Senin, 13 Juli 2026

BP Batam Bangun Bundaran Raja Ali Marhum

Berita Terkait

Kepala Badan Pengusahaan (BP) Batam Amsakar Achmad

batampos – Kepala Badan Pengusahaan (BP) Batam Amsakar Achmad memulai program penataan wajah Kota Batam dengan melakukan peletakan batu pertama pembangunan Bundaran Raja Ali Marhum Pulau Bayan Yang Dipertuan Muda V, Jumat (10/7).

Prosesi tersebut turut dihadiri Wakil Kepala BP Batam Li Claudia Chandra, jajaran Anggota/Deputi BP Batam, Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kota Batam, serta pengurus Lembaga Adat Melayu (LAM) Kota Batam.

Bundaran yang berada di ruas jalan menuju Bandara Internasional Hang Nadim itu menjadi bagian dari program penataan ruang untuk menghadirkan kota yang lebih tertata, bersih, dan menarik. Ke depan, bundaran tersebut diproyeksikan menjadi salah satu ikon baru yang menyambut wisatawan maupun investor yang datang ke Batam.

Penataan Kota Jadi Prioritas

Amsakar mengatakan penataan wajah kota merupakan salah satu agenda utama pemerintah untuk meningkatkan kualitas kawasan perkotaan sekaligus memperkuat daya saing Batam.

Menurutnya, Presiden Prabowo Subianto dalam berbagai kesempatan menekankan pentingnya menjaga kebersihan, keindahan, dan keteraturan kota sebagai cerminan kemajuan daerah.

“Presiden berulang kali mengingatkan agar kabupaten dan kota dirawat dengan baik. Jangan sampai kumuh, semrawut, dipenuhi reklame yang tidak tertata ataupun kabel yang mengganggu estetika kota. Karena itu, kemarin ada gerakan Indonesia Asri dan di Batam kita laksanakan melalui gerakan Batam Asri,” ujar Amsakar.

Ia menegaskan pembangunan Bundaran Raja Ali Marhum menjadi langkah awal penataan taman dan bundaran di berbagai titik Kota Batam.

“Untuk menjadikan kota ini indah dan bagus, salah satu ikhtiar kita adalah menata taman dan bundaran yang ada di Batam agar memiliki desain yang mencerminkan identitas daerah. Hari ini kita sedang membangun sejarah baru bagi Kota Batam,” katanya.

Dibangun Lewat Program CSR

Amsakar menjelaskan pembangunan bundaran dilakukan melalui kolaborasi BP Batam dengan dunia usaha melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) PT Uma Graha Berkah.

Dengan skema tersebut, pembangunan dapat dilaksanakan tanpa menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) maupun anggaran BP Batam.

“Kami menyampaikan apresiasi kepada para pelaku usaha yang telah menyambut baik gagasan untuk bersama-sama menata wajah Kota Batam,” ujarnya.

Angkat Sejarah dan Budaya Melayu

BP Batam juga melibatkan Lembaga Adat Melayu (LAM) Kota Batam dalam penyusunan konsep pembangunan, mulai dari penamaan hingga penyempurnaan desain arsitektur.

Melalui proses tersebut, nama bundaran yang semula direncanakan sebagai Bundaran Hang Nadim disepakati menjadi Bundaran Raja Ali Marhum Pulau Bayan Yang Dipertuan Muda V sebagai bentuk penghormatan kepada tokoh bersejarah di Kepulauan Riau.

Menurut Amsakar, keputusan tersebut mencerminkan komitmen BP Batam untuk menjaga keseimbangan antara pembangunan modern dengan pelestarian sejarah dan budaya Melayu.

Tugu Mengusung Simbol Melayu

Dari sisi desain, tugu utama mengadopsi bentuk tanjak, penutup kepala tradisional Melayu yang melambangkan kehormatan, kewibawaan, dan jati diri masyarakat Melayu.

Selain itu, unsur tepak sirih juga dihadirkan sebagai simbol penyambutan tamu yang mencerminkan keramahan budaya Melayu.

“Kita ingin semangat historis tetap hidup, namun pada saat yang sama Batam harus terus melangkah menjadi kota yang maju tanpa meninggalkan jati diri negerinya. Inilah yang ingin kita hadirkan melalui Bundaran Raja Ali Marhum Pulau Bayan,” jelas Amsakar.

Melalui program penataan tersebut, BP Batam berharap Batam semakin memperkuat posisinya sebagai kota yang inovatif, berkelanjutan, dan berbudaya, sekaligus menjadi destinasi unggulan bagi investasi, perdagangan, dan pariwisata di Indonesia. (*)

UPDATE

Play sound