (***)
Laporan: Muhammad Nur



