Minggu, 5 Juli 2026

Impor Batam Naik 14,21 Persen, Ekspor Turun 3,06 Persen

Berita Terkait

Aktivitas bongkar muat di Pelabuhan Batu Ampar. Foto. Cecep Mulyana/ Batam Pos

batampos – Kinerja perdagangan luar negeri Kota Batam pada lima bulan pertama 2026 menunjukkan tren yang beragam. Di satu sisi, nilai ekspor mengalami penurunan dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Namun, di sisi lain, aktivitas impor justru mencatat pertumbuhan yang cukup signifikan.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Batam, Eko Aprianto, mengatakan nilai ekspor Batam sepanjang Januari hingga Mei 2026 mencapai US$7,859 miliar. Angka tersebut turun 3,06 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2025 yang mencapai US$8,108 miliar.

Penurunan tersebut terutama dipicu melemahnya ekspor sektor nonmigas. Nilai ekspor nonmigas tercatat turun 3,53 persen, dari US$7,775 miliar menjadi US$7,501 miliar.

“Penurunan ekspor kumulatif Januari-Mei 2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya disebabkan oleh menurunnya ekspor sektor nonmigas,” ujar Eko, Minggu (5/7).

Secara bulanan, nilai ekspor Batam pada Mei 2026 tercatat sebesar US$1,468 miliar, turun 18,34 persen dibandingkan Mei 2025. Ekspor nonmigas mencapai US$1,369 miliar, atau turun 21,20 persen, sedangkan ekspor migas justru meningkat 64,99 persen menjadi US$98,45 juta.

Komoditas ekspor nonmigas terbesar masih didominasi kelompok mesin dan peralatan listrik (HS 85) dengan nilai US$4,058 miliar, atau berkontribusi 54,09 persen terhadap total ekspor nonmigas Batam.

Selanjutnya disusul mesin dan pesawat mekanik (HS 84) sebesar US$932,69 juta, berbagai produk kimia (HS 38) sebesar US$417,62 juta, barang dari besi dan baja (HS 73) sebesar US$368,59 juta, serta minyak dan lemak hewan atau nabati (HS 15) senilai US$343,51 juta.

Komoditas lainnya yang turut memberikan kontribusi ialah perangkat optik, tembakau, kakao, bahan kimia organik, hingga plastik dan barang dari plastik.

Di tengah penurunan ekspor secara umum, komoditas ikan dan udang (HS 03) justru menunjukkan kinerja positif. Nilai ekspornya mencapai US$8,47 juta, meningkat 28,34 persen dibandingkan periode Januari-Mei 2025.

Dari sisi negara tujuan, Amerika Serikat masih menjadi pasar ekspor terbesar Batam. Selama Januari-Mei 2026, nilai ekspor ke negeri tersebut mencapai US$2,083 miliar, atau berkontribusi 26,50 persen terhadap total ekspor Batam.

Meski demikian, nilainya turun 0,95 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Posisi kedua ditempati Singapura dengan nilai ekspor US$1,858 miliar atau menyumbang 23,63 persen. Selanjutnya disusul India, Tiongkok, Jepang, Australia, Belanda, Filipina, Malaysia, dan Uni Emirat Arab. Kesepuluh negara tersebut menyerap sekitar 81,87 persen total ekspor Batam selama lima bulan pertama 2026.

Sementara itu, berdasarkan pintu keluar barang, Pelabuhan Batu Ampar masih menjadi gerbang utama ekspor dengan nilai mencapai US$5,396 miliar. Disusul Pelabuhan Sekupang sebesar US$1,238 miliar, Pelabuhan Kabil/Panau US$743,51 juta, Pelabuhan Belakang Padang US$365,32 juta, dan Bandara Hang Nadim US$97,22 juta. Kelima pintu tersebut menyumbang 99,74 persen dari total nilai ekspor Batam.

Berbeda dengan ekspor, nilai impor Batam justru mengalami peningkatan yang cukup tinggi. Selama Januari-Mei 2026, nilai impor mencapai US$8,295 miliar, atau naik 14,21 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Pada Mei 2026 saja, nilai impor tercatat sebesar US$2,105 miliar, meningkat 19,81 persen dibandingkan Mei 2025. Impor nonmigas naik 19,26 persen menjadi US$2,085 miliar, sedangkan impor migas melonjak 132,48 persen menjadi US$19,69 juta.

Golongan barang impor terbesar masih didominasi mesin dan peralatan listrik (HS 85) dengan nilai US$3,567 miliar, atau menyumbang 43,30 persen dari total impor nonmigas.

Adapun Tiongkok menjadi negara asal impor terbesar Batam sepanjang Januari-Mei 2026 dengan nilai mencapai US$3,525 miliar, atau berkontribusi 42,50 persen terhadap total impor.

Dari sisi pelabuhan, Pelabuhan Batu Ampar kembali menjadi pintu utama masuknya barang impor dengan nilai US$5,355 miliar, diikuti Pelabuhan Sekupang US$2,359 miliar, Pelabuhan Kabil/Panau US$323,96 juta, Pelabuhan Pulau Sambu US$238,93 juta, serta Bandara Hang Nadim US$9,52 juta.

Data BPS menunjukkan bahwa tingginya aktivitas impor masih didorong oleh kebutuhan bahan baku dan barang modal untuk mendukung aktivitas industri manufaktur yang menjadi tulang punggung perekonomian Kota Batam. (*)

UPDATE