Kamis, 7 Mei 2026

Nilai Tukar Dolar Singapura Turun Tidak Berdampak Pada Ekspor Batam

Berita Terkait

Ilustrasi. Aktivitas di Pelabuhan Batu Ampar. BPS Kota Batam mencatat nilai ekspor Batam pada September 2021 naik sebesar 3,97 persen dibanding ekspor Agustus 2021. Total nilai ekspor Batam mencapai 1.020,29 juta dolar Amerika Serikat (AS). Foto: BP Batam untuk Batam Pos

batampos – Penurunan nilai tukar dolar Singapura masih berlanjut pada perdagangan Kamis (10/3/2022) lalu. Alhasil, kurs dolar Singapura jeblok hingga 0,86 persen ke kisaran Rp 10.470 per dolar.

Level tersebut merupakan yang terendah sejak 28 Desember lalu. Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Kota Batam, Rafki Rasyid, mengatakan, ketika kurs mata uang asing melemah, baik itu dolar Singapura maupun dolar AS, akan berdampak pada barang yang diekspor maupun diimpor.

Sebab, ketika rupiah menguat terhadap mata uang asing, maka para importir akan diuntungkan.

”Karena harga barang yang diimpor tersebut akan menjadi lebih murah jika dikonversikan ke nilai rupiah,” ujar Rafki.

Namun, hal itu tidak berlaku bagi eksportir karena barang yang diekspor dari Indonesia akan menjadi lebih mahal di pasar internasional. Para eksportir di Indonesia, akan diuntungkan ketika rupiah melemah.

”Karena pembayaran diterima dalam mata uang asing. Ketika dikonversi ke rupiah nilai rupiahnya jadi lebih banyak,” tuturnya.

Namun, ia menilai pergerakan mata uang dolar Singapura saat ini, fluktuasinya masih dalam batas normal. Meskipun saat ini nilai tukar dolar Singapura melemah, ia melihat belum memengaruhi ekspor barang dari Batam.

”Net ekspor dari Batam masih akan positif untuk beberapa bulan ke depan, bahkan sampai akhir tahun ini,” imbuhnya.

Sebagaimana diketahui, sentimen pelaku pasar yang membaik sejak Kamis (10/3/2022) malam membuat rupiah perkasa. Nilai tukar SGD dibuat jeblok hingga di bawah Rp 10.500, tetapi Jumat (11/3/2022) nilai tukar mata uang Singapura mulai menguat ke posisi Rp 10.508,17.

Membaiknya sentimen pelaku pasar terlihat dari menguatnya bursa saham global. Hal ini terjadi setelah harga minyak mentah berbalik menukik.

Uni Emirat Arab dan Irak menyatakan akan mendukung kenaikan produksi minyak mentah OPEC guna mengimbangi gangguan suplai dari Rusia.

Hal tersebut membuat harga minyak mentah seketika anjlok, minyak jenis Brent bahkan sempat minus hingga 17 persen.

Turunnya harga minyak mentah disambut baik pelaku pasar, sebab bisa mengurangi tekanan inflasi yang membuat sentimen pelaku pasar membaik dan kembali ke aset-aset berisiko, yang tentunya menjadi sentimen positif bagi rupiah.(*)

Reporter: Eggi Idriansyah

UPDATE