Selasa, 28 April 2026

Dinkes Deteksi 254 Anak Berpotensi Alami Masalah Kejiwaan, Kemungkinan karena Pola Asuh dan Tekanan Akademik

Berita Terkait

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batam Didi Kusmarjadi.

batampos – Tren gangguan kesehatan mental pada anak dan remaja mulai menjadi perhatian serius di Kota Batam. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batam mencatat, dari 9.255 anak usia 7 hingga 18 tahun yang menjalani pemeriksaan deteksi dini kesehatan jiwa pada Januari-Maret 2026, sebanyak 254 anak terindikasi mengalami masalah kejiwaan.

Pemeriksaan tersebut dilakukan melalui skrining di sekolah-sekolah se-Kota Batam menggunakan instrumen Mini Mindhear Youth Scale (MMYS).

Kepala Dinas Kesehatan Kota Batam, Didi Kusmarjadi, mengatakan angka tersebut masih bersifat deteksi awal dan belum bisa dikategorikan sebagai gangguan jiwa, karena harus melalui pemeriksaan lanjutan oleh psikolog maupun psikiater.

“Dari hasil skrining, ada 254 anak atau sekitar 2,7 persen yang terindikasi memiliki masalah kejiwaan. Ini baru deteksi dini, belum terkonfirmasi sebagai gangguan jiwa karena harus ada pemeriksaan lanjutan oleh tenaga ahli,” ujar Didi, Rabu (28/4).

Menurutnya, tren peningkatan gangguan mental pada anak memang terjadi secara global dan mulai terlihat di tingkat daerah. Namun, peningkatan angka yang ditemukan tidak selalu berarti lonjakan kasus, melainkan juga karena sistem deteksi yang kini semakin aktif dilakukan.

“Artinya, kesadaran kita untuk mendeteksi lebih awal semakin baik. Ini sinyal penting bahwa kesehatan mental anak harus menjadi perhatian bersama, bukan hanya urusan sektor kesehatan,” katanya.

Didi menjelaskan, pemerintah daerah telah menyiapkan sejumlah langkah konkret untuk memperkuat upaya pencegahan dan penanganan kesehatan mental anak. Salah satunya melalui penguatan layanan kesehatan jiwa di puskesmas lewat integrasi layanan primer (ILP), termasuk skrining dini bagi anak dan remaja.

Selain itu, Dinkes juga menggencarkan edukasi kepada orang tua melalui posyandu remaja, sekolah, dan komunitas mengenai pentingnya pola asuh positif dan komunikasi yang sehat di rumah.

Pemerintah daerah juga berkolaborasi dengan sektor pendidikan untuk menciptakan lingkungan sekolah yang lebih ramah anak, tidak semata-mata berorientasi pada capaian akademik.

“Kami juga menyediakan layanan konseling dan terus mengampanyekan kesehatan mental untuk mengurangi stigma. Masih banyak kasus yang tidak tertangani karena orang tua atau anak merasa takut dan malu untuk mencari bantuan,” ungkapnya.

Ia menyoroti pola pendidikan saat ini yang masih terlalu menitikberatkan pada nilai akademik sebagai ukuran keberhasilan anak. Menurutnya, jika kondisi ini terus dibiarkan, ada risiko lahirnya generasi yang unggul secara akademis tetapi rapuh secara mental.

“Kalau keberhasilan anak hanya diukur dari angka di rapor, kita berisiko menciptakan generasi yang cerdas secara kognitif, tapi rapuh secara mental. Anak bisa tumbuh dengan tekanan berlebihan, takut gagal, dan minim kemampuan mengelola emosi,” katanya.

Padahal, lanjut Didi, tantangan kehidupan saat ini justru membutuhkan generasi yang tangguh, adaptif, dan memiliki kecerdasan emosional yang baik.

Ia menegaskan, keberhasilan anak tidak boleh hanya dilihat dari prestasi akademik, tetapi juga dari kesehatan mental, kebahagiaan, serta kemampuan menghadapi tekanan hidup.

“Peran orang tua sangat penting. Pola asuh yang hangat, komunikasi terbuka, dan penerimaan tanpa syarat jauh lebih menentukan masa depan anak dibanding sekadar nilai tinggi,” tutupnya.(*)

UPDATE