
Bagi pelanggan Telkomsel, kebutuhan layanan prima bukan hanya hadir di Hari Pelanggan Nasional. Ia senantiasa ada, sepanjang waktu, terutama di saat-saat krusial ketika jarak memisahkan, seperti saat menunaikan ibadah haji, rukun Islam kelima yang menjadi dambaan umat.
Laporan: MUHAMMAD NUR
Jarum jam menunjuk pukul 22.06 WIB ketika kabar itu datang, 6 Desember 2024. Sebuah pesan singkat masuk ke ponsel saya, dari nomor yang tak tercatat dalam daftar kontak. Dari deret angkanya, saya bisa menebak: ini nomor Telkomsel.
“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.” Begitu salam pertama muncul, dalam huruf Arab berwarna merah.
Belum sempat saya balas, pesan kedua tiba. “Saya Bu Sri dari Kemenag Batam, bagian haji. Nama Bapak Daeng Pattapa masuk dalam data keberangkatan haji 2025, jalur prioritas lansia. Apakah bersedia berangkat? Mohon konfirmasinya.”
Tanpa pikir panjang, saya menjawab: bersedia. Sambil bertanya, apakah ibu saya, Siti Nurbaya—yang mendaftar di tahun yang sama dengan ayah—juga termasuk dalam prioritas?
“Alhamdulillah, ada nama beliau. Konfirmasi berangkat ya,” tulis Bu Sri.
“Alhamdulillah, iya Bu,” jawab saya cepat.
Tak lama, daftar dokumen yang harus dipenuhi pun masuk: paspor, pas foto, fotokopi KTP, kartu BPJS, hingga biovisa, serta dokumen lainnya.
Keesokan paginya, usai salat subuh, saya menelepon kedua orangtua di kampung halaman, Sungai Tering, Nipah Panjang, Tanjung Jabung Timur, Jambi. Mereka lebih suka tinggal di desa meski berstatus warga Batam.
Syukur berulang kali terucap dari bibir mereka. Sebab sejatinya, jadwal keberangkatan baru tiba pada 2032. Namun program prioritas lansia membuat pintu haji terbuka lebih cepat: 2025. Maklumlah, usia mereka sudah 76 tahun.
Baca Juga: Didominasi Telkomsel, Merdeka Sinyal di Wilayah 3T Kepri
Segala dokumen disiapkan. Pada 15 Januari 2025, berkas diserahkan ke Kemenag Batam. Medical Check Up sempat berliku: jejak rokok di paru-paru ayah, juga efek paparan asap pada ibu, membuat mereka harus menjalani pemeriksaan lanjutan di dokter spesialis rumah sakit.
Syukurlah, setelah melewati rangkaian tes kesehatan, keduanya dinyatakan layak. Meski beberapa kali harus mengulang tes lainnya di Puskesmas Baloi Permai, hasil akhirnya tetap menggembirakan: status istitha’ah—sehat dan layak berhaji—keluar pada 17 Maret 2025.
Hari itu juga, saya melunasi biaya haji. Rasanya lega.
Tantangan berikutnya muncul: kedua orangtua yang lansia butuh pendamping. Sayangnya, tak ada keluarga yang memenuhi syarat. Kemenag menenangkan, petugas haji di tanah air dan tanah suci akan mendampingi.
Jelang keberangkatan, dua grup WhatsApp dibentuk oleh regu dan rombongan haji. Semua anggota ternyata memakai Telkomsel.
Praktis komunikasi lebih mudah. Namun ada kendala kecil: SIM card orangtua saya masih model lama, belum 4G.

Saya kemudian berkomunikasi dengan Dwipanca Adi Nugraha, Corporate Communication Telkomsel Wilayah Sumbagteng.
Dari beliau saya mendapat kepastian bahwa pergantian kartu bisa dilakukan di GraPARI Telkomsel terdekat. Saran itu membuat saya mantap membawa ayah dan ibu ke GraPARI Batam Center.
