
batampos– Keluhan warga kembali mencuat terkait proyek pemotongan bukit di depan Top 100 Tembesi, Kecamatan Batuaji. Aktivitas pengerukan yang dinilai tak terkendali itu dituding membuat lingkungan sekitar kian rawan, terutama saat hujan deras mengguyur kawasan tersebut.
Retno, salah seorang warga Batuaji, mengungkapkan keresahannya. Menurut dia, akibat bukit digunduli, aliran air bercampur lumpur kerap meluber ke jalan raya. Kondisi ini membuat ruas jalan becek, licin, dan membahayakan para pengendara yang melintas.
“Harus dicek itu, kalau hujan deras, lumpurnya sampai turun ke jalan. Jangan sampai nanti ada korban gara-gara jalan licin,” ujar Retno, Senin (15/9).
BACA JUGA:Â Tiga Rumah yang jadi Mes Karyawan PT Naga Tata Mestika Ludes Terbakar di Bukit Melati, Sagulung
Warga pun mendesak DPRD Kota Batam, khususnya Komisi III yang membidangi pembangunan, segera turun langsung meninjau lokasi. Kritik mengemuka lantaran hingga kini belum terlihat langkah konkret pengawasan dari pemerintah maupun legislatif.
“Kayak hujan sekarang, coba anggota dewan sidak. Biar tahu efeknya, gara-gara bukit digunduli, jalan jadi becek dan kotor,” tambah seorang warga lain dengan nada kesal.
Sorotan publik terhadap proyek ini semakin kuat. Selain mengganggu kenyamanan lalu lintas, dampak lingkungan dari pemotongan bukit dinilai berpotensi memicu longsor jika dibiarkan berlanjut tanpa pengawasan ketat. Situasi ini membuat masyarakat cemas akan keselamatan mereka di kemudian hari.
Menanggapi keresahan warga, Komisi III DPRD Kota Batam menyatakan siap menjadwalkan kunjungan lapangan. Mereka memastikan akan mengecek langsung kondisi di lapangan sekaligus memanggil pihak terkait untuk dimintai keterangan.
“Kami sudah agendakan akan turun ke lokasi pemotongan bukit di depan Top 100 Tembesi,” kata Wakil Ketua DPRD Kota Batam, Arlon Veristo. Warga pun menunggu langkah konkret dari DPRD agar sidak tidak hanya sebatas formalitas, melainkan benar-benar menindaklanjuti praktik pemotongan bukit yang dianggap semrawut dan merugikan masyarakat. (*)
Reporter: Eusebius Sara



