Rabu, 11 Februari 2026

Volume Air Waduk Menyusut, Krisis Air Bersih Berpotensi Meluas

spot_img

Berita Terkait

spot_img
Waduk Sei Ladi.

batampos – Krisis air bersih di Kota Batam kembali menjadi perhatian serius menjelang Ramadan, Idulfitri, maupun perayaan Imlek 2026 dalam waktu dekat. Batam yang sepenuhnya bergantung pada air hujan melalui waduk dan daerah tangkapan air (DTA), kini menghadapi ancaman kekeringan akibat kemarau panjang.

Deputi Bidang Pelayanan Umum Badan Pengusahaan (BP) Batam, Ariastuty Sirait, menyampaikan bahwa hingga 31 Januari 2026 jumlah pelanggan Air Batam Hilir (ABH) telah mencapai 342.253 pelanggan. Dengan kondisi cuaca saat ini, BP Batam telah memetakan wilayah-wilayah yang berpotensi mengalami gangguan suplai air.

“Dari pemetaan kami, ada sekitar 28 wilayah yang membutuhkan layanan distribusi air menggunakan truk tangki, dengan kebutuhan sekitar 200 trip pengiriman. Itu pun belum termasuk permintaan tambahan melalui call center ABH,” ujar Ariastuty usai rapat persiapan pelayanan Ramadan di Kantor Wali Kota Batam, Senin (9/2) sore.


Baca Juga: Kebakaran Hutan Meluas, Mendekat ke Pemukiman Warga Batuaji

Saat ini, armada truk tangki yang tersedia berjumlah 21 unit. Namun, dalam sepekan terakhir, hanya 14 unit yang beroperasi secara efektif untuk melayani kebutuhan air di 28 wilayah terdampak.

“Kondisi ini jelas tidak ideal. Karena itu, kami menambah armada. Saat ini tersedia 21 unit, tetapi yang aktif hanya 14. Hingga 14 Februari nanti, total armada akan ditambah menjadi 34 unit untuk membantu distribusi air. Kami perkirakan cukup selama Ramadan,” kata Ariastuty.

Ia merinci, armada tersebut terdiri atas 5 unit milik ABH, 5 unit milik BP Batam, 4 unit truk sewaan dari ABH, dan 7 unit sewaan dari BU SPAM. Selain itu, BP Batam juga menambah armada baru berupa truk yang dimodifikasi dengan tandon air di atasnya, menyusul keterbatasan ketersediaan truk tangki di Batam.

“Dengan tambahan 11 unit armada baru dan 2 unit truk tangki impor, total armada menjadi 34 unit. Kami menilai jumlah ini dapat mencukupi kebutuhan masyarakat,” ujarnya.

Di sisi lain, berdasarkan laporan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Batam diperkirakan masih akan mengalami musim kemarau hingga Maret mendatang. Kondisi tersebut berdampak langsung pada volume air waduk yang terus menyusut.

“Rata-rata penyusutan air waduk mencapai 2 sampai 3 sentimeter per hari,” kata Ariastuty.

Baca Juga: Disdik Kepri Nonaktifkan Guru Terduga Pencabulan di SMKN 1 Batam

Ia memaparkan, ketahanan air di sejumlah waduk Batam kini berada pada kondisi darurat.

Waduk Sei Harapan diperkirakan hanya mampu bertahan selama 1 bulan 8 hari, Waduk Nongsa 2 bulan 2 hari, Waduk Sei Ladi 4 bulan 13 hari, Waduk Muka Kuning–Duriangkang 5 bulan 1 hari, dan Waduk Tembesi 5 bulan 2 hari.

“Jika melihat angka-angka ini, berarti kita sudah masuk dalam situasi darurat,” tegasnya.

Menghadapi kemungkinan hujan yang belum turun dalam waktu dekat, BP Batam membuka opsi ikhtiar tambahan. Selain distribusi air melalui darat, upaya hujan buatan juga menjadi pertimbangan, meski biayanya cukup besar.

“Kita berharap selain ikhtiar doa, ada opsi hujan buatan. Namun, hujan buatan biayanya sangat mahal dan kami masih menunggu apakah BMKG dapat merekomendasikannya atau tidak,” ujarnya.

Terkait cepatnya penyusutan volume waduk, Ariastuty tidak menutup kemungkinan adanya faktor eksternal, seperti deforestasi dan alih fungsi lahan.

“Faktor-faktor eksternal seperti itu tentu juga berpengaruh,” katanya.

Baca Juga: BPBD Batam Sebut Kemarau Picu Lonjakan Risiko Kebakaran

Sementara itu, Wali Kota sekaligus Kepala BP Batam, Amsakar Achmad menegaskan pemerintah berupaya memastikan kebutuhan air bersih tetap terpenuhi selama Ramadan. Ia menyebut penambahan armada distribusi air telah ditindaklanjuti.

“Dalam pertemuan terakhir, kami meminta penambahan armada dan alhamdulillah sudah ditindaklanjuti,” ujar Amsakar.

Namun, ia menekankan perlunya tanggung jawab bersama antara Air Batam Hilir (ABH) dan Air Batam Hulu (ABHU) agar distribusi air berjalan lancar.

“Saya beri penekanan kepada ABH dan ABHU untuk ikut bertanggung jawab serta mencari opsi-opsi agar distribusi air ke masyarakat bisa lebih lancar,” tegasnya.

Meski kondisi waduk berada pada level darurat, Amsakar mengaku tetap optimistis kebutuhan air selama Ramadan dapat teratasi.

“Dengan kondisi seperti ini, insyaallah Ramadan masih bisa kita lalui,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya pengawasan hingga ke tingkat bawah. Bahkan, aparat TNI dan Polri turut dilibatkan untuk memantau distribusi air guna mencegah potensi gejolak di masyarakat.

“TNI dan Polri ikut membantu memantau agar tidak terjadi gejolak di tengah masyarakat,” katanya.

Di sisi keagamaan, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Batam, Lukman Rifa’i, membenarkan adanya rencana pelaksanaan salat istisqa sebagai ikhtiar memohon turunnya hujan.

“Kita lihat perkembangannya dulu. Jika satu sampai dua pekan ke depan cuaca masih seperti ini, ikhtiar keagamaan yang akan dilakukan adalah melaksanakan salat istisqa,” ujarnya.

Terkait teknis pelaksanaan, Lukman menyebut terdapat dua opsi, yakni memusatkan salat di satu lokasi atau melaksanakannya di beberapa titik di setiap kecamatan.

“Ada dua opsi, apakah dipusatkan di satu titik atau dilaksanakan di beberapa titik per kecamatan. Komunitas masjid dan masyarakat juga dipersilakan melaksanakannya,” katanya. (*)

ReporterM. Sya'ban

Update