batampos – Pernah merasa takut ketinggalan tren atau apa yang sedang sibuk dilakukan circle-mu? Atau, merasa nggak tenang karena belum nonton film yang lagi trending? Jangan-jangan kamu juga nongkrong 24 jam di media sosial biar nggak melewatkan kabar terkini. Wah, kamu FOMO, ya. Well, perasaan takut dan cemas itu dikenal dengan sebutan FOMO.
Fear of missing out (FOMO) adalah perasaan takut tertinggal ketika nggak mengikuti tren atau kegiatan yang sedang ramai dilakukan banyak orang. FOMO mengarahkan penderitanya pada persepsi bahwa kehidupan orang lain lebih baik daripada dirinya. ”FOMO bisa terjadi dalam konteks kegiatan sosial, harta materiil, status sosial, hingga kesuksesan karier,” ungkap psikolog Dr Lauren Hazzouri dalam wawancaranya bersama i-D Vice.
Kurangnya kepercayaan diri menjadi salah satu penyebab FOMO. Hadirnya media sosial sebagai tempat show up segala hal memperparah kondisi tersebut. Misalnya, kamu melewatkan pesta, liburan, atau hang out, lalu merasa nggak keren saat melihat unggahan foto temanmu yang datang. ”Ketika tidak melihat value diri sendiri, seseorang akan cenderung ingin ’hadir’ dalam setiap hal. Padahal, orang dengan kepercayaan diri yang sehat akan membentuk hubungan yang lebih bermakna,” ujar Dr Lauren.
Gejala FOMO, antara lain, terlalu sering mengecek gadget, lebih peduli pada media sosial daripada kehidupan nyata, selalu kepo sama kehidupan orang lain, dan selalu bilang ”ya” meski sebenarnya enggan karena takut ketinggalan apa pun. Semua itu juga dapat berujung pada membandingkan diri dengan orang lain dan bikin kamu nggak bahagia, lho.
Rehat dari media sosial bisa menjadi solusi awal. Tentu hal itu akan sulit dilakukan, tapi sangat worth it! Melansir Psychology Today, semakin kamu nggak terikat dengan smartphone dan media sosial, risiko mengalami FOMO akan semakin kecil.
Slow down dan berikan kesempatan dirimu untuk hidup saat ini. Kalau kamu sedang mengalami hari yang buruk, be easy on yourself. Selain itu, berlatihlah untuk mengatakan tidak. Kamu nggak harus mengiyakan setiap ajakan untuk datang ke sebuah acara. Kadang berkata tidak itu salah satu self-love terbaik.
Well, FOMO bukanlah sesuatu yang sehat dan justru membawa dampak negatif terhadap mood dan kepuasan dalam hidup. Kebalikan dari FOMO adalah JOMO (joy of missing out). Itulah antitesis dari FOMO yang berarti kamu merasa puas dan bahagia dengan kehidupanmu. Wahai si paling up-to-date, sesekali kudet bukan akhir dari segalanya kok. You’re not missing anything! (elv/c14/lai)
Are You Stuck In FOMO?
- Langsung cek HP saat muncul notifikasi masuk.
- Kepo dengan gosip terbaru yang lagi ramai.
- Selalu setuju kalau diajak pergi, bahkan saat kamu lagi mager alias malas gerak.
- Kesal kalau ada guyonan yang kamu nggak nyambung.
- Merasa kecewa nggak bisa ikutan hang out.
- Nggak mau ketinggalan barang keluaran terbaru.
- Sering merasa nggak update.
- Nggak bisa lama-lama jauh dari HP.
- Beli barang rekomendasi influencer meski sebenarnya nggak butuh.
- Selalu jadi yang terakhir pulang saat ada kumpul-kumpul.

![]()
“Stop Fomo”
Reporter: Vany Aliffia
Editor : Agnes Dhamayanti
Zaman now, kalau bangun tidur gak ngecek HP rasanya aneh ya. Karena teknologi sekarang udah canggih banget, media sosial layaknya sudah jadi santapan rutin, susah kalau satu hari tidak lihat update di media sosial. Takut nanti dibilang tidak bisa nimbrung bareng teman-teman atau dibilang nggak update. Kalo kalian ngerasain kondisi diatas, mungkin kalian lagi ngalamin yang namanya sindrom FOMO (Fear of Missing Out). Wah, kalau begitu, gimana sih cara menghilangkan perasaan FOMO? Yuk simak! (*)

Muhammad Febrian Haryanto
Univesitas Muhammadiyah Malang
@ryanharianto_
FOMO bikin kita merasa sendiri dan tertinggal. Yang lain lagi seru-seruan aja, kok gue nggak ikutan sih? Nah, itu cuma perasaan kamu aja. Teman-teman mu masih ada kok. Supaya nggak ngerasa ketinggalan, ajak aja temen kami video call, nonton drakor, dan curhat-curhatan. Kemudian, fokus dengan kegiatan lain, kamu nggak harus uninstall semua aplikasi di media sosial kok, kurangin saja dengan mengalihkan perhatianmu dengan kegiatan lain seperti olahraga, melukis, dan apapun yang disukai. Awalnya mungkin sulit, tapi lama – lama akan terbiasa.(*)

Alpri Wisnuaji
Universitas Muhammadiyah Surakarta
@alpriwisnuaji_
Menghindari FOMO bukan berarti tidak boleh menggunakan media sosial sama sekali. hanya saja ada baiknya membatasi kegiatan ini. Media sosial bukanlah kehidupan nyata yang tidak selalu seindah dengan kenyataannya. Tetaplah bersyukur karena lagi dan lagi media sosial dapat membuat seseorang yang mengalami FOMO suka membandingkan diri dengan hidup orang lain, perasaan ini diikuti dengan cemas dan iri hati. Selain membatasi waktu di media sosial, coba luangkan waktu untuk berlatih meditasi karena dapat membantu menjernihkan pikiran dan mengurangi kecemasan. (*)

Agustina
SMK N 1 Batam
@agustinamarquenzee
Perasaan FOMO yang dibiarkan dapat memicu hal negatif. Perasaan ini mempengaruhi ketidakpuasan pada hidup dan merasa apa yang selama ini dilakukan tidak pernah cukup. Meskipun begitu perasaan FOMO ini dapat dikurangi dengan fokus pada diri sendiri, kita tidak perlu membandingkan diri dengan orang lain karena setiap orang tidak sama dalam menjalani hidupnya. Hargai diri sendiri nikmatilah momen-momen, dan berhenti membandingkan hidup dengan orang lain. Kemudian batasi penggunaan media sosial, karena ini adalah pemicu terjadinya FOMO dan menyaring konten di linimasa kamu misalmya bisa menyembunyikan orang yang menurut kamu menggangu atau suka menyombongkan diri. (*)



