Senin, 12 Januari 2026

UNIBA Gelar Kuliah Umum Nasional Bahas Hilirisasi Sains dan Teknologi

spot_img

Berita Terkait

spot_img
Direktur Hilirisasi dan Kemitraan Kemdiktisaintek Prof. Yos Sunitiyoso menjadi pembicara kuliah umum nasional di UNIBA Batam, Jumat (10/10).
Direktur Hilirisasi dan Kemitraan Kemdiktisaintek Prof. Yos Sunitiyoso menjadi pembicara kuliah umum nasional di UNIBA Batam, Jumat (10/10). F. Syaban/Batam Pos

batampos – Universitas Batam (UNIBA) melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) menggelar Kuliah Umum Nasional bertema “Percepatan Hilirisasi Sains dan Teknologi Melalui Kerja Sama Perguruan Tinggi dan Industri Global”, Jumat (10/10), di Rumengan Hall, Universitas Batam, mulai pukul 08:30 pagi

Acara ini menghadirkan Direktur Hilirisasi dan Kemitraan Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Prof. Yos Sunitiyoso, Ph.D, sebagai narasumber utama, serta dihadiri oleh Rektor Universitas Batam Prof. Samsul Rizal, pejabat struktural, dosen, dan mahasiswa dari berbagai fakultas.

Kepala LPPM UNIBA, Dr. Malahayati Rusli Bintang, dalam sambutannya menyampaikan bahwa kuliah umum ini menjadi momentum penting untuk memperkuat sinergi antara dunia akademik dan industri dalam mempercepat hilirisasi hasil riset dan inovasi kampus.

“Perguruan tinggi saat ini tidak hanya menjadi sumber ilmu pengetahuan, tetapi juga motor penggerak inovasi dan transformasi ekonomi. Hilirisasi riset adalah kunci untuk menciptakan nilai tambah dan daya saing nasional,” ujarnya.

Malahayati menjelaskan, LPPM UNIBA berkomitmen menjalankan tiga fokus utama yakni, penguatan riset terapan berbasis kebutuhan industri, pembentukan pusat inovasi dan inkubasi bisnis, serta pengembangan kolaborasi global melalui penelitian bersama universitas dan industri internasional.

UNIBA juga telah menjalankan sejumlah riset terapan, antara lain pengembangan sistem digital pemasaran berbasis AI untuk UMKM, serta penelitian energi terbarukan dan smart city di kawasan industri Batam.

 

Transformasi Perguruan Tinggi Jadi Motor Hilirisasi Nasional

Dalam paparannya, Prof. Yos Sunitiyoso menegaskan pentingnya peran perguruan tinggi dalam membangun ekosistem riset yang terintegrasi dan berdampak langsung terhadap pembangunan ekonomi nasional.

“Indonesia hanya punya waktu sekitar 13 tahun sejak 2023 untuk keluar dari middle income trap. Kuncinya adalah pertumbuhan ekonomi agresif berbasis inovasi dan hilirisasi riset,” ujar Yos.

Menurutnya, Indonesia menghadapi berbagai tantangan strategis seperti perubahan iklim, ancaman pandemi baru, perlambatan ekonomi global, dan disrupsi kecerdasan buatan (AI). Dalam situasi ini, perguruan tinggi harus mampu menjadi pusat inovasi yang menghubungkan riset, teknologi, industri, dan masyarakat.

Yos menjelaskan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) kini menempatkan hilirisasi riset sebagai salah satu prioritas nasional. Hal ini diwujudkan melalui berbagai program seperti:

1. Program Peningkatan Hilirisasi Hasil Penelitian, yang mendukung pengujian kelayakan industri dan innovation sandbox.

2. Program Pengembangan Kemitraan Multipihak, melibatkan pendanaan padanan (matching fund) antara universitas dan industri.

3. Program Pengembangan Kawasan Sains dan Teknologi, yang mendorong inkubasi usaha rintisan (start-up) berbasis riset kampus.

“Hilirisasi riset bukan hanya soal menghasilkan produk, tetapi bagaimana hasil penelitian bisa diadopsi oleh industri dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat,” jelasnya.

Yos mencontohkan, dari ribuan proposal riset yang didanai pemerintah selama 2022–2024, terdapat lebih dari 2.700 proyek hilirisasi yang bekerja sama dengan 2.100 mitra industri, menunjukkan antusiasme besar dunia akademik terhadap penerapan hasil penelitian.

Ia juga menyoroti pentingnya membangun kemitraan riset dengan sektor industri, termasuk di Batam yang memiliki lebih dari 22 ribu perusahaan dan 31 kawasan industri aktif.
Kemitraan itu, katanya, harus dilakukan mulai dari tahap identifikasi kebutuhan industri, komunikasi, penyusunan MoU, hingga implementasi riset bersama.

“Kampus perlu proaktif hadir di forum industri, membuka dialog, dan menawarkan solusi konkret berbasis riset. Di situlah nilai tambah universitas terlihat,” ungkap Yos.

Dalam bidang kesehatan, Yos juga menekankan pentingnya peran rumah sakit pendidikan sebagai pusat uji klinis dan inkubator inovasi teknologi medis, yang mampu menjembatani riset dasar di kampus dengan kebutuhan industri farmasi dan alat kesehatan nasional.

“Hilirsisasi di sektor kesehatan akan mengurangi ketergantungan impor obat dan alat kesehatan, sekaligus membuka peluang ekonomi baru dari produk buatan dalam negeri,” pungkasnya.

Kuliah umum ini diakhiri dengan penegasan komitmen UNIBA untuk memperkuat ekosistem riset dan inovasi di tingkat daerah. Melalui kolaborasi antara kampus, pemerintah, dan dunia usaha (triple helix), UNIBA bertekad menjembatani hasil riset akademik dengan kebutuhan industri di Kepulauan Ria

Menutup paparannya, Prof. Yos Sunitiyoso mengajak seluruh sivitas akademika UNIBA untuk mengambil peran aktif dalam membangun ekosistem riset dan inovasi yang produktif di daerah.

“Hilirisasi riset bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga komitmen bersama perguruan tinggi dan industri. Bila riset kita mampu menjawab kebutuhan nyata masyarakat, maka disitulah letak kemandirian bangsa,” kata dia. (*)

Reporter: M. Sya’ban

Update