Jumat, 9 Januari 2026

Warga Kavling Tanjung Buntung Sambut Baik Jaringan Air SLK PT ABH, Rosna: Saya Justru Perjuangkan Air Bersih untuk Warga 

spot_img

Berita Terkait

spot_img
Ketua RT 01 RW 02 Kavling Tanjung Bubtung, Rosna bersama Ketua RT 07 RW 02 Anton dan tokoh masyarakat RT 08 RW 02 Ully Sri Purnama Hutabarat meninjau lokasi pengecoran pemasangan pipa air bersih SKL oleh ABH. Foto. Rengga Yuliandra/ Batam Pos

batampos– Warga RT 01 RW 02 Kavling Tanjung Buntung, Kelurahan Tanjung Buntung, Kecamatan Bengkong menyambut baik proyek pemasangan jaringan pipa air bersih Sambungan Langsung Khusus (SLK) oleh PT Air Batam Hilir (ABH) di wilayahnya.

”Warga pun merasa tertipu karena disebut-sebut saya yang menyuruh. Padahal saya tidak tahu menahu soal pengumpulan tanda tangan itu. Bahkan proyek ini sudah kami perjuangkan sejak tahun 2023, tentu tak mungkin kami tiba-tiba ingin mengganti kontraktornya,” tambah Rosna, ketua RT 01 RW 02 Kavling Tanjungbuntung membantah adanya pemberitaan bahwa ada penolakan atas proyek tersebut di wilayahnya.

Proyek tersebut diketahui dikerjakan oleh CV Putra Lumbung Rezeki sebagai kontraktor pelaksana. Rosna dengan tegas menyatakan bahwa tidak ada penolakan dari warga di wilayahnya, dan justru mayoritas warga menyambut baik kehadiran jaringan pipa tersebut.

“Warga mana yang menolak? Dalam berita disebut ada warga bernama Amri. Saya sudah cek satu per satu, tidak ada warga saya yang bernama Amri. Jadi, saya mempertanyakan validitas informasi itu,” ujarnya saat ditemui di Bengkong, Senin (23/6).

BACA JUGA: Nama Dicatut dan Disebut Tolak Proyek Pemasangan Jaringan Pipa Air Bersih, Ketua RT Tanjung Buntung Angkat Bicara

Ia juga membantah tudingan bahwa dirinya menyuruh seseorang bernama Heri Badri untuk mengumpulkan tanda tangan warga guna mengganti kontraktor pelaksana proyek. Menurutnya, informasi tersebut sangat tidak benar dan menyesatkan.

“Saya tidak pernah menyuruh Heri Badri atau siapa pun meminta tanda tangan warga saya. Warga pun merasa tertipu karena disebut-sebut saya yang menyuruh. Padahal saya tidak tahu menahu soal pengumpulan tanda tangan itu. Bahkan proyek ini sudah kami perjuangkan sejak tahun 2023, tentu tak mungkin kami tiba-tiba ingin mengganti kontraktornya,” tambah Rosna.

Ia menyebutkan bahwa warganya justru berterima kasih atas proyek ini karena selama bertahun-tahun mereka mengandalkan air dari koperasi dengan harga yang jauh lebih mahal.

“Selama ini kami bayar air koperasi bisa ratusan ribu rupiah. Sekarang dengan ABH, harganya jauh lebih murah. Saya sebagai RT memperjuangkan kebutuhan air bersih untuk warga. Jadi, ketika ada yang mencatut nama saya untuk menolak proyek ini, saya merasa sangat dirugikan,” tegasnya.

Ia juga mengkritisi munculnya narasumber bernama Amri yang dianggap tidak jelas identitasnya. Ia menduga nama tersebut bisa jadi palsu karena tidak ditemukan dalam daftar warganya.

“Saya cari-cari siapa Amri itu, tidak ada. Saya khawatir ini hanya nama fiktif yang digunakan untuk kepentingan tertentu. Kami meminta media yang membuat berita itu agar turun langsung ke lapangan, jangan hanya mengutip sepihak tanpa klarifikasi kepada pihak yang bersangkutan,” katanya.

Sementara itu, Yanti, salah satu warga RT 01 RW 02 yang ikut diminta menandatangani surat penolakan proyek, mengaku tidak mengetahui isi sebenarnya dari dokumen tersebut. Ia menuturkan bahwa dirinya hanya diminta tanda tangan karena disebut atas permintaan RT.

