Jumat, 27 Maret 2026

Tak Sekadar Lomba, Ini Kata Asosiasi Pariwisata Bahari Terkait Sport Tourism

spot_img

Berita Terkait

spot_img
Kepala Disbudpar Batam, Ardiwinata, membuka acara The 1st Batam Golf Tournament beberapa waktu lalu. f. istimewa

batampos – Istilah sport tourism kerap dipertukarkan dengan event sport. Padahal, keduanya memiliki perbedaan mendasar, terutama dalam dampaknya terhadap perekonomian daerah. Di Kepulauan Riau, perbedaan itu mulai terlihat nyata seiring berkembangnya sejumlah agenda olahraga berkelas internasional yang terintegrasi dengan sektor pariwisata.

Perwakilan Asosiasi Pariwisata Bahari Indonesia sekaligus Direktur Eksekutif Forum Jurnalis Pariwisata (FJP) Kepri, Surya Wijaya, menilai sport tourism bukan sekadar penyelenggaraan kompetisi olahraga. Konsep ini, kata dia, menempatkan olahraga sebagai pintu masuk untuk menggerakkan aktivitas wisata secara menyeluruh.

“Sport tourism bukan hanya soal event, tetapi bagaimana kegiatan itu menarik wisatawan dan memberi dampak ekonomi langsung bagi masyarakat,” ujarnya, Rabu (25/3).

Dalam skema ini, olahraga menjadi pemicu pergerakan sektor lain—mulai dari usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), perhotelan, transportasi, hingga destinasi wisata di sekitar lokasi kegiatan.

Wisatawan yang datang tidak hanya bertanding atau menonton, tetapi juga menginap, berbelanja, dan menjelajahi kawasan.

Fenomena ini berbeda dengan event sport yang cenderung berhenti pada kompetisi. Lomba lari 5K atau 10K, misalnya, sering kali tidak dirancang untuk menarik wisatawan dari luar daerah dalam skala besar, sehingga dampak ekonominya terbatas.

“Kalau hanya event olahraga, nilai tambahnya tidak maksimal. Sport tourism itu dirancang sebagai pengalaman wisata,” kata Surya.

Konsep sport tourism sendiri berkembang dari kebutuhan untuk memperluas manfaat event olahraga. Kompetisi tidak lagi berdiri sendiri, melainkan dikemas bersama promosi destinasi, paket perjalanan, serta pelibatan pelaku usaha lokal. Dari sinilah lahir model pariwisata berbasis olahraga yang kini menjadi tren global.

Di Kepulauan Riau, praktik tersebut sudah berjalan. Salah satu contoh yang kerap disebut adalah Bintan Triathlon di kawasan Lagoi, Kabupaten Bintan. Ajang ini memadukan renang, sepeda, dan lari, serta rutin menarik ratusan hingga ribuan peserta dari puluhan negara.

Kehadiran peserta mancanegara bukan hanya memeriahkan lomba, tetapi juga meningkatkan kunjungan wisata dan memperkuat citra Bintan sebagai destinasi olahraga kelas dunia.

Contoh lain adalah Mandiri Bintan Marathon yang menggabungkan olahraga dengan promosi budaya dan lanskap alam lokal.

Ajang ini bahkan telah menjadi ikon sport tourism Kepri karena menghadirkan pengalaman wisata yang menyatu dengan aktivitas olahraga.

Batam pun mulai mengikuti jejak tersebut. Salah satunya melalui Jambore Sepeda Lipat Nasional yang sukses menarik ribuan peserta dari berbagai daerah, bahkan mancanegara.

Kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang komunitas, tetapi juga mendorong pergerakan ekonomi lokal selama penyelenggaraan.

Kawasan Lagoi sendiri telah lama diposisikan sebagai pusat sport tourism, dengan penyelenggaraan rutin berbagai event internasional seperti triathlon dan balap sepeda, didukung infrastruktur pariwisata dan daya tarik pantai.

Menurut Surya, keberhasilan Kepri menunjukkan bahwa olahraga dapat menjadi instrumen efektif untuk menggerakkan ekonomi daerah—asal dirancang dengan pendekatan pariwisata.

“Ketika event olahraga dikemas menjadi sport tourism manfaatnya tidak hanya dirasakan atlet, tetapi juga masyarakat luas,” ujarnya.

Di tengah persaingan destinasi, pendekatan ini memberi nilai lebih: bukan hanya keramaian sesaat, melainkan perputaran ekonomi yang berkelanjutan.(*)

ReporterAzis Maulana

UPDATE