
batampos – Deretan kebaya dengan sentuhan modern memenuhi Atrium Timur Megamall Batam Centre, Minggu, 12 Juli 2026. Busana-busana itu bukan sekadar karya fesyen, tetapi menjadi medium untuk menghidupkan kembali semangat nasionalisme dan melestarikan warisan budaya Indonesia melalui Fashion Show dan Kompetisi Desain & Model Kebaya dan Kerudung Fatmawati Trophy 2026 tingkat Provinsi Kepulauan Riau.
Kegiatan yang digagas PDI Perjuangan itu menjadi bagian dari rangkaian peringatan Bulan Bung Karno sekaligus mengenang jasa Fatmawati Soekarno, perempuan yang menjahit Sang Saka Merah Putih menjelang Proklamasi Kemerdekaan Indonesia kala itu.
Ketua DPD PDI Perjuangan Kepulauan Riau Soerya Respationo mengatakan kompetisi tersebut merupakan agenda nasional yang diselenggarakan serentak di berbagai provinsi.
Menurut dia, kegiatan itu tidak hanya menampilkan karya fesyen, tetapi juga menjadi upaya membangkitkan kembali kecintaan masyarakat terhadap kebaya dan kerudung sebagai identitas budaya bangsa.
”Kami ingin menggelorakan semangat tradisional dan nasional melalui kebaya dan kerudung. Inspirasi utamanya berasal dari Ibu Fatmawati, istri Bung Karno sekaligus ibu dari Ibu Megawati Soekarnoputri,” kata Pria yang kerap disapa Romo Soerya itu kepada Batam Pos usai acara.
Ia mengatakan Fatmawati memiliki peran penting dalam sejarah Indonesia karena menjahit sendiri bendera Merah Putih yang dikibarkan saat Proklamasi 17 Agustus 1945.
Karena itu, menurut Soerya, semangat perjuangan Fatmawati ingin diterjemahkan dalam bentuk karya fesyen yang tetap berpijak pada budaya Nusantara namun mampu mengikuti perkembangan zaman.
”Kebaya dan kerudung kita tampilkan dengan desain yang kreatif, inovatif, tetapi tetap berakar pada budaya Indonesia,” ujarnya.
Kompetisi di Batam menjadi ajang seleksi peserta Kepulauan Riau menuju tingkat nasional. Tiga peserta terbaik dipilih untuk mewakili Kepri pada Fatmawati Trophy 2026 tingkat nasional yang dijadwalkan berlangsung pada 8 Agustus 2026.
Wakil Ketua Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Anak DPD PDI Perjuangan Kepulauan Riau Silvia Hilda Kusumaningtyas mengatakan sebanyak 18 desainer mengikuti seleksi tingkat provinsi.
Dari penilaian dewan juri, nantinya dipilih tiga desainer terbaik dan sembilan model yang akan diberangkatkan mewakili Kepulauan Riau.
”Akan dipilih tiga desainer dan sembilan model untuk mengikuti kompetisi tingkat nasional,” kata Silvia.
Menurut dia, penilaian tidak hanya didasarkan pada keindahan busana, tetapi juga filosofi yang diangkat dalam setiap rancangan.
Juri menilai sejauh mana karya mampu merepresentasikan nilai perjuangan Fatmawati, kekayaan budaya Nusantara, hingga harmonisasi desain, kerapian, dan estetika busana.
”Yang dinilai bukan hanya indah, tetapi juga memiliki filosofi, terinspirasi dari kebaya Ibu Fatmawati, penyusunan desain yang baik, sederhana, rapi, dan memiliki karakter,” ujarnya.
Silvia mengatakan kompetisi tersebut merupakan kali pertama digelar di Kepulauan Riau sebagai bagian dari seleksi nasional.
Ia berharap kegiatan serupa dapat menjadi ruang bagi generasi muda, khususnya perempuan, untuk semakin mencintai kebaya dan wastra Nusantara di tengah derasnya arus fesyen modern.
”Kekayaan budaya bangsa ini sangat indah dan harus terus dilestarikan. Kami berharap generasi muda, khususnya perempuan, semakin mencintai warisan budaya Indonesia,” katanya. (*)

