
batampos – Ratusan bungkus teh cina berisi narkotika jenis sabu dijejerkan di pentas Dataran Engku Putri, Kamis (12/6).
Bungkusan itu merupakan barang bukti sabu sebanyak 2 ton yang akan dimusnahkan dan disaksikan ribuan masyarakat.
Tak hanya itu, ke enam tersangka turut dihadirkan untuk menyaksikan pemusnahan yang dilakukan secara simbolis. Pada kesempatan itu, salah satu tersangka menangis dan berteriak menyampaikan pembelaan diri.
“Saya dijebak! Saya dijebak!” teriak salah seorang tersangka dari atas panggung yang dijaga ketat polisi bersenjata.
Mereka adalah bagian dari sindikat penyelundupan sabu yang berhasil diungkap aparat gabungan TNI AL, BNN, dan Bea Cukai di perairan Kepulauan Riau beberapa waktu lalu. Pengungkapan ini menjadi yang terbesar sepanjang sejarah Indonesia, dengan total sabu mencapai 2.115.130 gram atau lebih dari dua ton.
Kepala BNN, Komjen Marthinus Hukom, menegaskan bahwa pemusnahan dilakukan secara terbuka sebagai bentuk transparansi proses penegakan hukum.
“Ini bagian dari pertanggungjawaban publik. Proses pemusnahan dilakukan dengan pengawasan ketat dan melibatkan elemen masyarakat,” tegasnya.
Pemusnahan dilakukan di dua lokasi karena keterbatasan sarana dan besarnya volume barang bukti, yakni di Alun-Alun Engku Putri dan di kawasan PT Desa Air Cargo, Kabil, Nongsa. Dari total 2 ton sabu, sebanyak 30 kg dimusnahkan di dataran Engku Putri, sedangkan 1970 kg, dimusnahkan di desa air cargo.
Marthinus menekankan, keterbukaan ini penting agar masyarakat percaya bahwa barang bukti yang disita benar-benar dimusnahkan.
“Tak ada rekayasa. Masyarakat bisa melihat langsung bahan, jenis, dan bobot narkotika yang dihancurkan,” katanya.
Ia juga mengingatkan bahwa sindikat narkotika adalah ancaman nyata bagi kemanusiaan. “Mereka bukan hanya menghancurkan masa depan generasi muda, tetapi juga nilai-nilai moral dan peradaban bangsa,” ucapnya.
Marthinus mengajak seluruh elemen bangsa untuk ikut dalam perang melawan narkoba. “Mari kita tabuh genderang perang. Tidak ada tempat aman bagi sindikat narkoba, baik domestik maupun internasional,” serunya.
Sementara, Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Budi Gunawan, yang kini resmi menjabat, menyampaikan pesan dari Presiden Prabowo Subianto. Presiden mengapresiasi pengungkapan kasus ini yang dinilai sebagai tonggak sejarah pemberantasan narkoba di Indonesia.
“Ini bukti komitmen pemerintah dalam perang melawan narkoba. Saya sampaikan ucapan terima kasih Presiden kepada semua pihak, termasuk masyarakat, yang hadir mendukung pemusnahan hari ini,” kata Budi.
Menurut Budi, sejak Desk Pemberantasan Narkoba dibentuk pada 4 November 2024 lalu, sudah 22.481 kasus ditangani dengan 24.416 tersangka. Dari jumlah itu, 4.996 orang telah dialihkan ke jalur rehabilitasi.
“Total nilai narkotika yang disita mencapai Rp6,6 triliun. Kalau dikonversikan, kita menyelamatkan 34 juta jiwa dari ancaman narkoba,” ungkapnya. (*)
Reporter: Yashinta



