Rabu, 14 Januari 2026

Warga Tanjunguma Datangi Kantor ABH, Ini Tujuannya

spot_img

Berita Terkait

spot_img
Warga Tanjunguma usai pertemuan dengan pihak ABH. f. syaban

batampos – Air tidak mengalir selama lebih dari satu tahun membuat warga Tanjung Uma, Kampung Agas, Kecamatan Lubuk Baja, geram. Pada Senin (23/11) pagi, sekitar 20 warga dari RT 01, RT 02, dan RT 03 RW 04 mendatangi kantor Air Batam Hilir (ABH) di Batam Center.

Salah satu warga membawa peralatan mandi seperti sikat gigi, sabun, hingga handuk, sebagai bentuk protes simbolis karena selama ini mereka bahkan kesulitan untuk sekadar mandi.

Warga mengaku sudah mengalami krisis air sejak PT ATB berhenti beroperasi dan pengelolaan air diambil alih oleh ABH. Kondisinya semakin memburuk dalam setahun terakhir, mulai dari air yang hanya menetes kecil hingga mati total.

BACA JUGA: Waduk Duriangkang Kembali Dibersihkan, BP Batam Fokus Pulihkan Kualitas Air Baku

Taharudin, salah satu warga, mengatakan suplai air di kampungnya sudah bermasalah sejak satu setengah tahun terakhir. “Kadang keluar, kadang tidak sama sekali. Satu kampung ini enam RT susah semua. Air bersih sulit, air mandi saja susah,” ujarnya.

Ketua RT 01, Priyono, menambahkan bahwa warga hanya bisa menikmati air sekitar satu hingga dua jam saja setiap hari. “Hidup jam 3, mati jam 5. Setelah itu ya sudah, mati lagi,” katanya.

Karena kondisi yang tak kunjung membaik, sebagian warga terpaksa membeli air drum dari penjual keliling seharga Rp15 ribu per drum. “Bukan hanya volumenya kecil, tapi ada juga sebagain yang mati total,” tegas Priyono.

Ia sendiri mengaku sudah dua hari tidak mandi. “Saya bawa odol, sikat gigi, sabun, handuk. Kalau disuruh mandi, saya mandi di sini,” ujarnya sambil menunjukkan perlengkapan mandinya di depan kantor ABH.

Dalam konsolidasi di kantor ABH, warga menuntut agar suplai air segera normal kembali. Mereka meminta BU BP Batam, BU SPAM, dan PT ABH turun langsung meninjau kondisi jaringan perpipaan yang dianggap tidak mampu lagi menyuplai air ke rumah warga.

Humas ABH, Ginda Alamsyah, mengakui masalah suplai air di Tanjung Uma terjadi karena kapasitas jaringan perpipaan sudah tidak memadai. Pipa utama yang mengalirkan air ke wilayah itu sudah berusia lama dan tidak lagi mampu menampung pertumbuhan pelanggan yang terus meningkat.

“Pipa di sana memang sudah cukup lama sehingga alirannya terganggu. Menurut warga, harus ada perbesaran pipa. Karena pelanggan semakin bertambah,” jelas Ginda.

Ginda mengatakan pihaknya telah dua kali menerima keluhan serupa. Pada Februari lalu, ABH sudah melakukan perbaikan, namun hasilnya belum signifikan sehingga warga kembali datang membawa tuntutan.

Menanggapi tuntutan warga, ABH berjanji akan melakukan peninjauan lapangan dalam waktu dekat bersama SPAM. “Mereka mendesak agar suplai air segera diatasi. Minggu ini kami akan turun ke lokasi bersama SPAM,” kata Ginda.

Ia memastikan ABH akan memaksimalkan perbaikan jaringan dan mencari solusi agar warga Tanjung Uma tidak lagi mengandalkan air drum untuk kebutuhan sehari-hari. (*)

Reporter: Syaban

Update