“Saya ikut tanda tangan karena dibilang RT sudah tanda tangan. Jadi kami pikir ini untuk mendukung. Tapi saya tidak tahu isinya ternyata untuk mengganti kontraktor,” ujar Yanti.

Ia mengaku kecewa karena merasa tidak dijelaskan secara terbuka tujuan surat itu. Ia juga heran mengapa hanya sedikit orang yang diminta tanda tangan.

“Kalau dia bilang ada 32 orang tanda tangan, saya jadi mikir juga kenapa sedikit orangnya. Saya tahu itu bukan orang baru di sini, tapi orang-orang itu juga yang sama. Kenapa cuma segelintir yang diminta tanda tangan. Saya sempat tanya dan mereka jawab mau ganti kontraktor yang lama dengan yang baru karena merusak jalan, ” kata Yanti.

Senada, tokoh masyarakat RT 08 RW 02 Ully Sri Purnama Hutabarat juga mengungkapkan kekecewaannya atas pemberitaan yang menurutnya tidak sesuai fakta di lapangan. Ia menegaskan bahwa proyek masih dalam tahap pengerjaan khususnya di RT 08 RW 02 dan belum selesai.

“Kami justru kaget baca berita itu. Di wilayah kami belum selesai pengerjaannya, tapi sudah ada tudingan pengerjaan asal-asalan. Padahal sistemnya jelas: digali, dipasang pipa, ditutup kembali dan dicor setelah padat. Itu SOP-nya,” ujarnya.

Menurutnya, proyek ini adalah hasil dari aspirasi warga yang sudah lama kesulitan air. Sebelumnya, warga menggunakan sumur bor dengan biaya Rp16 ribu per meter kubik. Kini, mereka hanya perlu membayar sekitar Rp2.000 per meter kubik setelah ABH masuk.

“Kami sangat terbantu. Jadi kalau ada pihak luar yang menyebarkan informasi keliru, tentu kami keberatan. Apalagi yang bicara bukan warga RT 08. Nama yang disebut dalam berita juga tidak ada di daftar warga kami,” ungkapnya.

Ketua RT 07 RW 02, Anton, juga menyuarakan keberatan yang sama. Ia menyebut kontraktor pelaksana bekerja secara profesional dan tidak asal-asalan seperti yang dituduhkan.

“Kami melihat langsung di lapangan. Pengerjaan sesuai gambar teknis dan tahapan. Tidak ada yang dilewati. Jadi tuduhan bahwa kontraktor tidak profesional tidak benar. Justru berita itu yang tidak sesuai kenyataan,” tegas Anton.

Ia mengimbau media untuk melakukan klarifikasi sebelum menaikkan pemberitaan agar tidak merugikan banyak pihak.

“Masyarakat kami jadi resah. Tapi setelah dijelaskan, mereka mengerti bahwa proyek tetap berjalan dan sesuai prosedur,” katanya.

Sebelumnya, dalam pemberitaan salah satu media online disebutkan bahwa proyek SLK oleh ABH menuai gelombang penolakan karena merusak jalan dan dilakukan tanpa koordinasi. Sosok bernama Amri dan Heri Badri menjadi narasumber utama dalam berita tersebut.

Heri mengklaim proyek merusak infrastruktur jalan dan mengancam kenyamanan lingkungan. Namun pernyataannya dibantah para Ketua RT karena ia bukan warga RT 01 maupun RW 02.

“Heri itu bukan warga kami. Dia tinggal di Bengkong Laut. Kenapa dia yang ribut, padahal bukan bagian dari lingkungan ini?” ujar Rosna.

Para Ketua RT di wilayah RW 02 menegaskan bahwa proyek ini adalah hasil aspirasi warga yang sudah lama mendambakan akses air bersih permanen. Mereka berharap tidak ada lagi pihak luar yang mengacaukan suasana dengan informasi tidak benar.

“Kami hanya ingin proyek ini berjalan lancar demi kebutuhan warga. Kalau ada pihak-pihak yang mengaku tokoh masyarakat tapi tidak dikenal di lingkungan sini, kami harap berhenti membuat kegaduhan,” tutup Anton. (*)

Reporter: Rengga

Update