
batampos – Fenomena membludaknya warga Singapura yang datang ke Batam untuk berbelanja kebutuhan pokok dalam beberapa waktu terakhir menjadi sorotan. Lonjakan kunjungan itu terlihat dari ramainya pusat perbelanjaan, pasar tradisional, hingga pelabuhan yang dipadati wisatawan mancanegara, khususnya dari Negeri Singa dan Malaysia.
Pemerintah Kota (Pemko) Batam, melalui Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Batam, Ardiwinata, menilai tren tersebut sebagai perkembangan positif bagi sektor pariwisata Batam.
Menurutnya, sejak lama Batam memang menjadi destinasi favorit wisatawan Singapura dan Malaysia, terutama untuk wisata belanja.
“Dari dulu masyarakat Singapura dan Malaysia itu senang berbelanja di Batam,” ujar Ardiwinata saat dihubungi Batam Pos, Jumat (26/2) siang.
Ia menjelaskan, Batam memiliki beragam daya tarik wisata yang saling terintegrasi, mulai dari sport tourism, wisata budaya (culture), religi, heritage, hingga shopping tourism. Belanja, kata dia, memang menjadi salah satu magnet utama kunjungan wisman ke Batam.
Terkait isu yang menyebutkan jumlah warga Singapura yang masuk bisa mencapai 10 ribu orang dalam periode tertentu, Ardiwinata menegaskan bahwa data resmi kunjungan mengacu pada rilis Badan Pusat Statistik (BPS).
“Data kunjungan dihitung per bulan oleh BPS. Rilisnya biasanya bulan berikutnya, bahkan bisa dua bulan setelah periode berjalan. Jadi kami tidak bisa mendata sendiri, semuanya berdasarkan data BPS,” jelasnya.
Ia menambahkan, data terbaru yang tersedia saat ini adalah per Desember 2025. Pada bulan tersebut, total kunjungan wisman tercatat mencapai sekitar 190 ribu orang.
“Itu data resmi per bulan, dan ada spesifikasinya dari Singapura dan Malaysia. Memang dua negara itu yang paling dominan, dan trennya naik setiap bulan, terutama Malaysia,” katanya.
Artinya, untuk data Januari 2026, publik baru bisa melihat angka resminya pada Maret mendatang setelah dirilis BPS.
Ardiwinata menilai meningkatnya kunjungan ini berdampak signifikan terhadap sektor ritel, pusat perbelanjaan, restoran, hingga destinasi wisata lainnya. Aktivitas mal dan pasar tradisional terlihat lebih ramai, terutama pada akhir pekan dan hari libur.
Menurutnya, fenomena ini merupakan peluang strategis untuk mendorong penguatan shopping tourism di Batam. Selain belanja kebutuhan pokok, wisatawan mancanegara juga dikenal gemar berburu kuliner khas Indonesia.
“Wisatawan Malaysia suka rendang, orang Singapura suka ayam penyet. Itu selalu mereka cari. Di samping belanja kebutuhan lain,” ujarnya.
Tak hanya menikmati kuliner di tempat, wisatawan juga kerap membawa pulang oleh-oleh khas Batam seperti kue lapis dan berbagai jenis keripik.
“Itu sudah dari dulu. Mungkin sekarang dengan kurs yang relatif menguntungkan, belanja mereka jadi lebih banyak. Ini tentu hal yang menggembirakan bagi kita,” kata Ardiwinata.
Dengan tren yang terus meningkat, Disbudpar melihat momentum ini sebagai peluang untuk memperkuat promosi Batam sebagai destinasi belanja dan kuliner unggulan di kawasan perbatasan.
Dukungan aksesibilitas yang dekat dengan Singapura dan Malaysia menjadi nilai tambah tersendiri bagi Batam dalam menarik arus wisatawan lintas negara.
Lonjakan kunjungan ini bukan sekadar angka statistik, melainkan sinyal bahwa Batam tetap menjadi rumah belanja favorit bagi warga negara tetangga.(*)