Setibanya di sana, langkah kami langsung disambut seorang petugas keamanan berseragam rapi. “Ada yang bisa saya bantu?” tanyanya ramah. Saya pun menjelaskan bahwa orang tua ingin mengganti kartu sekaligus migrasi ke 4G.
Hari itu GraPARI cukup ramai. Namun ayah diarahkan segera ke meja customer care, sementara ibu justru ditangani langsung oleh petugas keamanan. Saya terkejut—ternyata di Telkomsel, bahkan petugas keamanan pun telah dilatih untuk melayani pelanggan.
Ibu diarahkan ke mesin mirip ATM, perangkat khusus untuk mengganti kartu SIM. Setelah verifikasi KTP dan pengecekan nomor, ibu diminta naik ke kursi tinggi agar sejajar dengan kamera.
Sayangnya, tubuhnya yang renta tak mampu menopang. Saya mencoba mengangkat, namun cukup berat. Melihat kesulitan itu, sang petugas segera bergerak.
Dengan penuh kesabaran ia membantu ibu duduk, lalu mengarahkan wajahnya ke kamera. Percobaan pertama gagal, diulangi, dan akhirnya berhasil. Kartu SIM baru pun keluar.
Layanan belum berhenti di situ. Petugas yang sama membantu menurunkan ibu, membuka slot ponselnya, memasukkan kartu baru, bahkan mengisikan pulsa agar segera aktif. Saya hanya bisa terpaku—betapa detail dan manusiawi pelayanan itu.
Ayah pun mendapat perlakuan serupa. Fisiknya yang ringkih membuat petugas konter GraPARI memberi layanan cepat.
Sebelum kami pulang, ia menjelaskan berbagai pilihan paket komunikasi, termasuk paket khusus haji yang akan sangat membantu jamaah di tanah suci.
“Isi paketnya bisa di GraPARI, lewat aplikasi MyTelkomsel, di konter terdekat, atau di posko haji kami di Asrama Haji,” ujarnya penuh antusias.
Dari pengalaman sederhana itu, saya belajar bahwa Telkomsel bukan sekadar operator yang menghadirkan jaringan luas dan layanan digital modern.
Ada sentuhan kemanusiaan yang menyatu dalam setiap pelayanannya—mulai dari arahan Corporate Communication, ramahnya customer care, hingga ketulusan seorang petugas keamanan yang rela mengulurkan tangan bagi seorang lansia.

Bagi saya, itu lebih dari sekadar migrasi kartu. Itu adalah cerita tentang bagaimana sebuah perusahaan menjaga hubungan, tidak hanya lewat sinyal, tetapi juga lewat empati dan kepedulian.
Telkomsel hadir bukan semata penyedia layanan, melainkan sahabat yang setia mendampingi perjalanan pelanggan di setiap tahap kehidupan—bahkan ketika langkah mereka mulai melambat.
Tak berhenti di situ, Telkomsel juga membuka Posko Haji di Asrama Haji Batam. Dua hari sebelum keberangkatan, saya mengisi paket haji untuk ponsel ayah dan ibu.
Ayi Ramadhan, petugas posko, memastikan kartu aktif selama 45 hari, dengan biaya tak sampai Rp1 juta.
Saat manasik, beberapa operator lain sempat menawarkan paket haji. Namun orangtua saya dan regunya tetap setia pada Telkomsel. Mereka percaya layanan yang sudah terbukti ini.
Tanggal 2 Mei 2025, ayah dan ibu masuk Asrama Haji Batam. Sehari kemudian, mereka bertolak dari Hang Nadim menggunakan pesawat Saudi Arabian Airlines menuju Madinah.
Dari bus, sahabat saya Zul Arief mengirim video suasana rombongan. Hati saya bergetar melihat senyum orangtua sebelum pesawat lepas landas.
