Senin, 19 Januari 2026

Terpengaruh Game Online, Diduga Picu Pelajar SMP di Batam Ancam Bom Sekolah

spot_img

Berita Terkait

spot_img

Dirkrimsus Polda Kepri Polda Kepri Kombes Pol Silvester MM Simamora. f. cecep

batampos– Pengaruh permainan daring (game online) diduga menjadi pemicu utama seorang pelajar SMP di Batam mengirim ancaman bom ke sekolahnya. Polda Kepri memastikan pelaku adalah remaja 13 tahun yang terobsesi dengan konten permainan digital sehingga menirukan pola ancaman di dalam game tersebut.

Dirkrimsus Polda Kepri, Kombes Silvester, mengungkap teror bom yang sempat membuat panik guru dan murid itu ternyata dilakukan seorang siswa kelas VII di sekolah swasta di Batam. “Pelakunya anak berusia 13 tahun. Dari pemeriksaan, dia terpengaruh game online,” ujarnya.

Silvester menjelaskan, pola komunikasi ancaman yang dikirim pelaku mirip dengan fitur permainan di beberapa platform game anak. “Dia mengaku hanya ingin mencoba-coba seperti yang sering dilihat di permainan Roblox,” katanya.

Menurut penyidik, remaja tersebut tidak memahami beratnya ancaman bom dalam dunia nyata. Ia hanya mengikuti alur permainan yang sering menampilkan skenario ancaman atau tantangan berbahaya.

“Ini ikut-ikutan. Namun dampaknya sangat besar bagi pihak yang menerima,” tegas Silvester.

BACA JUGA: Baku Tembak dan Ledakan Bom Bak Film Action di Bandara Hang Nadim Batam

Ancaman itu sendiri dikirim melalui pesan WhatsApp. Tak butuh waktu lama bagi polisi melacak pemilik nomor dan mencari keberadaan pengirim pesan. “Kami sudah minta keterangannya dan memastikan tidak ada pelaku lain. Ini murni dilakukan seorang diri,” katanya.

Ia juga memastikan tidak ada keterkaitan dengan pesan ancaman lain yang beredar di Semarang. “Tidak ada hubungan dengan daerah lain,” ujar Silvester.

Silvester menyebut faktor perundungan (bullying) memang ada dalam kehidupan sehari-hari anak itu, namun bukan pendorong utama tindakannya. “Ada sedikit faktor itu, tapi lebih dominan karena permainan online,” jelasnya.

Hingga kini penyidik masih melakukan pendekatan psikologis untuk memastikan kondisi emosional sang siswa. Remaja tersebut juga sudah di pulangkan ke orang tuanya.

“Kami masih menunggu rekomendasi psikologi untuk menentukan langkah lanjutan,” katanya.

Ia meminta, para orang untuk mengawasi aktivitas digital putra-putri mereka, terutama game yang mengandung unsur kekerasan atau tantangan berbahaya. Pengawasan orang tua dan sekolah dinilai krusial agar anak tidak meniru konten yang merusak pemahaman mereka tentang risiko nyata. “Pergaulan digital anak-anak sekarang sangat luas, dan perlu pendampingan,” kata Silvester.

Polda Kepri memastikan evaluasi psikologis akan menjadi dasar sebelum menentukan proses hukum selanjutnya terhadap pelaku. “Pendekatan psikologis tetap kami utamakan,” tutupnya. (*)

Reporter: Yashinta

Update