batampos.co.id – Minyak goreng murah mulai disalurkan ke retail modern di Batam. Karena jumlahnya terbatas, maka pembelian untuk per orangnya juga akan dibatasi.
Pemerintah menetapkan harga minyak goreng tersebut Rp 14 ribu per liternya. Kuotanya 11 juta liter hingga akhir tahun.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Batam, Gustian Riau, mengatakan, minyak goreng murah seperti yang dijanjikan pemerintah pusat mulai disalurkan ke Batam. Namun, minyak tersebut hanya tersedia di retail modern.
”Minyak goreng murah sudah mulai disalurkan. Dijual hanya di retail modern,” ujar Gustian.
Minyak goreng itu dijual jauh dari harga pasaran yakni Rp 14 ribu. Karena itu, pembelian juga dibatasi, agar tak disalahgunakan.
”Harganya di bawah pasaran pastinya,” katanya.
Di sisi lain, pihaknya masih menunggu tindak lanjut surat yang dikirim beberapa waktu lalu, terkait harga minyak. Ia yakin, ada tindak lanjut dari pemerintah karena Batam berbeda dari daerah lain.
”Kami tetap mengupayakan khusus untuk Batam, karena memang Batam beda dari daerah lain.”
Menurut dia, lokasi Batam yang berdekatan dengan negara tetangga harus mendapat perhatian khusus. Apalagi Batam merupakan daerah bisnis.
”Nah, kapannya itu yang sedang ditunggu, mereka juga tengah menghitung berapa yang mau di-support untuk Batam,” ujarnya.
Sementara itu, di beberapa retail modern harga minyak goreng per liternya masih di atas Rp 15.500-18.000.
Belum ada tanda-tanda minyak goreng harga Rp 14 ribu per liternya.
Adapun jalur distribusi yang dilalui minyak goreng untuk sampai di masyarakat cukup panjang. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Kepri, ada empat jalur yang dibutuhkan untuk mengantarkan minyak goreng sampai ke masyarakat.
”Distribusi perdagangan komoditas minyak goreng dari produsen sampai konsumen akhir di Kepri melibatkan sejumlah pelaku perdagangan,” kata Kepala BPS Kepri, Darwis Sitorus, Selasa (23/11).
Pelaku utama yang terlibat dalam proses distribusi ini yakni terdiri dari distributor, pedagang grosir dan pedagang eceran, yang kemudian berakhir di konsumen.
Darwis mengungkapkan, bahwa pola yang ada saat ini berubah dibanding 2018 lalu. Sejak 2020, memang telah bertambah satu rantai distribusi.
Tiga tahun yang lalu, polanya dari produsen menuju distributor, kemudian supermarket dan swalayan, baru kemudian ke konsumen akhir.
Berdasarkan hasil survei pola distribusi, Kepri melakukan pembelian minyak goreng dari empat provinsi lain yakni Sumatra Utara, Riau, Jambi dan DKI Jakarta. ”Kepri juga melakukan penjualan ke Riau,” imbuhnya.
Hasil survei pola distribusi juga menunjukkan bahwa Margin Perdagangan dan Pengangkutan Total (MPP) komoditas minyak goreng di Kepri yakni 34,18 persen.
”Hal tersebut mengindikasikan bahwa kenaikan harga minyak goreng dari produsen sampai ke konsumen akhir berdasarkan pola utamanya adalah sebesar 34,18 persen,” ujarnya.
Sebagai gambaran, dari produsen ke distributor, produsen mengambil untung dari kenaikan harga jual sebesar 6,78 persen.
Sementara dari distributor ke pedagang grosir, terjadi kenaikan harga 15,45 persen. Dari pedagang grosir ke pedagang eceran, naik 8,84 persen.
Dan ketika sampai di konsumen akhir yakni masyarakat, harganya telah meningkat sampai 34,18 persen, dari harga awal produsen. Kenaikan terbesar terjadi saat minyak goreng dibeli dari pedagang eceran. (*)
Reporter : Yashinta, Rifki Setiawan Lubis