Sembilan jam kemudian, ponsel saya berdering. Video call dari ayah. Wajahnya berbinar, di kursi roda yang didorong petugas. “Alhamdulillah, kami sudah sampai, Nak,” ucapnya dalam bahasa Bugis.
Tak lama kemudian, ibu juga menghubungi. Semula sempat terkendala, namun berkat bantuan petugas Telkomsel di Batam yang dihubungi teman-temannya, video call akhirnya tersambung.
Ibu tersenyum lebar, menceritakan hotel, teman-teman barunya, hingga rasa syukur yang tak putus.
Sejak itu, nyaris tiada hari tanpa komunikasi. Baik lewat video call maupun kiriman foto dan video dari teman-teman satu regu. Jarak ribuan kilometer terasa dekat.
Bahkan saat ibu sempat tertinggal di Raudah, kabar langsung sampai ke ponsel saya. Teman-temannya bergerak mencari, dan ibu ditemukan dengan selamat. Ia tenang, yakin Allah memberi kemudahan.
“Semua sayang ibu,” katanya sambil tersenyum.
Seminggu di Madinah, rombongan bergerak ke Makkah. Di Makkah, komunikasi makin intens. Ayah sempat sakit ringan, batuk dan pilek.
Baca Juga: Dari Batam, Telkomsel Membangun Negeri
Namun kabarnya selalu terpantau. Teman sekamarnya rutin mengabari lewat video call. Ibu setia menemani, teman-temannya setia membantu.
Tak jarang, obrolan ringan soal makanan atau mi instan membuat tawa pecah. “Di sini 50 ribu tiga, tapi tetap enak,” canda ibu. Tawa mereka menular hingga layar ponsel.
Bahkan saat puncak haji di Arafah yang penuh ujian, sambungan tetap lancar. Saat ibu sempat pingsan karena terik, kabar cepat sampai. Saya bisa memantau dari jauh, seolah berada di sana.
Lebih dari 40 hari di Tanah Suci, akhirnya rombongan kembali. Malam 3 Juni 2025, mereka tiba di Asrama Haji Batam. Bahagia, lega, syukur—semua bercampur.
Namun kisah tidak berhenti. Grup WhatsApp regu tetap hidup. Beberapa pekan kemudian, reuni digelar di rumah. Gelak tawa, cerita, dan kenangan kembali mengalir.
Meski kini terpisah jarak dan aktivitas, komunikasi tak pernah putus. Orangtua saya masih rutin video call dengan teman-teman serombongan.
Telkomsel tak hanya melayani hingga Tanah Suci. Ia juga menjaga silaturahmi tetap hangat setelah kembali.
Mulya Budiman, VP Consumer Business Area Sumatra Telkomsel, menegaskan bahwa Telkomsel terus berinovasi memberi layanan terbaik bagi pelanggan.
Selain memperkuat infrastruktur, Telkomsel menghadirkan berbagai paket menarik untuk simPATI, Halo+, hingga device bundling.
Bagi pelanggan yang gemar bepergian ke luar negeri, tersedia banyak paket roaming agar komunikasi tetap lancar, termasuk saat menunaikan haji. Semua paket itu bisa diakses di GraPARI, konter mitra Telkomsel, maupun aplikasi MyTelkomsel.
Mulya Budiman, saat peluncuran perluasan jaringan 5G Telkomsel di Batam, 16 Juni lalu, juga menekankan kemudahan akses layanan.
“Semua layanan bisa diakses dengan mudah lewat aplikasi MyTelkomsel,” ujarnya.
Sementara itu, Indra Mardiatna, Direktur Network Telkomsel, menyatakan bahwa jaringan Telkomsel tak hanya andal di dalam negeri, tapi juga hingga luar negeri berkat mitra strategis di berbagai negara.
“Ini sudah menjadi komitmen Telkomsel untuk terus berinovasi agar bisa memberi layanan terbaik bagi pelanggan,” ucapnya. (***)



