
batampos– Ratusan ton sampah dihasilkan masyarakat Batam setiap harinya. Sampah-sampah ini terdiri dari sampah organik yakni yang berasal dari sisa organisme hidup misalnya sisa sayuran dan buah-buahan yang dibuang dan sampah anorganik yakni sampah yang bukan berasal dari organisme hidup dan merupakan hasil campur tangan manusia. Misalnya, botol plastik, kardus, plastik pembungkus dan lain sebagainya.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Batam Herman Rozi melalui Kabid Pengelolaan Persampahan DLH Batam, Eka Suryanto mengaku, rata-rata sebanyak 850 ton sampah yang diangkut tiap hari ke tempat Pembungan Akhir (TPA) Punggur. Ratusan ton sampah ini didominasi sampah rumah tangga.
Eka menambahkan saat ini TPA Punggur memiliki dua zona yakni zona lama yang memiliki kapasitas luas 10 hektare serta zona baru yang dibangun oleh Kementrian PUPR pada 2018 dengan luas satu hektare. Pada zona lama ini, sudah hampir dikatakan penuh dengan ketinggian sampah mencapai puluhan meter. Setiap harinya ada sekitar 300an lori sampah yang masuk ke TPA dengan tonasi per hari 850 ton.
“Untuk TPA Punggur ketinggian sampah sudah mau 40 meter dan kalau dipaksa lagi kita khawatir longsor. Makanya dibagi dua zona. Hanya saja zona baru dari KLHK ini belum maksimal karena hanya sekitar 1 hektare, ” kata Eka, Jumat (13/10).
BACA JUGA: Budayakan Pilah Sampah dari Rumah, Ada Penjemputan Gratis
Ia menyebutkan, ratusan ton sampah yang masuk ke TPA ini tentu saja akan memperpendek usia TPA. Diprediksi 6 tahun ke depan, TPA tidak akan mampu lagi menampung sampah di Batam. Untuk itu pemerintah kota Batam terus mengaungkan pemilahan sampah rumah tangga. Pemilahan sampah menjadi salah satu fokus utama DLH Batam untuk mengurangi sampah yang diangkut ke TPA Pembuangan Akhir (TPA) Punggur.
“Pengelolaan sampah dari sumbernya, ini solusi kita. Sebab, untuk TPA belum ada rencana penambahan dan malahan sekarang informasinya 2030 nanti tak ada lagi pembangunan TPA. Jadi kita dituntut di 2025 melakukan pemilahan sampah sampai 30 persen dan penanganan 70 persen, ” ucap Eka.
Sampah yang dipilah adalah sampah anorganik semisal limbah botol plastik, kardus, plastik pembungkus makanan, dan sebagainya. Pemilahan sampah penting dilakukan agar dapat meningkatkan jumlah sampah yang didaur ulang. Sehingga, mengurangi jumlah sampah yang berakhir di TPA Punggur dan sekaligus memperpanjang usia dari TPA tersebut.
“Jadi tidak mesti harus ada bank sampah dulu. Yang penting masyarakat mau memilah sampah dari rumah dan kita sudah siapkan call center. Masyarakat bisa menghubungi ke nomor ini dan kami akan menjemput ke rumah-rumah, ” ungkap Eka.
Ditambahnya, solusi pemilahan bank sampah sudah berjalan dengan baik. Pihaknya juga rutin melakukan sosialisasi kepada masyarakat dan bahkan respon dari masyarakat saat ini sudah sangat baik, banyak dari masyarakat yang ingin membentuk bank sampah. Ini tentu saja sebagai bukti masyarakat semakin cerdas, terbuka dan sadar akan masalah dari sampah ini.
“Hari kita ada sosialisasi dengan masyarakat dan Minggu di di Legenda Malaka, artinya sosialisasi pemilahan sampah ini akan kita sampaikan kepada seluruh masyarakat Batam agar sampah anorganik ini dipilah dan tak masuk TPA, ” tuturnya.
Eka menambahkan saat ini di Batam memiliki 300an bank sampah, namun yang aktif berjumlah 160an bank sampah yang tersebar di sembilan kecamatan. Rinciannya 23 titik bank sampah di Batuaji, Sagulung 27 titik, Sekupang 31 titik, Sei beduk 13 titik, Lubuk Baja 5 titik, Batu Ampar 8 titik, Bengkong 7 titik, Batam kota 25 titik dan Bulang satu titik.
Bank sampah ini mampu memilah sampah plastik, botol dan sampah bernilai ekonomis lainnya 25,8 ton setiap bulannya. Meskipun masih jauh dari jumlah sampah yang dihasilkan tiap harinya, tentu dengan kehadiran bank sampah ini turut serta mampu mengurangi sampah anorganik di TPA Punggur.
“25,8 ton ini yang dijual ke kita ya. Belum termasuk yang dijual ke swasta tentu angkanya bertambah lagi. 140 titik inilah yang kita jemput setiap bulannya ada juga yang di pulau,” bebernya.
Disinggung rencana Incenerator yang digadang akan menjadi solusi permasalahan sampah, Eka menjawab, selain biaya yang besar, Incenerator saat ini juga sudah tak dianjurkan lagi. Sebab, membakar sampah akan memperburuk kualitas udara.
Begitu juga dengan solusi Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSA) yang sebelumnya digaungkan menjadi solusi permasalahan sampah di Batam saat ini masih terkendala dari investor. Sebab dari pemerintah daerah sendiri mengarahkan pengelolaan tanpa Tipping fee adalah bea gerbang yang dikeluarkan pemerintah ke pihak pengolah sampah. Nilainya dihitung berdasarkan tonase sampah yang akan diolah.
“Ya kalau ada investor yang bisa mengelola TPA tanpa tipping fee kenapa tidak, ini tentu bisa menjadi solusi jangka panjang, ” pungkasnya. (*)
reporter: rengga



