
batampos – Semangat Hari Kartini tidak selalu hadir lewat pidato atau seremoni saja. Kadang, ia hidup di balik perempuan yang bertahan dan tidak kenal kata menyerah.
Di tengah lingkungan birokrasi yang selama ini identik dengan dominasi laki-laki, nama Ariastuty Sirait tumbuh menjadi salah satu perempuan yang menempati posisi strategis di Kota Batam. Ia kini menjabat sebagai Deputi Bidang Pelayanan Umum Badan Pengusahaan (BP) Batam.
Namun, posisi itu tidak datang dalam waktu singkat. Perjalanan Ariastuty, atau yang akrab disapa Tuty, justru dimulai dari masa-masa panjang yang tidak mudah. Selama 14 tahun, ia bekerja sebagai staf pemasaran di BP Batam tanpa kenaikan jabatan.
Perempuan yang dikenal ramah, murah senyum, dan mudah bergaul itu mengaku pernah berada di titik lelah. Namun, ia memilih bertahan dan terus berusaha keras
“Karier saya tidak naik-naik selama 14 tahun. Saya masih staf pemasaran saja,” kata Tuty saat berbagi kisah hidupnya dalam momentum Hari Kartini.
Tuty bergabung di Otorita Batam pada 2001, setelah sebelumnya bekerja sebagai Marketing Executive di PT Petrolog Harapan Abadi Semesta pada 2000 hingga 2001.
Ia datang dengan bekal pendidikan yang tidak sedikit. Tuty pernah menempuh Bachelor of Marketing and Hospitality Management di Edith Cowan University Australia. Ia juga menyelesaikan pendidikan S1 Ekonomi Manajemen di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Ibnu Sina dan S2 Manajemen di Universitas Batam.
Meski memiliki latar belakang pendidikan yang baik, Tuty mengaku jalan kariernya tidak langsung melesat.
Selama bertahun-tahun, ia hanya menjadi staf. Namun di balik posisi yang terlihat biasa itu, ia tetap dipercaya memegang berbagai tugas penting dari satu pimpinan ke pimpinan lain.
“Tahun 2014 baru saya mendapatkan kenaikan jabatan sebagai eselon IV atau Kasi Penyiapan Media Promosi,” ujarnya.
Sejak saat itu, kariernya mulai bergerak cepat. Pada 2015 hingga 2016, ia dipercaya sebagai Pelaksana Tugas Kasi Penyiapan Media Promosi. Kemudian pada 2016 hingga 2019, ia resmi menjabat Kasi Penyiapan Media Promosi.
Kariernya kembali naik saat dipercaya sebagai Pelaksana Tugas Kasubdit Promosi pada 2019 hingga 2020. Setelah itu, ia menjabat Kepala Bagian Promosi pada 2020 hingga 2021.
Tahun 2021 menjadi titik penting dalam perjalanan kariernya saat ia dipercaya menjadi Kepala Biro Humas, Promosi, dan Protokol BP Batam.
Tidak berhenti di situ, Tuty kembali mendapat promosi hingga akhirnya dipercaya menjadi Deputi Bidang Pelayanan Umum BP Batam.
“Ini merupakan percepatan karier saya. Karena 14 tahun tidak jadi apa-apa dan masih staf saja. Tiga tahun setelah itu saya diangkat eselon III, lalu tiga tahun kemudian jadi eselon II,” katanya.
Ia mengaku bersyukur atas amanah yang diberikan. “Saya bersyukur atas amanah ini,” ujarnya.
Perjalanan panjang itu membuat Tuty percaya bahwa kesabaran dan konsistensi adalah modal penting dalam hidup. Baginya, keberhasilan tidak harus datang cepat. Kadang seseorang memang harus menunggu lebih lama untuk sampai di waktu yang tepat
“Jangan menyerah. Jalani hidup ini dengan legowo, bersyukur, dan selalu memberikan yang terbaik,” katanya.
Sebagai perempuan yang bekerja di lingkungan yang banyak diisi laki-laki, Tuty mengaku tidak pernah merasa terintimidasi. Ia justru merasa nyaman bekerja bersama laki-laki karena sejak kecil terbiasa menjadi sosok yang tomboy.
“Saya nyaman bergaul sama laki-laki dan bisa jadi diri sendiri,” katanya.
Menurutnya, perempuan tidak perlu merasa rendah diri hanya karena berada di lingkungan yang keras. “Apapun yang laki-laki lakukan, sebisa mungkin saya berusaha bisa lakukan,” ujarnya.
Meski begitu, Tuty tidak menampik bahwa ia pernah diremehkan hanya karena dirinya perempuan.
“Pernah dong, pasti kita semua pernah mengalami,” katanya.
Namun, ia memilih melawan rasa diremehkan itu dengan kerja keras dan doa. “Kita doa dalam hati, Tuhan saya diremehkan, saya mau memberikan yang terbaik. Tolong Tuhan bela saya dan jangan mempermalukan saya,” katanya.
Baginya, doa adalah senjata paling ampuh. Ia percaya, suatu saat orang yang pernah meremehkan akan melihat sendiri hasil dari kerja keras dan ketekunan.
“Itulah senjata paling ampuh kalau orang meremehkan kita,” ujarnya.
