
batampos – Aktivitas pemotongan bukit atau cut and fill di kawasan Bukit Kemuning, Tanjung Piayu dikhawatirkan kembali menimbulkan banjir dan longsor. Rumah warga yang berada di bawah area pengerjaan terkena langsung dampaknya.
Hustiana, warga setempat mengatakan ia saat ini was-was dengan terjadinya longsor dan banjir. Sebab, beberapa tahun lalu, rumahnya dipenuhi lumpur yang turun dari bukit.
“Takut juga kembali lagi. Sekarang hujan terus,” ujarnya.
Ia menjelaskan dengan terjadinya longsor dan banjir tersebut, pihak pengembang PT CSM membangun batu miring dan parit tepat di belakang rumahnya.
Baca Juga: Jelang Nataru, Dua Komoditas Masih Krisis di Batam
“Tapi rasanya belum cukup, batu miring dan parit ini harus dipelebar. Agar bisa menahan tanah dan air yang turun,” katanya.
Ia mengaku dalam bencana beberapa tahun lalu, pihak pengembang tidak melakukan ganti rugi. Padahal, beberapa perabotan dan barang elektronik rumahnya rusak.
“Tidak ada ganti rugi. Makanya jangan sampai ada lagi bencana seperti kemarin,” ungkapnya.
Diketahui, aktivitas cut and fill ini sudah berjalan sejak tahun 2017. Dua tahun pembukaan lahan perumahan, lumpur dan air turun dari lereng bukit dan melanda rumah warga.
Ketua RW 16 Perumahan Bukit Kemuning, Supardi mengatakan proyek pembangunan perumahan tersebut sempat dihentikan warga karena terjadi banjir dan longsor.
Baca Juga: Lansia Diadili atas Dugaan Kekerasan Seksual Terhadap Penyandang Disabilitas
“Kami RT, RW, tokoh masyarakat menyetop proyek ini. Dan pengembang sepakat menyelesaikan dulu dampak lingkungannya,” katanya.
Ia menjelaskan pihak pengembang sepakat untuk membanhun batu miring, parit, gorong-gorong, hingga peninggian jalan. Ia berharap aktivitas pengembang ini tidak lagi merugikan masyarakat setempat.
“Sampai saat ini tidak ada lagi (banjir). Sudah mengurangi dan diantisipasi,” tutupnya. (*)
Reporter: Yofi Yuhendri



