
batampos – Sektor pariwisata di Batam mulai berangsur pulih usai dua tahun mati suri akibat dihantam pandemi Covid-19. Tingkat kunjungan Wisatawan Mancanegara (Wisman) asal Singapura juga meningkat dan ramai datang ke Batam.
Tidak hanya hanya menikmati tempat-tempat wisata di daerah mainland seperti berbelanja di sejumlah mal di Batam saja.
Sejumlah pulau yang ada di Batam seperti Pulau Karas Besar dan Anak Karas, Sembulang yang menyimpan potensi alam yang luar biasa juga menjadi tujuan para wisman ini untuk menikmati keindahan alam laut.
Seperti Jumat (3/6/2022) siang lalu misalnya. Puluhan wisman asal Singapura, yang kesemuanya merupakan sukarelawan dari Dls Caring Community dedicated locals self before self, berkunjung ke Pulau Karas Besar dan Anak Karas.
Selain untuk menikmati keindahan alam di dua pulau tersebut, mereka juga ingin melihat langsung keberlangsungan habitat lautan yang hampir punah saat ini di dunia yakni penyu sisik.
Sekaligus melakukan pelepasan penyu serta pembersihan karang-karang yang menempel di cangkang penyu.
Pelepasan penyu oleh wisman Singapura juga didampingi oleh duta penyu Kota Batam yakni masih usia anak-anak yakni Adam, Keanu, serta Shakira.
Didampingi belasan tim dari Yayasan Maritim dan Kelautan Indonesia Sejahtera, puluhan wisman asal Singapura ini disambut hangat warga Pulau Karas dengan dijamu makan siang khas menu masakan seafood.
Kedatangan puluhan wisman yang juga sukarelawan ini ke Pulau Karas, selain menikmati keindahan alam laut dan pulau-pulau yang masih asri, juga ingin mengetahui kehidupan satwa laut, pengembangbiakkan satwa yang hampir punah yakni penyu jenis sisik yang ada di perairan Pulau Karas.
Seperti yang dikatakan pendiri sekaligus ketua bidang maritim dan kelautan dari Yayasan Maritim dan Kelautan Indonesia Sejahtera, Oesman Hasyim.
Pihaknya sengaja mengundang dan mendatangkan puluhan wisman sekaligus sukarelawan asal Singapura ke Pulau Karas untuk mengenalkan ke sejumlah negara bahwa di Batam ada Pulau yang dijadikan sebagai eco wisata, tempat konservasi satwa yang hampir punah yakni penyu sisik.
“Keindahan alam di Batam tak hanya bisa dinikmati di daerah mainland saja,” ujarnya.
Karena lanjtunya, masih ada tempat lainnya di Batam yang menyimpan keindahan alam yang luar biasa, yakni di daerah hinterland.
Selain dapat menikmati kelebihan dan keindahan pulau-pulau di sekitar Karas Sembulang, wisman lanjutnya, bisa belajar dan mendapatkan edukasi bagaimana kehidupan penyu sisik yang jumlahnya tak lebih dari 10 persen dari populasi penyu sisik di dunia.
Serta bagaimana cara melindungi habitat kura-kura langka ini, bagaimana merawatnya agar keberadaannya bisa tetap eksis.
Ia menjelaskan, banyaknya pulau-pulau di Batam sangat indah, tak mustahil kedepannya akan jadi incaran investor.
Karena lanjutnya, baik dari letak pulau yang strategis, potensi alam yang luar biasa memiliki magnet daya tarik yang luar biasa ke wisman.
Untuk itulah, keberadaan habitat yang ada di dalamnya harus tetap dijaga keberlangsungan hidupnya dari kepunahan sebagai nilai tambah yang lebih.
“Boleh saja pulau-pulau seperti Karas ini dijadikan objek wisata, tapi harus diatur dengan seksama karena di alamnya tersimpan biota laut yang hampir punah yakni penyu sisik. Harus diatur dimana wilayah untuk tangkapan ikan nelayan, dimana titik untuk wilayah konservasi penyu dan dimana titik untuk wisman menikmati keindahan pulau dan alamnya di Karas,” terangnya.
Karena di perairan Karas ini merupakan lalulintas penyu, maka pihaknya harus ikut andil menjaga dan menyelamatkan biota laut penyu sisik ini.
“Kami ingin membantu pemerintah untuk memberikan masukan, aksi nyata, sehingga seluruh potensi yang ada di sini, bisa dikembangkan menjadi wisata bahari, eco wisata,” jelasnya.
Kata dia, edukasi, penyuluhan dan kampanye-kampanye penyelamatan penyu harus dilakukan agar masyarakat memahami pentingnya keberadaan penyu.
Karena penyu merupakan satu hewan yang memiliki masa waktu hidupnya panjang, serta tingkat kepunahan yang sangat parah.
“Selain itu keberadaan penyu di Perairan Karas ini merupakan magnet utama para wisman dan peneliti dunia untuk datang melakukan penelitiannya,” tegasnya.
Sementara pembina sekaligus pendiri Karas turtles rescue and rehabilitation, Rahman Usman, mengatakan, nantinya di bulan Agustus akan ada puluhan peneliti dari luar negeri, dari sejumlah universitas ternama di Singapura seperti dari NUS, Nanyang dari Jepang dan Amerika yang datang ke Pulau Karas dengan tujuan penelitian selama kurang lebih seminggu.
“Nantinya puluhan peneliti dari luar negeri ini didampingi Profesor asal Universitan Maritim Raja Ali Haji (UMRAH). Mereka akan beraktivitas melakukan penelitian selama kurang lebih seminggu. Mereka akan tinggal di rumah-rumah masyarakat Karas yang artinya akan memberikan tambahan pendapatan ke masyarakat Pulau Karas,” ujarnya.
Sementara dari Karas Isle Project, Malawi, mengatakan, biota laut yang ada di perairan Pulau Karas ini banyak dibutuhkan para peneliti dari manca negara untuk melengkapi kebutuhan penelitian mereka, untuk melengkapi literasi pendidikan di universitas.
“Makanya tak heran kalau di Pulau Karas ini tak mustahil nantinya akan jadi magnet sorotan dunia dan para penelitinya, karena tersimpan potensi alam yang hampir punah, biota laut yang hampir punah yang di perairan lainnya belum tentu ada yakni penyu-penyu seperti penyu sisik ini,” tuturnya.
Untuk mengimplementasikan hal tersebut, terbentuklah Karas Isle Project yang yang utamanya lebih ke arah turtle rescue and rehabilitation centre.
Berdasarkan data dari Karas Isle, beberapa jenis penyu keberadaannya saat ini hampir punah. Seperti misalnya penyu sisik yang ada di Perairan Karas hanya tersisa sekitar 10 sampai 15 persen saja dari populasi yang ada di dunia.(*)
Reporter: Galih Adi Saputro



