Rabu, 14 Januari 2026

Waspada Ancaman Senyap: Ratusan Warga Batam Terdeteksi Diabetes Lewat Skrining Dini

Dinkes Tekankan Gaya Hidup Sehat dan Perluas Cakupan Deteksi

spot_img

Berita Terkait

spot_img
Ilustrasi. Foto: Pixabay.com

batampos – Diabetes melitus (DM) menjadi ancaman kesehatan senyap yang makin mengintai warga Kota Batam. Minimnya gejala pada tahap awal membuat banyak penderita baru menyadari penyakitnya setelah komplikasi mulai muncul.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batam, Didi Kusmarjadi, mengungkapkan dari hasil skrining pelayanan kesehatan standar minimal (SPM) pada triwulan pertama 2025, sebanyak 1.358 kasus DM ditemukan dari total 4.178 warga yang diperiksa.

“Padahal target tahunannya 16.280 orang, artinya baru 25 persen yang diperiksa, tapi sudah ditemukan lebih dari seribu kasus. Ini mengindikasikan bahwa banyak kasus DM yang tidak terdeteksi sebelumnya,” ujarnya.

Didi menekankan, diabetes kerap tak menunjukkan gejala yang nyata hingga memasuki tahap lanjut.

“Banyak penderita baru tahu ketika sudah ada komplikasi, seperti gangguan jantung, gagal ginjal, atau bahkan kebutaan. Ini yang kami khawatirkan,” tambahnya.

Penyebab utama dari kondisi ini bukan hanya genetik, tapi juga pola hidup masyarakat perkotaan yang cenderung tidak sehat.

“Konsumsi gula dan karbohidrat olahan, lemak jenuh, serta minimnya sayur dan serat sangat dominan. Ditambah kurang aktivitas fisik dan stres,” papar Didi.

Faktor risiko lain yang juga berkontribusi adalah obesitas, merokok, konsumsi alkohol berlebihan, hingga gangguan hormon seperti Polycystic Ovary Syndrome (PCOS).

Untuk menekan risiko, Dinkes Batam berkomitmen memperluas cakupan skrining dan mengintensifkan edukasi gaya hidup sehat.

“Deteksi dini sangat penting agar penderita bisa mengatur pola makan, mulai rutin berolahraga, dan mencegah komplikasi lebih lanjut,” ujarnya.

Ia juga mengimbau masyarakat, terutama yang berusia di atas 45 tahun atau memiliki riwayat keluarga dengan diabetes, agar tidak menunda pemeriksaan kesehatan.

“Jangan menunggu sampai sakit parah. Lebih baik tahu lebih cepat, agar bisa hidup lebih sehat,” tutupnya. (*)

Reporter: Rengga Yuliandra

Update