Dalam menjalani hidup, Tuty memiliki prinsip sederhana: one step at a time.
“One step at a time. Satu langkah kita jalanin, satu langkah lagi kita hadapin,” katanya.
Prinsip itu pula yang membuatnya mampu bertahan di tengah tekanan pekerjaan, tuntutan keluarga, hingga ekspektasi publik.
Sebagai perempuan karier, Tuty mengakui menjaga keseimbangan antara pekerjaan dan keluarga bukan hal yang mudah. Namun, ia merasa beruntung memiliki lingkungan keluarga yang sangat mendukung.
“Anak-anak saya sangat pengertian. Suami saya sangat pengertian. Mama saya juga pengertian. Saya banyak dibantu mereka untuk urusan anak-anak dan keluarga,” katanya.
Di tengah jadwal kerja yang padat, ia tetap berusaha hadir untuk keluarganya lewat hal-hal sederhana.
“Setiap pagi saya selalu menyempatkan diri memasak untuk anak-anak. Karena saya merasa itu bisa membunuh rasa bersalah kalau saya tidak ada di dekat mereka,” ujarnya.
Ia juga selalu menyempatkan diri untuk family time bersama keluarga, setidaknya sekali dalam setahun. Bagi Tuty, keluarga adalah tempat pulang yang membuat dirinya tetap kuat.
“Keluarga yang pertama membuat saya bahagia dan nyaman. Kedua para sahabat. Saya punya sahabat sejak zaman sekolah dan masih bertahan sampai sekarang,” katanya.
Di momentum Hari Kartini, Tuty merasa semangat Kartini masih sangat relevan untuk perempuan masa kini.
Baginya, perempuan hari ini bukan lagi soal bisa atau tidak. Tetapi soal bertahan saat keadaan terasa berat.
Menurutnya, Kartini bukan hanya tentang emansipasi, tetapi tentang keberanian untuk bertahan, mandiri, dan tidak menyerah.
“Kartini itu sosok perempuan yang tidak pernah menyerah. Jadi panutan buat saya juga. Saya tidak boleh menyerah dalam hidup ini walaupun terasa sulit,” ujarnya.
Ia juga percaya perempuan tidak harus bekerja dua kali lebih keras dibanding laki-laki untuk diakui. Menurutnya, yang paling penting adalah memberikan yang terbaik.
“Kalau kita sudah memberikan yang terbaik, mau dibandingkan dengan perempuan ataupun laki-laki, tetap saja yang terbaik itu nanti yang akan dipilih,” katanya.
Sebagai perempuan yang kini berada di posisi strategis, Ariastuty juga menitipkan pesan kepada perempuan muda di Batam agar tidak mudah menyerah dan berani mengambil peran besar dalam hidup. Namun, ia mengingatkan bahwa perempuan juga harus berhati-hati dalam memilih pasangan hidup.
“Bagaimanapun nanti perempuan akan menikah. Jangan salah pilih pasangan. Kalau salah pilih itu, bisa berantakan semuanya,” katanya.
Menurutnya, pasangan yang tepat akan menjadi pendukung terbesar bagi perjalanan karier seorang perempuan.
“Kalau sudah dapat pasangan yang tepat dan mendukung, perjalanan karier akan ikut berjalan,” ujarnya.
Di balik posisinya yang tinggi hari ini, Tuty tetap dikenal sebagai sosok yang hangat dan membumi.
Ia bisa bercanda dengan staf, mudah menyapa orang lebih dulu, dan tidak membangun jarak dengan lingkungan sekitarnya. Barangkali itu pula yang membuat sosoknya terasa dekat.
Di Hari Kartini ini, Tuty menunjukkan bahwa perempuan tangguh tidak selalu harus tampil keras. Kadang, perempuan tangguh adalah mereka yang tetap sabar, tetap tersenyum, dan tetap berjalan meski jalannya panjang.
Ketika ditanya siapa perempuan yang paling menginspirasinya, Tuty tidak menyebut tokoh besar. Ia justru menyebut ibunya.
Ibunya hanyalah seorang ibu rumah tangga. Namun, dari sanalah ia belajar tentang keteguhan, tentang cara mendukung keluarga, dan tentang bagaimana perempuan bisa menjadi kuat tanpa harus terlihat keras.
Selain ibunya, ia juga mengaku banyak belajar dari Li Claudia Chandra. Menurutnya, Li Claudia adalah sosok perempuan yang tidak pernah lelah dan tidak pernah berhenti bekerja untuk masyarakat.
“Beliau tidak kenal lelah dan tidak kenal menyerah. Itu menjadi panutan saya,” katanya.
Dan mungkin, empat belas tahun penantian itu adalah bukti bahwa kesabaran kadang bekerja diam-diam.
Bahwa tidak semua hal datang cepat. Tetapi kalau datang di waktu yang tepat, semuanya terasa layak diperjuangkan.
Di akhir cerita, Ariastuty hanya punya satu pesan sederhana untuk perempuan-perempuan muda di Batam.
“Jangan mudah menyerah,” ujarnya.
Karena menurutnya, bahkan ketika seseorang sudah merasa berada di titik paling rendah, selalu ada kemungkinan Tuhan sedang menyiapkan sesuatu yang lebih baik. (*)

