Selasa, 13 Januari 2026

Tren DBD Naik-Turun, 525 Kasus Terjadi hingga Oktober 2025

spot_img

Berita Terkait

spot_img
Ilustrasi demam berdarah.

batampos – Kasus demam berdarah dengue (DBD) di Kota Batam menunjukkan tren naik turun dalam tiga tahun terakhir. Data Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batam mencatat, sepanjang 2023 terdapat 392 kasus, melonjak tajam pada 2024 menjadi 871 kasus, dan hingga awal Oktober sudah mencapai 525 kasus.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Batam, Didi Kusmarjadi, mengatakan dinamika kasus DBD sangat dipengaruhi oleh kondisi cuaca, terutama pada musim hujan yang menyebabkan kelembapan tinggi dan banyaknya genangan air. Kondisi itu menjadi tempat ideal bagi nyamuk Aedes aegypti berkembang biak.

“Tren DBD ini selalu berkaitan dengan pola cuaca. Saat curah hujan meningkat, populasi nyamuk juga melonjak karena banyak tempat berkembang biak baru,” ujar Didi, Kamis (16/10).

Menurut Didi, angka insidensi (IR) DBD di Batam tahun 2025 mencapai 39,12 per 100.000 penduduk, menurun dibanding tahun sebelumnya yang mencapai 68,21 per 100.000 penduduk. Meski begitu, penurunan angka ini tidak boleh membuat masyarakat lengah.

“Kita memang melihat ada penurunan dibanding tahun lalu, tapi musim hujan baru saja dimulai. Justru pada periode seperti ini kita harus lebih waspada,” tegasnya.

Untuk menekan potensi lonjakan kasus, Dinkes Batam terus menggencarkan program Gerakan Satu Rumah Satu Jumantik (G1R1J) yang melibatkan masyarakat dalam pemantauan jentik nyamuk di rumah masing-masing. Program ini dinilai efektif karena pencegahan harus dimulai dari lingkungan terkecil, yakni rumah tangga.

Selain itu, Dinkes juga berkoordinasi dengan puskesmas untuk melaksanakan sosialisasi dan fogging di wilayah yang dianggap rawan penularan. Namun, Didi menegaskan bahwa fogging bukan solusi utama karena hanya membunuh nyamuk dewasa.

“Yang lebih penting adalah memutus siklus perkembangbiakan nyamuk dengan langkah 3M Plus yakni menguras, menutup, dan mengubur tempat yang berpotensi menjadi sarang nyamuk, ditambah pencegahan gigitan,” jelasnya.

Ia juga mengimbau masyarakat agar segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan bila mengalami gejala seperti demam tinggi mendadak, nyeri sendi, mual, atau muncul bintik merah pada kulit, karena penanganan dini dapat mencegah komplikasi serius.

“Kami berharap kesadaran masyarakat semakin tinggi. DBD bisa dicegah jika setiap orang peduli terhadap kebersihan lingkungan. Jangan menunggu sampai kasus meningkat baru bertindak,” pungkas Didi. (*)

Reporter: Rengga Yuliandra

Update