Selasa, 13 Januari 2026

Transportasi Laut Jadi Urat Nadi Warga Pulau, Keselamatan Tetap Dijaga

spot_img

Berita Terkait

spot_img
Penambang perahu pancung di Pelabuhan Sekupang.

batampos – Hujan deras yang terus mengguyur Batam beberapa hari terakhir tak menyurutkan aktivitas warga yang menggantungkan hidupnya pada transportasi laut. Di Pelabuhan Pancung Sekupang, deretan kapal kayu kecil atau pancung masih hilir mudik melayani penyeberangan ke Belakang Padang, menghubungkan ribuan warga antar pulau setiap harinya.

Bagi masyarakat pulau, layanan kapal pancung bukan sekadar alat transportasi, melainkan penghubung utama bagi aktivitas ekonomi, pendidikan, dan sosial. Karena itu, meski cuaca tak bersahabat, sebagian besar warga tetap nekat menyeberang.

“Kami tetap jalan, karena ada kebutuhan kerja dan urusan keluarga. Kalau menunggu cuaca benar-benar cerah, bisa tidak berangkat-berangkat,” ujar Dika, warga Belakang Padang, Minggu (19/10).

Baca Juga: Busker Bergembira, Hidupkan Lagi Semangat Seni di Kampung Melayu Batam

Para penambang pancung juga memahami betul peran penting mereka bagi warga. Iwan, salah satu pengemudi kapal, mengatakan para awak selalu berupaya menjaga agar pelayaran tetap aman, tanpa mengabaikan faktor keselamatan.

“Kami tahu banyak orang bergantung pada kapal ini. Jadi selama cuaca masih bisa ditoleransi, kami tetap beroperasi. Tapi kalau angin kencang dan gelombang tinggi, kami tunda dulu,” ucapnya.

Menurutnya, setiap kapal telah dilengkapi perlengkapan keselamatan seperti life jacket dan pelampung tambahan. “Itu wajib. Kami juga imbau penumpang supaya pakai life jacket setiap kali naik,” tambahnya.

Baca Juga: Ombudsman Desak Polda Kepri Ambil Alih Kasus Ledakanan Maut di PT ASL

Pelabuhan Pancung Sekupang menjadi titik vital mobilitas antar pulau di wilayah barat Batam. Setiap hari, puluhan kapal pancung melayani penumpang dari dan menuju Belakang Padang, membawa barang kebutuhan, hingga hasil tangkapan nelayan.

Musim hujan memang kerap menghadirkan tantangan bagi pelayaran rakyat, namun dedikasi para penambang dan kepercayaan masyarakat menjadikan transportasi laut tradisional ini tetap berdenyut menjadi urat nadi penghubung kehidupan di pulau-pulau sekitar Batam. (*)

 

Reporter: Rengga Yuliandra

Update