
batampos – Di balik angka kekerasan terhadap anak dan perempuan yang terus dilaporkan, terdapat persoalan serius yang tak kalah penting, yakni proses pemulihan psikologis korban. Kepala UPTD Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Kota Batam, Dedy Suryadi, menegaskan bahwa pendampingan mental menjadi tantangan utama dalam penanganan kasus kekerasan, khususnya kekerasan seksual.
“Banyak korban yang baru melapor setelah bertahun-tahun mengalami kekerasan. Mereka memendam trauma dalam diam karena takut, bingung, atau merasa tidak punya tempat untuk bercerita,” ujar Dedy, Selasa (13/5).
Selama periode Januari hingga April 2025, tercatat 84 kasus kekerasan di Batam. Sebanyak 64 di antaranya merupakan kekerasan seksual terhadap anak, termasuk kekerasan fisik, eksploitasi, dan tindak pidana perdagangan orang (TPPO). Sementara itu, pada korban perempuan tercatat 20 kasus, yang didominasi oleh kekerasan fisik dan bentuk kekerasan lainnya.
Meski jumlah pelaporan meningkat, Dedy menganggap hal tersebut sebagai pertanda positif bahwa korban mulai berani mencari keadilan.
“Bukan berarti kekerasan makin marak, tapi keberanian untuk bersuara mulai tumbuh karena adanya dukungan dari banyak pihak,” katanya.
UPTD PPA, lanjut Dedy, kini memperkuat layanan konseling dan trauma healing. Tak hanya untuk korban, keluarga mereka pun sering kali membutuhkan pendampingan agar mampu menjadi sistem pendukung yang efektif.
“Korban membutuhkan lingkungan yang mendukung, bukan menyalahkan. Sayangnya, banyak yang justru mendapat stigma dari keluarga atau tetangga. Ini membuat proses pemulihan mereka semakin berat,” ujar Dedy.
Pada tahun 2024 lalu, UPTD PPA mencatat 219 kasus kekerasan terhadap anak dan 47 kasus kekerasan terhadap perempuan. Mayoritas kasus merupakan kekerasan seksual dan fisik. Tren ini menunjukkan pentingnya pendekatan jangka panjang, terutama dalam membangun kesadaran kolektif masyarakat.
Sebagai upaya memperluas jangkauan layanan, UPTD PPA menggandeng rumah sakit, LSM, dan kepolisian untuk memperkuat sistem pengaduan serta pendampingan psikologis. Dedy berharap semakin banyak korban yang bisa segera tertangani, baik secara hukum maupun mental.
“Kami ingin Batam menjadi tempat yang aman, tidak hanya secara fisik, tetapi juga secara psikologis bagi semua korban kekerasan,” tutupnya. (*)



