
batampos – Wali Kota Batam, Muhammad Rudi menyambut baik kebijakan pembebasan syarat masuk bagi wisatawan mancanegara ke Indonesia, termasuk Batam.
Sebagai salah satu pintu masuk bagi wisman, Batam sesungguhnya sudah mengajukan pembebasan syarat masuk ke Batam bagi wisman sejak awal tahun lalu.
Untuk mendukung usulan tersebut, bahkan Batam melakukan survei herd immunity kepada warga Batam baik yang sudah divaksin maupun belum. Tujuannya, untuk mencari tahu kekebalan tubuh terhadap serangan virus Covid-19.
“Tentunya usaha kami selama ini tidak sia-sia. Batam menjadi pendorong diberlakukannya kebijakan ini. Sehingga seluruh Indonesia bisa menerima dampak dari usulan bebas syarat bagi wisma yang ingin berkunjung ke Batam,” sebutnya.
Baca Juga: Masuk Batam & Singapura semakin Mudah
Untuk saat ini, sesuai dengan kebijakan tersebut, wisman bebas dari tes antigen, PCR, bahkan karantina. Menurutnya, selama ini faktor tersebutlah yang membuat angka kunjungan tak bergerak atau stagnan, meskipun pintu masuk dan keluar sudah dibuka.
“Alhamdulillah, semua sudah bebas. Perkembangan kasus juga melandai. Jadi semua bisa cepat menyongsong pemulihan sektor pariwisata,” imbuh Rudi.
Rudi pun yakin, target wisman 2,1 juta orang yang sudah direncanakan tahun in, bisa terwujud. Apalagi Covid-19 sudah terkendali sehingga bisa menjadi pendorong naiknya angka kunjungan wisman ke Batam.
Sebagai kota dengan predikat penyumbang wisman terbanyak kedua, hal ini bisa saja terjadi. Mengingat kebutuhan negara tetangga yang menjadikan Batam sebagai destinasi dalam menghabiskan waktu liburnya.
“Harapan tentu kita semua harus optimis. Paling tidak dalam satu tahun ini upaya terus dilakukan, untuk hasilnya mudah- mudahan bisa maksimal di tahun berikutnya,” ujar Rudi yang juga kepala BP Batam.
Rudi mengakui, Batam masih dihadapkan dengan persoalan harga tiket ke Singapura yang melambung tinggi. Untuk tujuan Singapura, saat ini dijual Rp 800 ribu.
Meskipun sudah ada penjelasan dari operator, Rudi berharap masalah ini tidak berlangsung lama. Seiring dengan meningkatnya angka keberangkatan nantinya.
“Memang ada keluhan. Saya juga sudah tanya langsung operator, ternyata ada cost yang harus ditutupi agar operasional kapal tetap jalan. Sehingga ini dianggap kebijakan yang tepat untuk saat ini,” ujarnya.
Rudi menambahkan, operator tentu tidak sembarangan dalam mengambil kebijakan. Kapal yang berangkat tetap ada, namun jumlah penumpang tidak banyak atau tidak penuh. Sehingga untuk bisa tetap jalan, ada yang harus dikorbankan, yaitu harga tiket.
“Tapi kalau yang melancong kembali ramai harga tiket akan kembali turun,” ucapnya. (*)



