
batampos – Kapal kargo Golden Star 1 berbendera Tanzania tenggelam di jalur pelayaran internasional Selat Singapura pada Jumat (5/6) malam. Insiden tersebut menyebabkan 107 kontainer yang diangkut kapal hanyut dan tersebar di perairan salah satu jalur pelayaran tersibuk di dunia.
Beruntung, seluruh awak kapal yang merupakan warga negara Indonesia berhasil dievakuasi dalam keadaan selamat.
Berdasarkan informasi yang diperoleh, kapal dengan Gross Tonnage (GT) 1.479 itu berlayar dari Singapura menuju Pasir Gudang, Malaysia. Kapal dinakhodai Ageng Sulistiawan dan diawaki sembilan kru WNI.
Kapal dilaporkan mengalami kebocoran serius pada bagian forepeak. Kebocoran tersebut berkembang sangat cepat hingga kapal kehilangan daya apung dan akhirnya tenggelam di wilayah VTIS East, Selat Singapura.
Kepala Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Khusus Batam, M. Takwim Masuku, mengatakan pihaknya menerima informasi kondisi darurat kapal sekitar pukul 21.30 WIB.
Menindaklanjuti laporan tersebut, KSOP Khusus Batam langsung mengerahkan Kapal Negara KN P-376 menuju lokasi untuk melaksanakan operasi penyelamatan.
“Seluruh awak kapal yang berjumlah sembilan orang berhasil dievakuasi dan diselamatkan dalam keadaan selamat oleh KN P-376 KSOP Khusus Batam,” ujar Takwim.
Setelah proses evakuasi, seluruh kru dibawa ke Dermaga Bintang 99, Batuampar. Mereka kemudian menjalani pemeriksaan kesehatan oleh Balai Kekarantinaan Kesehatan Batam sebelum diserahkan kepada Polairud Polresta Barelang untuk pemeriksaan lanjutan di Rumah Sakit Bhayangkara Polda Kepri.
Selain fokus pada penyelamatan awak kapal, otoritas maritim kini juga menghadapi tantangan akibat hanyutnya 107 kontainer di perairan Selat Singapura.
Kontainer-kontainer yang terapung tersebut berpotensi membahayakan kapal niaga, kapal tanker, maupun kapal penumpang yang melintasi kawasan tersebut.
Untuk mengantisipasi risiko kecelakaan pelayaran, Vessel Traffic Service (VTS) Batam terus menyiarkan peringatan navigasi kepada seluruh kapal yang melintas. Informasi kondisi perairan disampaikan secara berkala setiap jam melalui frekuensi VHF Channel 16.
KSOP Khusus Batam bersama sejumlah instansi terkait juga melakukan pemantauan intensif terhadap kondisi perairan guna mendeteksi kemungkinan dampak lingkungan akibat tenggelamnya kapal.
Potensi pencemaran dari bahan bakar maupun muatan kapal yang terbawa arus laut menjadi salah satu fokus pengawasan.
“Kami terus memantau perkembangan situasi serta berkoordinasi dengan seluruh pihak terkait guna mengantisipasi dampak yang mungkin timbul akibat tenggelamnya kapal dan muatannya,” kata Takwim.
Hingga saat ini penyebab pasti kebocoran yang mengakibatkan Golden Star 1 tenggelam masih dalam proses investigasi. Sementara itu, operasi pemantauan jalur pelayaran serta pendataan kontainer yang hanyut terus dilakukan untuk memastikan keselamatan pelayaran dan meminimalkan gangguan terhadap arus logistik di kawasan Selat Singapura. (*)

