
batampos – Dari ruang kelas madrasah sederhana di Kota Batam, lahir inspirasi besar untuk dunia pendidikan. Thanaya Anasthasya Az’zikra, siswi kelas 6 Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 1 Batam, mematahkan anggapan bahwa prestasi tingkat nasional hanya milik sekolah besar dan bertaraf unggulan. Ia berhasil membawa pulang medali perak Olimpiade Madrasah Indonesia (OMI) Tingkat Nasional 2025 untuk mata pelajaran IPA dan Sosial yang digelar di Banten, awal Oktober lalu.
Capaian itu menjadi sejarah pertama bagi MIN 1 Batam, bahkan bagi madrasah di Kota Batam yang selama ini baru mampu bertahan di level kota dan provinsi.
“Ini prestasi tingkat nasional pertama dari madrasah di Batam. Alhamdulillah, dengan kerja keras Thanaya dan dukungan orang tua serta guru pembimbing, ia mampu meraih juara dua,” ujar Kepala MIN 1 Batam, Sudarsono Limbong.
Prestasi Thanaya mendapat apresiasi langsung dari Kepala Kantor Kemenag Kota Batam, Budi Dermawan, yang kini tengah menjalankan tugas di Mekkah. Melalui panggilan video dalam acara khusus di Kantor PWI Batam, Rabu (26/11), Budi menyampaikan rasa bangga sekaligus terharu.
“Terima kasih sudah mengharumkan nama Batam. Prestasi ini bukan hanya kebanggaan sekolah dan keluarga, tetapi juga seluruh masyarakat Kota Batam,” ucapnya dari Tanah Suci.
Thanaya hadir bersama ibunya, Vina Mawaddah Nasution, guru pembimbing Syamsudin, Kepala MIN 1 Batam, serta jajaran Kemenag Batam. PWI Batam turut memberikan penghargaan sebagai bentuk dukungan atas dedikasi pelajar dan guru berprestasi.
“Tujuan PWI mengundang murid dan guru berprestasi adalah untuk mempublikasikan etos belajar dan mengajar agar bisa memotivasi yang lain,” ujar Ketua PWI Batam, M.A Khafi Anshary.
Gemerlap prestasi nasional itu lahir dari perjuangan panjang. Thanaya harus menjalani karantina belajar selama dua pekan penuh, ditempa waktu belajar intensif di bawah pengawasan guru pembimbing. Disiplin di rumah juga diperketat: penggunaan gadget hanya diperbolehkan pada akhir pekan.
Namun tantangan terbesar justru datang dari persoalan biaya. Buku-buku persiapan olimpiade yang dibutuhkan mencapai Rp5 juta, angka yang sulit dipenuhi sekolah.
“Alhamdulillah kepala sekolah peduli dan mau merogoh kantong pribadi untuk membeli buku itu. Kami tidak punya dana sekolah,” ujar Syamsudin, sang pembimbing.
Syamsudin mengaku sempat diminta mencari pelatih profesional, namun dengan tarif Rp400 ribu per jam dengan minimal 40 jam pembinaan, kebutuhan itu mustahil dipenuhi. Ia akhirnya memutuskan untuk membimbing sendiri.
Meski melalui proses panjang, Thanaya tak merasa hidupnya terkekang.
“Kalau ada waktu luang saya belajar. Kalau waktunya main, saya main juga. Pandai bagi waktu saja,” ucapnya polos.
Dalam kompetisi OMI, Thanaya bersaing dengan puluhan peserta unggulan dari berbagai provinsi. Ia bukan yang paling percaya diri, namun ketekunan dan dukungan tulus keluarga serta guru membawanya melampaui batas yang sebelumnya dianggap mustahil.
Prestasi nasional ini menjadi simbol harapan baru bagi pendidikan madrasah di Batam. Bahwa kesempatan bukan hanya hak sekolah besar berfasilitas lengkap, melainkan milik siapa saja yang berani berusaha.
Thanaya membuktikan, ruang kelas sederhana tidak pernah menjadi penghalang ketika kemauan belajar, kerja keras, dan keikhlasan bertemu dalam satu titik. (*)
Reporter: Rengga Yuliandra



