Selasa, 27 Januari 2026

Buku “Srikandi Mengawasi Pemilu” Dibedah di Batam

spot_img

Berita Terkait

spot_img
Bedah buku Srikandi Mengawasi Pemilu di di Ballroom Hotel Asia Link, Batam, Selasa (12/8).

batampos – Peran perempuan dalam menjaga integritas demokrasi mendapat sorotan khusus dalam peluncuran dan bedah buku Srikandi Mengawasi Pemilu yang digelar Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) RI di Ballroom Hotel Asia Link, Batam, Selasa (12/8). Buku ini tak hanya mengisahkan kiprah para perempuan pengawas pemilu, tetapi juga menjadi upaya merekonstruksi sejarah yang kerap bias patriarki dan kolonialisme.

Ketua Panitia, Haryo Sudrajat, mengatakan bedah buku ini menjadi ajang refleksi sekaligus apresiasi terhadap peran penting perempuan dalam pengawasan pemilu. “Perempuan bukan sekadar pemilih. Mereka juga pelopor, penggerak, dan pengawas demokrasi,” ujarnya.

Menurut Haryo, kegiatan ini tidak hanya membedah isi buku, tetapi juga menyebarluaskan nilai dan pengalaman yang terkandung di dalamnya untuk mendorong partisipasi aktif perempuan di pemilu mendatang.

Baca Juga: Kak Seto: Batam Harus Jadi Kota Ramah Anak, Bukan Panggung Kekerasan

Ketua Bawaslu Kepri, Zulhadril Putra, menyebut Batam dipilih sebagai lokasi bedah buku karena memiliki posisi strategis dan baru pertama kali menjadi tuan rumah kegiatan tersebut. “Kami ingin memberikan fasilitasi terbaik agar kegiatan ini bermanfaat dan menyemangati kawan-kawan pengawas di daerah,” katanya.

Sementara, Tenaga Ahli Bawaslu RI sekaligus editor buku, Apriyanti Marwah, menyebut Batam sebagai lokasi strategis yang menyimpan banyak kisah perjuangan perempuan yang belum banyak terungkap.

“Buku ini mengingatkan kita pada peran besar perempuan yang ikut berpikir, bergerak di masyarakat, bahkan berjuang di medan perang. Mereka bukan sekadar objek, tetapi subjek sejarah,” ujar Apriyanti.

Buku ini ditulis oleh 30 penulis, termasuk dua perempuan Bawaslu Kepri, yakni Maryamah, Kepala Divisi Pencegahan, Partisipasi Masyarakat, dan Humas, serta Rosnawati, Kepala Divisi Penanganan Pelanggaran Data dan Informasi.

Maryamah mengungkap tantangan ganda yang dihadapi perempuan pengawas pemilu. Selain harus berhadapan dengan dinamika politik di lapangan, mereka juga memikul “perang domestik” di rumah.

“Kita harus menempatkan kepentingan negara di atas kepentingan pribadi. Saat tugas mendadak datang, kita wajib profesional, menyimpan masalah pribadi di ‘peti ajaib’ untuk diselesaikan nanti,” kata Maryamah.

Baca Juga: Pohon Tumbang Tutup Total Jalan di Sekupang, Pengendara Terpaksa Putar Balik

Sementara itu, Rosnawati menceritakan pengalamannya menembus stigma di dunia pengawasan pemilu. Sebagai perempuan berhijab syar’i, ia mengaku sering mendapat cibiran, bahkan dari sesama rekan kerja.

“Banyak yang meragukan kemampuan saya memimpin divisi penanganan pelanggaran. Tapi saya memilih membuktikan dengan kerja nyata, profesional, dan kolaborasi yang kuat,” tutur Ka Ros, sapaan akrabnya.

Menurut Rosnawati, kehadiran perempuan di posisi strategis pengawasan pemilu membuktikan bahwa demokrasi membutuhkan keberagaman perspektif. “Kerja keras adalah jawaban terbaik untuk semua keraguan,” tegasnya.

Bedah buku ini menjadi bagian dari rangkaian peluncuran Srikandi Mengawasi Pemilu yang sebelumnya telah digelar di Aceh dan Sumatera Selatan. Setelah Batam, kegiatan serupa akan dilanjutkan di sejumlah daerah lain di Indonesia. (*)

 

Reporter: Yashinta

 

Update