Minggu, 5 Juli 2026

Kisruh Pesparawi Kepri Jadi Sorotan, Panitia Diminta Bertanggung Jawab Penuh

Berita Terkait

Moody Arnold Timisela.

batampos – Kisruh gagalnya keberangkatan sebagian kontingen Pesta Paduan Suara Gerejawi (Pesparawi) Kepulauan Riau ke ajang Pesparawi Nasional XIV di Manokwari, Papua Barat, terus menuai sorotan. Kali ini, kritik datang dari Pendiri Rumpun Melanesia Bersatu Kepulauan Riau sekaligus tokoh masyarakat Indonesia Timur, Moody Arnold Timisela, yang meminta panitia bertanggung jawab penuh atas peristiwa tersebut.

Moody menilai insiden itu tidak seharusnya terjadi mengingat Pesparawi merupakan agenda nasional yang telah lama dijadwalkan. Menurutnya, seluruh persiapan, terutama terkait keberangkatan peserta, seharusnya telah direncanakan secara matang jauh sebelum hari pelaksanaan.

“Pesparawi adalah kegiatan nasional yang sudah terjadwal. Persiapan peserta membutuhkan waktu yang panjang, latihan dilakukan dengan sungguh-sungguh demi bisa tampil membawa nama Kepulauan Riau di tingkat nasional. Seharusnya kegiatan seperti ini didukung penuh dan dipersiapkan secara profesional,” ujarnya, Sabtu (4/7).

Ia mempertanyakan buruknya pengelolaan administrasi perjalanan hingga menyebabkan peserta hanya dapat terbang sampai Jakarta dan gagal melanjutkan perjalanan ke Manokwari. Menurutnya, persoalan tiket tidak boleh dianggap sebagai kesalahan sepele karena berdampak langsung pada hilangnya kesempatan kontingen Kepri mengikuti perlombaan.

“Kenapa tiket tidak diurus dengan baik? Kenapa harus terjadi seperti ini sampai keberangkatan dibatalkan dan peserta hanya sampai Jakarta? Ini sangat kami sesalkan karena perwakilan Kepulauan Riau akhirnya tidak bisa mengikuti ajang nasional,” katanya.

Moody menegaskan Ketua Panitia beserta seluruh jajaran penyelenggara harus bertanggung jawab atas kekisruhan tersebut. Ia juga berharap kasus itu menjadi pelajaran agar penyelenggaraan kegiatan berskala nasional ke depan dilakukan dengan perencanaan yang lebih matang dan pengawasan yang lebih ketat.

Selain meminta pertanggungjawaban panitia, Moody juga mendukung langkah aparat kepolisian mengusut tuntas kasus tersebut. Menurutnya, proses hukum harus berjalan secara transparan agar penyebab kegagalan keberangkatan dapat terungkap dan pihak yang lalai mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Kasus ini bermula ketika 27 peserta kategori Paduan Suara Wanita (PSW) kontingen Pesparawi Kepri gagal berangkat ke Manokwari setelah mengalami kendala tiket penerbangan lanjutan dari Jakarta. Akibat persoalan tersebut, para peserta kehilangan kesempatan tampil di Pesparawi Nasional XIV meski telah menjalani latihan intensif selama berbulan-bulan.

Lembaga Pengembangan Pesparawi Daerah (LPPD) Kepri kemudian menjelaskan bahwa dana pembelian tiket telah dibayarkan kepada pihak penyedia jasa perjalanan. Di sisi lain, pihak travel mengakui adanya kelalaian dalam pengurusan tiket yang diduga melibatkan kerja sama dengan seorang oknum, sehingga tiket peserta tidak seluruhnya dapat diterbitkan sesuai jadwal keberangkatan.

Perkembangan terakhir, kasus tersebut telah ditangani Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Kepulauan Riau. Penyidik meningkatkan penanganan perkara ke tahap penyidikan setelah menemukan dugaan tindak pidana serta telah memeriksa sejumlah saksi. Hingga kini proses hukum masih terus berjalan untuk mengungkap pihak yang paling bertanggung jawab atas gagalnya keberangkatan kontingen Pesparawi Kepulauan Riau ke ajang nasional. (*)

UPDATE