
batampos – Wali Kota Batam sekaligus Kepala Badan Pengusahaan (BP) Batam, Amsakar Achmad, akhirnya kembali ke Batam setelah menunaikan ibadah haji di Tanah Suci.
Di balik kepulangannya yang lebih cepat dari jadwal semula, tersimpan berbagai pengalaman spiritual yang menurutnya menjadi pelajaran hidup yang tak terlupaka.
Amsakar mengaku merasakan langsung kemudahan demi kemudahan selama menjalankan Rukun Islam ke Lima. Ia meyakini, seluruh kelancaran tersebut tidak lepas dari doa masyarakat Batam yang sejak awal ia minta sebelum berangkat ke Tanah Suci.
”Saya ingin menyampaikan terima kasih kepada seluruh warga Batam. Setiap pertemuan sebelum berangkat, saya selalu memohon doa agar perjalanan ibadah ini dimudahkan Allah SWT. Dan apa yang saya harapkan itu benar-benar saya rasakan di Tanah Suci,” ujar Amsakar, Rabu (10/6).
Menurutnya, berbagai kemudahan datang tanpa diduga. Mulai dari urusan sederhana seperti makanan dan kebutuhan sehari-hari hingga bantuan saat menjalankan puncak ibadah haji di tengah jutaan jamaah.
”Saat bangun pagi tiba-tiba sudah ada teman yang menyiapkan kopi. Saat makan, ada saja yang mengambilkan nasi atau sarapan. Rasanya luar biasa,” katanya.
Pengalaman lain yang masih diingatnya terjadi saat perjalanan menuju lokasi lempar jumrah. Di tengah padatnya arus jamaah, sejumlah orang yang bahkan tidak dikenalnya tiba-tiba membantu membuka jalan.
”Saat berjalan ramai-ramai menuju jumrah, tiba-tiba ada teman-teman dari luar, badannya tegap, kulit hitam, rambut keriting, membantu memberikan jalan. Saya merasa itu pengalaman yang luar biasa,” ujarnya.
Lupa Handuk Ihram hingga Ponsel Tertinggal
Di balik pengalaman spiritual yang mendalam, Amsakar juga mengalami sejumlah kejadian lucu selama berada di Tanah Suci.
Pada hari kedua, ia sempat mondar-mandir dari kamar ke kamar mandi karena merasa kehilangan handuk.
”Saya bolak-balik mencari handuk. Teman-teman sampai bertanya, ada apa Pak Wali? Ternyata saya lupa kalau handuk ihram yang saya cari itu masih saya pakai di pinggang,” katanya sambil tertawa.
Tak hanya itu, ia juga pernah meninggalkan telepon genggam di sebuah area duduk dekat hotel.
Setelah hampir satu jam berlalu, Amsakar kembali ke lokasi tersebut dan mendapati ponselnya masih berada di tempat yang sama tanpa tersentuh.
”Saya tinggal hampir satu jam. Ketika kembali, handphone itu masih ada dan aman,” ujarnya.
Pengalaman serupa dialami sang istri saat kehilangan jam tangan di Madinah. Jam tersebut sempat dinyatakan hilang dan dianggap tidak akan ditemukan lagi.
Namun keesokan harinya, pihak hotel berhasil menemukan dan mengembalikan jam tersebut.
”Harganya mungkin tidak seberapa, tapi itu hadiah ulang tahun dari anak kami. Alhamdulillah bisa ditemukan kembali,” katanya.
Dorong Kursi Roda Istri Keliling Ka’bah
Salah satu pengalaman paling berkesan bagi Amsakar adalah saat mendampingi istrinya selama menjalankan ibadah.
Ia mengaku hampir seluruh rangkaian thawaf dan sa’i dilaluinya sambil mendorong kursi roda sang istri.
”Saya thawaf tujuh putaran, sa’i tujuh kali dari Shafa ke Marwah sambil mendampingi istri. Justru saya merasa banyak kemudahan ketika mendorong istri,” katanya.
Menurut Amsakar, sejak awal keberangkatan ia memang berniat menggunakan momen ibadah haji untuk memberikan waktu sepenuhnya kepada sang istri, sesuatu yang sulit dilakukan ketika menjalankan tugas sebagai kepala daerah.
