
batampos – Tiongkok kembali mencatatkan diri sebagai negara asal impor terbesar ke Kota Batam pada Maret 2025. Berdasarkan data yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Batam, nilai impor dari Negeri Tirai Bambu tersebut mencapai US$ 508,53 juta atau berkontribusi sebesar 38,58 persen dari total impor selama bulan tersebut.
Kepala BPS Kota Batam, Eko Aprianto menyebutkan, meskipun mengalami sedikit penurunan sebesar 4,33 persen dibandingkan Februari 2025, nilai impor dari Tiongkok tetap mendominasi. Bahkan secara tahunan (year-on-year), nilai tersebut melonjak signifikan sebesar 112,63 persen dibanding Maret 2024.
“Kontribusi Tiongkok terhadap total impor Batam sangat besar. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar kebutuhan industri di Batam, terutama komponen dan barang modal, masih banyak dipenuhi dari Tiongkok,” kata Eko, Rabu (21/5).
Secara kumulatif, sepanjang Januari hingga Maret 2025, total impor dari Tiongkok mencapai US$ 1.569,78 juta. Jumlah ini menempatkan Tiongkok jauh di atas negara pemasok lainnya seperti Singapura (US$ 449,90 juta), Jepang (US$ 318,95 juta), Taiwan (US$ 248,26 juta), dan Malaysia (US$ 213,02 juta).
Menurut Eko, dominasi impor dari Tiongkok sejalan dengan struktur komoditas utama yang diimpor oleh Batam, yakni golongan barang Mesin/Peralatan Listrik dan Mesin/Pesawat Mekanik yang banyak digunakan dalam sektor industri manufaktur dan perakitan di Batam.
“Komoditas seperti mesin dan peralatan listrik sangat dibutuhkan industri di Batam, dan sebagian besar barang tersebut memang diimpor dari Tiongkok,” jelasnya.
Secara kumulatif impor Batam sepanjang Januari hingga Maret 2025 tercatat sebesar US$ 4.005,09 juta. Angka ini naik 29,76 persen atau sekitar US$ 918,96 juta dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kenaikan tersebut terutama didorong oleh lonjakan nilai impor barang hasil industri manufaktur.
Komoditas impor nonmigas terbesar pada Maret 2025 masih didominasi oleh golongan Mesin/Peralatan Listrik dengan nilai mencapai US$ 525,54 juta atau berkontribusi sebesar 40,09 persen dari total impor nonmigas. Disusul oleh Mesin/Pesawat Mekanik sebesar US$ 472,54 juta, dan Besi dan Baja senilai US$ 278,87 juta.
“Jika dilihat sepanjang Januari hingga Maret 2025, impor Mesin/Peralatan Listrik bahkan mencapai US$ 1.736,03 juta atau 43,55 persen dari total impor nonmigas,” tambah Eko.
Dari sisi pelabuhan bongkar, nilai impor terbesar selama Maret 2025 berasal dari Pelabuhan Batu Ampar dengan nilai mencapai US$ 875,68 juta. Nilai ini meningkat 14,42 persen dibanding Februari 2025 dan melonjak 55,63 persen dibanding Maret tahun sebelumnya. Disusul oleh Pelabuhan Sekupang dengan nilai US$ 322,81 juta. Kedua pelabuhan ini menyumbang 90,93 persen dari total impor Kota Batam selama Maret 2025.
Secara kumulatif, lima pelabuhan bongkar utama memberikan kontribusi sebesar 99,83 persen dari total impor Kota Batam sepanjang Januari-Maret 2025. Kelima pelabuhan tersebut yaitu Batu Ampar (US$ 2.541,37 juta), Sekupang (US$ 1.130,35 juta), Pulau Sambu (US$ 162,20 juta), Kabil/Panau (US$ 153,03 juta), dan Bandara Hang Nadim (US$ 13,77 juta). (*)
Reporter: Rengga Yuliandra



