Jumat, 16 Januari 2026

Wakil Rakyat Kepri Disorot, Akademisi Sebut Pernyataan Endipat Memalukan

spot_img

Berita Terkait

spot_img
Anggota DPR Dapil Kepri, Endipat Wijaya. (dok. JawaPos.com)

batampos – Anggota DPR RI Dapil Kepri dari Partai Gerindra, Endipat Wijaya, tengah menjadi sorotan tajam publik. Pernyataannya terkait donasi para relawan untuk korban bencana di Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh memicu gelombang kritik di media sosial.

Banyak warganet menilai sikap Endipat meremehkan kerja-kerja solidaritas masyarakat di tengah situasi darurat kemanusiaan.

Endipat, yang diketahui berasal dari Bengkulu dan terpilih dari Dapil Kepri, dikecam karena dalam sebuah video yang beredar ia menyebut donasi para relawan dan penggalangan dana publik seolah tidak signifikan serta cenderung bernuansa pencitraan. Kritik tersebut sontak menimbulkan kemarahan publik yang menilai ia gagal menunjukkan empati pada para korban bencana.

Salah satu kritik keras datang dari akademisi Kepri yang juga Ketua III Lembaga Adat Melayu (LAM) Kepri, Zamzami A Karim. Ia menilai pernyataan Endipat bukan hanya tidak etis, tetapi juga mempermalukan masyarakat Kepri yang telah memberikan amanah sebagai wakil rakyat di Senayan.

“Tentu malu kita sebagai orang Kepri ini punya wakil rakyat yang duduk di DPR RI, tapi pernyataannya tidak menunjukkan sensitifitas atau simpati terhadap peristiwa yang menimpa saudara-saudara kita di Sumatera,” katanya, Selasa (9/12).

Baca Juga: Begini Perjuangan Jurnalis Batam Salurkan Bantuan ke 4 Jorong yang Terisolir akibat Bencana Alam di Agam, Sumbar

Menurut Zamzami, penyampaian Endipat bukan sekadar kritik terhadap Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), tetapi juga menyiratkan, bahwa donasi masyarakat, relawan, dan kelompok civil society tidak berarti apa-apa.

“Kalau kita dengar videonya, sangat jelas dia menganggap apa yang dibuat para relawan hanya pencitraan. Itu kesan yang muncul,” kata dia.

Padahal, relawan dan masyarakat bergerak cepat justru karena ada kekosongan respon pemerintah pada fase awal penanganan bencana. Dalam situasi demikian, solidaritas warga menjadi penopang utama.

“Harusnya dia cukup mengkritik Komdigi kalau dinilai lambat. Tidak perlu nyinyir terhadap upaya para penggiat media sosial yang menggalang dana dengan cepat dan langsung,” ujarnya.

Dia pun menyoroti soal ramainya diksi pemerintah ikut “berdonasi” untuk korban bencana. Ia menyebut, pernyataan itu menunjukkan ketidakpahaman terhadap mandat dasar negara.

“Pemerintah tidak berdonasi. Pemerintah punya kewajiban melindungi dan membantu rakyat. Kalau itu disebut donasi, berarti mereka tidak mengerti konsep bernegara,” kata Zamzami.

Sebagai putra daerah Kepri, ia menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat di Sumbar, Sumut, dan Aceh yang tengah berduka. Ia menyebut, pandangan Endipat tidak mewakili suara masyarakat Kepri.

“Saya sungguh malu. Dan mohon maaf kepada saudara-saudara kita yang sedang berduka. Sayang sekali saudara Endipat membuat pernyataan seperti itu,” ujarnya.

Baca Juga: Kasus Korupsi Proyek Dermaga Batuampar P21, Tujuh Tersangka Segera Dilimpahkan ke Jaksa

Zamzami juga menyinggung fakta, bahwa Endipat bukan figur yang dikenal luas oleh publik Kepri, sehingga sikap kontroversialnya justru menambah jarak dengan masyarakat yang diwakilinya.

“Masyarakat Kepri sebenarnya tidak begitu kenal dia. Beliau bisa terpilih lewat Dapil Kepri saja sudah harus bersyukur. Seolah-olah hanya mengambil suara rakyat Kepri untuk duduk di DPR RI,” katanya. (*)

 

Reporter: Arjuna

Update