”Di Batam sangat sedikit waktu kami untuk berkomunikasi dan bersama. Karena itu saya niatkan selama di Tanah Suci untuk melayani istri sebaik mungkin,” ujarnya.
Ia bahkan mengaku berjalan puluhan kilometer selama prosesi haji, mulai dari Arafah, Muzdalifah, Mina, Jamarat hingga kembali ke Masjidil Haram untuk menjalankan thawaf ifadah. Meski demikian, semangatnya justru terasa berlipat ganda.
”Biasanya saya tidak menyangka bisa sekuat itu. Tapi di sana rasanya semua dimudahkan,” katanya.
Kunjungi Jejak Sejarah Islam
Selain menjalankan ibadah wajib, Amsakar juga menyempatkan diri mengunjungi sejumlah lokasi bersejarah di Madinah.
Di antaranya Universitas Islam Madinah, Masjid Quba, Masjid Qiblatain, Jabal Uhud hingga museum yang menyimpan mushaf Al-Qur’an kuno peninggalan masa awal Islam.
Ia mengaku takjub saat melihat langsung Al-Qur’an yang ditulis lebih dari 1.400 tahun lalu.
”Tulisannya masih Arab gundul, belum ada tanda baca dan hukum bacaannya seperti sekarang. Itu pengalaman yang luar biasa,” katanya.
Amsakar juga mengunjungi kawasan Wakaf Utsman bin Affan yang kini berkembang menjadi aset produktif dan dimanfaatkan untuk kepentingan umat.
Menurutnya, perjalanan tersebut memberikan banyak pelajaran tentang sejarah, pengorbanan dan nilai-nilai kemanusiaan dalam Islam.
Didoakan Imam di Masjid Qiblatain
Pengalaman spiritual lain yang membekas baginya terjadi saat berada di Masjid Qiblatain.
Usai melaksanakan salat sunnah tahiyatul masjid, seorang imam sekaligus guru agama setempat meminta untuk bertemu dengannya.
Melalui penerjemah, imam tersebut kemudian menyampaikan keinginannya untuk mendoakan Amsakar secara khusus.
”Saya hanya bisa mengamini doa beliau. Itu menjadi pengalaman spiritual yang sangat berkesan bagi saya,” katanya.
Pulang Lebih Awal karena Tugas Negara
Di tengah berbagai pengalaman tersebut, Amsakar memutuskan untuk kembali ke Indonesia lebih cepat dari jadwal semula.
Sebelumnya, ia mengajukan cuti menunaikan ibadah haji sejak 20 Mei hingga 25 Juni 2026. Namun kemudian cuti tersebut direvisi menjadi 20 Mei hingga 9 Juni 2026 sehingga pada 10 Juni dirinya sudah kembali aktif menjalankan tugas pemerintahan.
Amsakar menjelaskan, ada dua alasan utama yang membuat dirinya memutuskan pulang lebih awal. Pertama, seluruh rangkaian ibadah haji wajib telah selesai dilaksanakan.
Kedua, adanya agenda penting yang harus dihadiri terkait tugasnya sebagai Kepala BP Batam, yakni Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi VI DPR RI.
”Pelaksanaan seluruh rukun dan wajib haji sudah selesai. Kemudian ada agenda penting BP Batam berupa RDP dengan Komisi VI DPR RI. Atas pertimbangan itu saya mengajukan permohonan untuk pulang lebih awal,” ujarnya.
Ia mengaku sempat meminta izin langsung kepada pihak penyelenggara haji sebelum memutuskan kembali ke Indonesia lebih cepat.
Meski harus meninggalkan Tanah Suci lebih awal, Amsakar mengaku bersyukur seluruh rangkaian ibadah berjalan lancar dan penuh kemudahan.
”Saya sampai pada satu kesimpulan. Mudahkan urusan orang lain, maka insya Allah pada waktunya Allah akan memudahkan urusan kita. Itu yang benar-benar saya rasakan selama berada di Tanah Suci,” kata Amsakar.(*)

